Ahli Ilmu Jawa Angkat Bicara Ihwal Wacana Pergantian Nama Kabupaten Malang

Sep 28, 2021 20:09
Salah satu destinasi wisata di Kabupaten Malang (foto: Hendra Saputra/MalangTIMES)
Salah satu destinasi wisata di Kabupaten Malang (foto: Hendra Saputra/MalangTIMES)

JATIMTIMES - Guru spiritual atau ahli ilmu Jawa  asal Malang, Eyang Djati Kusuma angkat bicara ihwal adanya wacana pergantian nama Kabupaten Malang ke Kabupaten Kepanjen yang viral beberapa hari ini.

Eyang Djati Kusuma mengaku bahwa wacana pergantian nama itu kurang dinamis. Sebab, ada makna yang hilang ketika pergantian nama benar-benar dilakukan.

“Saya hanya bisa berwacana, Kepanjen itu dari kata Panji yang artinya Satriya. Tapi kok rasanya kurang dinamis, karena sebutan nama itu terkait psikologis penyebut,” terang Eyang Djati Kusuma, Selasa (28/09/2021).

Dari isu pergantian nama tersebut, Eyang Djati Kusuma justru memberikan saran jika memang wacana itu akan dilakukan. Salah satunya yakni Kabupaten Singhasari, karena nama tersebut juga menjadi nama besar dari peradaban Malang saat masih era kerajaan.

“Kabupaten Malang itu sektor ekonominya antara lain adalah pariwisata. Rasanya lebih mantap jadi Kabupaten Singhasari,” usul Eyang Djati.

Pria yang pernah masuk dalam partai politik itu juga menceritakan arti nama dari Malang itu sendiri. Karena pada abad XII Malang sempat disebut Malai Kuciswara yang artinya negeri yang subur makmur.

Lalu nama Malai Kuciswara diubah oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk menangkap Untung Suropati.

"Belanda merubah jadi Malang karena untuk nangkap Untung Suropati dan kawan-kawannya," ungkap Eyang Djati.

Untuk mengubah nama khususnya bagi sebuah wilayah juga tidak bisa sembarang dilakukan. Terlebih wilayah tersebut usianya sudah ribuan tahun.

“Sekarang era informasi, untuk merubah nama gampang populer. Nama itu sabda, upacara ritualnya harus ada ditempat leluhur kita yang tertua,” tegas Eyang Djati.

Bahkan Eyang Djati Kusuma juga mengumpamakan sebuah nama akan mempengaruhi peruntungan seseorang. Apalagi pergantian nama itu juga dilakukan bagi sebuah wilayah.

“Saya waktu lahir nama saya Sukoto, tapi saya sakit-sakitan. Lalu oleh orang tua diubah menjadi Sudjathi, dan sejak itu rejeki orang tua melesat sehingga bisa menghidupi adik-adik saya yang jumlahnya 10 orang,” pungkasnya.

Topik
Monitoring tata kelola pemerintahanKabupaten Malangpilah sampahBerita MalangBerita Jatim
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru