Dirjen Vokasi Beber Lulusan Vokasi Kerap Dikomplain Dunia Kerja

Oct 11, 2021 18:47
Dirjen Vokasi  saat membuka Diklat Upskilling dan Reskilling Guru SMK Berstandar Industri Kerjasama antara Direktorat Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha Dunia Industri (MITRAS DUDI) dengan Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Otomotif dan Elektronika (BBPPMPV BOE) Malang (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)
Dirjen Vokasi  saat membuka Diklat Upskilling dan Reskilling Guru SMK Berstandar Industri Kerjasama antara Direktorat Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha Dunia Industri (MITRAS DUDI) dengan Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Otomotif dan Elektronika (BBPPMPV BOE) Malang (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

JATIMTIMES - Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan VokasiKementerian Pendidikan Kebudayaan Ristek dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) Wikan Sakarinto menyampaikan, jika lulusan pendidikan vokasi banyak mendapat komplain dari industri atau pengguna tenaga kerja. 

Pasalnya, lulusan pendidikan vokasi selama ini kurang mempunyai softskill maupun karakter. Industri selama ini banyak yang komplain jika lulusan kurang memiliki daya tahan tekanan dalam dunia kerja dan juga belum memiliki kemampuan komunikasi dengan baik. Selain itu, industri juga menilai mereka kurang dapat bekerjasama dengan tim, termasuk juga kurang memiliki inisiatif.

Menurut Wikan, para guru selama ini lebih pada porsi mengajarkan hardskill. Guru- guru lupa mengajarkan soft kill dan karakter. Padahal, dalam prakteknya, setelah diterjunkan dalam dunia kerja ternyata tidak selalu sama dengan praktek di laboratorium.

Fungsi guru atau paradigma guru terus berubah. Guru tidak harus mengajar terus, tapi juga sebagai mentor dan fasilitator, coach, bahkan guru juga bisa sebagai friends atau parent. Di mana, anak belajar secara mandiri karena dibangkitkan oleh guru, baik itu mimpinya, talentanya, dan diberi challenge, arah. Selain itu, guru harus mengetahui media sosial dengan cara memasukkan komponen-komponen kreatifitas pembelajaran secara populer, mengingat anak hidup lebih lama di medsos dari pada di kelas.

"Faktor sukses itu 80 persen lebih karena SDM-nya. Roadmap, sop, strategi peralatan infrastruktur fasilitas gedung itu cuma 20 persen. Kita berinvestasi besar untuk menciptakan guru-guru yang maindsetnya berubah. Guru-guru yang paham teaching factory. Project Based Learning masuk dalam kurikulum disusun bersama industri, semua harus dipahami oleh guru," tutur Wikan saat membuka Diklat Upskilling dan Reskilling Guru SMK Berstandar Industri Kerjasama antara Direktorat Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha Dunia Industri (MITRAS DUDI) dengan Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Otomotif dan Elektronika (BBPPMPV BOE) Malang, Senin (11/10/2021).

Terkait dengan komplain pengguna tenaga kerja ini, akan dientaskan dengan memaksimalkan link and match dengan dunia usaha dunia industri, tidak hanya seremoni pada Memorandum of Understanding (MoU) saja. Tapi juga dengan link and match 8+i dengan keterlibatan dunia kerja di segala aspek dalam penyelenggaraan pendidikan vokasi

"Keterlibatan dunia kerja dalam penyelenggaraan pendidikan vokasi sangat penting untuk menyusun kurikulum bersama, memasukkan materi industri," terang Wikan.

Dalam pembukaan Diklat Upskilling dan Reskilling Guru SMK, pihaknya juga meminta agar para guru tidak hanya diberi asupan hardskill. Namun, lebih pada bagaimana memiliki softskill dan karakter yang itu kemudian bisa ditularkan kepada siswa sehingga membuatnya menjadi SDM yang berkualitas dan memiliki kompetensi.

"Jadi kita tidak ingin menghasilkan guru berkompeten yang mencetak tukang saja, tapi lebih pada guru bisa mencetak tukang yang memiliki jiwa kewirausahaan," ungkapnya.

Disampaikan juga dalam pembukaan diklat tersebut, mengenai Link and Match 8+i, yang pertama adalah mengetahui bagaimana menyusun kurikulum bersama dengan caranya memasukkan materi industri ke dalam kurikulum, memasukkan materi uji kompetensi dan tahu bagaimana memasukkan atau strategi mengajar soft skill.

Kedua, Pembelajaran berbasis project riil dari dunia kerja (Project based Learning) untuk memastikan hardskill akan disertai softskill dan karakter yang kuat. Ketiga, jumlah peran guru dan instruktur industri dan ahli dari dunia kerja ditingkatkan secara signifikan minimal 50 jam per semester, per program studi.

Kemudian yang  kempat adalah magang atau praktik kerja di industri minimal 1 semester. Kelima, adalah sertifikasi kompetensi yang sesuai standar dan kebutuhan dunia kerja. Yang keenam guru secara rutin mendapatkan update teknologi dan pelatihan di dunia kerja atau balai. 

Ketujuh, melakukan riset terapan mendukung teaching factory, teaching industri yang bermula dari kasus atau kebutuhan nyata di industri atau masyarakat. Kedelapan, komitmen serapan lulusan oleh dunia kerja bukan mengharuskan, akan tetapi tetap berkomitmen.

Terakhir adalah i. Berbagai kemungkinan lain, kerja sama yang dapat dilakukan dengan dunia kerja antara lain melalui beasiswa, dan atau ikatan dinas, donasi dalam bentuk peralatan laboratorium, atau dalam bentuk lainnya.

Topik
pendidikan vokasijokowi kunjungi korban gempadunia industri
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru