Penjelasan Kemendagri soal Anak Asal Tuban yang Susah Dapat Akta Kelahiran karena Namanya Sangat Panjang

Oct 06, 2021 12:42
Akta kelahiran. (Foto: Merdeka.com)
Akta kelahiran. (Foto: Merdeka.com)

JATIMTIMES - Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Zudan Arif Fakrulloh memberikan tanggapan terkait keluhan orang tua asal Tuban, Jawa Timur, yang kesulitan membuat akta kelahiran. Kesulitan pembuatan akta kelahiran itu disebabkan nama anaknya yang terlalu panjang. 

Menurut Zudan, dengan nama yang panjang, terdiri dari 19 kata, ada kesulitan dalam teknis administrasi kependudukan. Sehingga, ia menyarankan untuk menyingkat nama anak atau mengganti dengan nama yang lebih pendek. 

"Karena Kolom di KK, KIA, akta lahir,  untuk ijazah, paspor dan seterusnya nanti tidak muat," ujar Zudan dalam keterangan tertulisnya dikutip Rabu (6/10/2021). 

"Penduduk kami sarankan agar mau menyingkat nama anak atau ganti nama yang lebih pendek," lanjut Zudan. 

Untuk kejadian di Tuban itu, Zudan mengakui pihaknya mengalami kesulitan. Sebab, orang tua si anak juga tidak berkenan untuk mengganti nama sang anak. 

Lebih lanjut, Zudan menjelaskan pedoman pemberian nama anak berdasarkan sistem aplikasi administrasi kependudukan (SIAK). Menurut dia, di dalam sistem aplikasi SIAK itu maksimal nama menggunakan 55 huruf sehingga akan muat dalam penulisan pada KK, e-KTP dan akta kelahiran. 

Zudan juga menyatakan bahwa pemerintah memahami hak orang tua dalam memberikan nama kepada anak mereka.  Kendati demikian, pemerintah memberikan pengertian bahwa sistem administrasi kependudukan memiliki batas. 

"Hak orang tua dalam memberi nama. Yang perlu dipahami adalah ruang dalam KIA, KK, e-KTP, akta kelahiran itu ada batasnya. Sehingga kita tidak bisa memenuhi keinginan masyarakat semuanya," tambah Zudan.

Sebelumnya, pasangan suami-istri yakni Arif Akbar dan Suci Nur Aisiyah asal Desa Ngujuran, Kecamatan Bancar, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, kesulitan membuat dokumen kependudukan untuk anaknya. Sudah 3 tahun sejak dilahirkan, anak kedua pasangan tersebut belum memiliki akta kelahiran maupun dokumen kependudukan lainnya yang sah dari pemerintah. 

Kesulitan pembuatan akta kelahiran disebabkan karena nama sang anak terlalu panjang. Anak yang lahir pada tanggal 6 Januari 2019 lalu itu bernama 'Rangga Madhipa Sutra Jiwa Cordosega Akre Askhala Mughal Ilkhanat Akbar Sahara Pi-Thariq Ziyad Syaifudin Quthuz Khoshala Sura Talenta'. 

Arif sendiri mengaku sudah berkali-kali mengurus dokumen akta kelahiran ke Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Tuban. Namun hal tersebut belum juga membuahkan hasil. 

"Saya sudah berjuang 3 tahun mengurus akta kelahiran ke dinas. Setiap kali datang, kami disuruh menunggu sampai terakhir diberikan solusi mengganti nama anak," kata Arif Akbar. 

Bahkan di tengah kebuntuan usaha mendapatkan dokumen akta kelahiran sang anak, pasangan tersebut sampai mengirim surat kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dalam surat yang ditulis tangan itu, Arif menceritakan keluhannya selama 3 tahun ia kesulitan mendapatkan akta kelahiran untuk anaknya yang kedua. 

Arif terpaksa menulis surat terbuka itu dengan harapan anaknya bisa mendapatkan akta kelahiran sebagai bentuk pengakuan sah dari negara. Terlebih 2 tahun lagi anaknya itu sudah masuk jenjang pendidikan di sekolah.

Topik
Anak sulit dapat akta kelahiranKasus anak di TubanKemendagri RIPutri Nia Daniaty
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru