Hari Batik Nasional, Warga Kampung Budaya Polowijen Gelar Festival Batik Ken Dedes Secara Virtual

Oct 02, 2021 17:49
Warga di sekitar Kampung Budaya Polowijen (KBP) yang sedang membatik bersama dalam acara Festival Batik Ken Dedes, Sabtu (2/10/2021). (Foto: Tubagus Achmad/JatimTIMES)
Warga di sekitar Kampung Budaya Polowijen (KBP) yang sedang membatik bersama dalam acara Festival Batik Ken Dedes, Sabtu (2/10/2021). (Foto: Tubagus Achmad/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Hari Batik Nasional yang setiap tahunnya digelar 2 Oktober menjadi momentum warga Kampung Budaya Polowijen (KBP) menggelar Festival Batik Ken Dedes secara virtual.

Wakil Ketua KBP Titik Nur Fajriyah mengatakan, setiap pekannya di KBP memang terdapat kegiatan membatik dan pada momentum Hari Batik Nasional  yang jatuh Sabtu membuat KBP sebagai Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang menggelar acara membatik.

Dalam gelaran Festival Batik Ken Dedes dengan tema "Warisi Tradisi Lestarikan Budaya" terdapat dua kegiatan, yakni membatik bersama dan fashion show batik. Kegiatan tersebut digelar di dua tempat berbeda dan dihadiri oleh beberapa orang yang menggeluti dunia batik. Diantaranya, Titik Nur Fajriyah sebagai guru batik KBP, Yuharsita penggerak Bengkel Batik Malang dan Hendrawati perintis Indo Batik Singosari Malang.

"Kita gelar secara virtual event, jadi ada dua stage yakni yang pertama di studio, kemudian di sini (diluar studio) live stage-nya membatik dari awal hingga akhir," ungkap Titik kepada JatimTIMES.com, Sabtu (2/10/2021).

Untuk kegiatan membatik di studio ditayangkan melalui live streaming Youtube Inspire Media TV dan kegiatan yang dapat dilihat secara langsung di gazebo-gazebo workshop membatik di KBP.

"Ini juga ada asesor untuk membatik khusus kompetansi bidang mencanting dari Bengkel Batik Malang," kata Titik.

Ibu-ibu di KBP sedang membatik.

Lebih lanjut, untuk peserta yang mengikuti rangkaian Festival Batik Ken Dedes berasal dari ibu-ibu komunitas di KBP yang sebelumnya sudah pernah menjalani pelatihan membatik. Selain itu, terdapat anak-anak yang merupakan penari tradisional di KBP juga diberikan pelatihan membatik. Hal itu bertujuan untuk regenerasi agar dapat diteruskan oleh kaum-kaum muda.

"Sebenarnya lebih dari 40 orang. Cuma ini yang benar-benar aktif hanya 10 orang. Kebetulan juga ada anak-anak SMK 5 yang kebetulan magang di sini ada 4 anak," terang Titik.

Sementara itu, pihaknya menuturkan untuk produksi kain batik masih berupa lembaran yang berdasarkan pesanan. Namun, pihaknya juga kerap kali membuat batik dengan motif khas KBP untuk stok persediaan.

"Karena sebelum pandemi dulu banyak kunjungan terutama dari mancanegara yang sering tertarik membeli. Maka kita berjaga untuk itu," ujar Titik.

Untuk motif khas dari KBP sudah ada dua yang telah dipatenkan, yakni Motif Windu Ken Dedes atau yang biasa disebut Ndedes dan Motif Ken Dedes yang itu sebenarnya kata Titik menggambarkan kondisi KBP atau profil Ken Dedes itu sendiri.

Lebih lanjut, terdapat motif batik lainnya yang mengacu pada penataan Polowijen. "Ada motif lain terkait nama Polowijen sendiri seperti ada topeng, polowijo, watu kenong, dan motif kontemporer lainnya," tutur Titik.

Terakhir, pihaknya berharap melalui Festival Batik Ken Dedes ini dapat menggugah ibu-ibu dan anak muda di KBP dapat berkreasi lagi agar terus lestari. Selain itu agar masyarakat juga memiliki semangat dan motivasi untuk melestarikan budaya melalui membatik, menari dan membuat topeng khas KBP.

Topik
hari batik nasionaljuru kunci candiKampung Budaya Polowijen
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru