Awas Usia 21-30 Rentan Quarter Life Crisis, Begini Tips Mengatasinya

Sep 27, 2021 18:35
webinar bertajuk “How to Deal Quarter Life Crisis on Pandemic COVID-19" yang digelar Dema UIN Malang (Ist)
webinar bertajuk “How to Deal Quarter Life Crisis on Pandemic COVID-19" yang digelar Dema UIN Malang (Ist)

JATIMTIMES - Para mahasiswa atau kalian yang berusia 21-30 tahun, rentan dan bisa jadi mengalami quarter life crisis. Hal itu terungkap dalam Webinar yang digelar Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN) Malang.

Dalam webinar bertajuk “How to Deal Quarter Life Crisis on Pandemic COVID-19". Dua Narasumber berkompeten, yakni Ilhamuddin Nukman SPsi MA, Dosen Jurusan Psikologi FISIP Universitas Brawijaya (UB) dan Safhira Alfar founder sekaligus presiden dari beasiswa 10.000 dihadirkan dalam webinar ini.

Ilhamuddin Nukman, menjelaskan, jika quarter life crisis menurut Robbins dan Wilner adalah krisis identitas yang berasal dari transisi dunia anak ke dunia dewasa. Quarter life crisis memiliki tiga fase-fase krisis, yaitu: menjadi anak-anak untuk mempersiapkan diri untuk sekolah; menjadi remaja mandiri yang siap memasuki dunia kerja dan menjadi dewasa berkarir, berkeluarga, sendiri.

2

Quarter life crisis dapat juga dikatakan sebagai fenomena yang dialami orang dewasa awal yang berusia 21 -30 tahun. Banyak mereka anak kuliahan semester 3 sampai lulus mengalami quarter life crisis. Hal ini ditandai dengan situasi atau keadaan cemas, takut terhadap masa depan, rasa insecure, ada perasaan khawatir. 

"Orang yang berhadapan dengan quarter life crisis ini adalah mereka yang tidak menyiapkan diri secara sepenuh hati serta tidak mempersiapkan diri secara sadar untuk menghadapi masa depannya. Kalian harus mempunyai peta jalan untuk mencapai impian, harapan, dan cita-cita kalian," terangnya Ilhamuddin.

Kunci untuk tidak mudah merasa insecure itu, dijelaskannya adalah dengan mengetahui diri sendiri, baik itu kelebihan maupun kekurangan. Kemudian, juga terdapat tiga hal untuk be the best person, yaitu, personal branding atau memberikan merek terhadap diri kita. Kemudian, konsisten. Konsisten merupakan kunci di dalam melakukan segala kegiatan dan yang terakhir adalah mempunyai rasa berjuang, dimana memperjuangkan sesuatu bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk orang lain.

"Kalau kalian tidak persiapkan dari sekarang maka hati-hati, jangan-jangan anda termasuk salah satu orang yang akan berhadapan dengan quarter life crisis. Tapi bagi kamu yang sudah sadar untuk menjadi apa, memutuskan untuk melakukan apa, dan mengikuti cara apa, maka kalian akan mudah untuk keluar menghadapi quarter life crisis ini," tuturnya.

1

Sementara itu, Safhira Alfa menambahkan, jika seseorang membandingkan diri dengan orang lain, maka energi negatif akan menyerap ke pikiran dan hati. Hal itu memperbesar potensi stress dan terserang oleh quarter life crisis.

“Pada intinya untuk menanggapi quarter life crisis adalah percaya sama diri sendiri dan tau mau ngapain, Don’t just be yourself but be the best version of yourself,” pungkasnya.

Topik
over thinkingWebinar UIN MalangUIN MalikiUIN Malang
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru