Merger Kampus Swasta Tak Sehat, Begini Kata Ketua Aptisi Jatim

Sep 27, 2021 14:51
Ilustrasi kampus PTS (riaucoid)
Ilustrasi kampus PTS (riaucoid)

JATIMTIMES - Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Jawa Timur, Prof Sukowiyono, menyampaikan pendapat mengenai akselarasi program penggabungan atau penyatuan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang kurang sehat dalam hal tata kelola atau menajemen Tahun 2021. 

Menurutnya, akselarasi program penggabungan dua PTS merupakan hal yang sulit. Sebab, masing-masing memiliki visi dan misi yang berbeda, meskipun dengan ujung yang sama untuk mencetak lulusan berkualitas. 

Selain itu, PTS juga memiliki yayasan masing-masing dan juga ada yang dimiliki oleh ormas, seperti itu Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), PGRI dan yang lainnya. 

Dalam proses penyatuan, tentunya banyak hal yang harus dipertimbangkan dan harus dimusyawarahkan. Prosesnya sendiri pastinya akan membutuhkan waktu yang panjang. 

"Makanya itu, pendekatannya tidak mudah, visi misinya bisa beda. Banyak hal yang dipertimbangkan selain itu, yayasannya ikut apa tidak, karyawannya ikut apa tidak ? (Bila disatukan)," jelas Sukowiyono, Senin (27/9/2021).

Maka dari itu, pihaknya berpendapat, jika akuisisi adalah hal yang tepat untuk menyelamatkan PTS yang kurang sehat. Mencarikan pemodal baru menurut Sukowiyono akan lebih bagus dari pada harus menyatukan dua PTS yang membutuhkan banyak pertimbangan dan proses panjang.

"Banyak PTS yang kolaps kemudian diambil alih dan justru jadi lebih bagus. Saya sudah berkali-kali bilang," papar Sukowiyono.

Lebih lanjut dijelaskan Sukowiyono, jika Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemenristek Dikti) memang sempat menyampaikan jika PTS yang mahasiswa kurang dari seribu, untuk dilebur. Akan tetapi, dikatakan Suko, jangan hanya melihat dari segi jumlah mahasiswa semata. Sebab, terdapat juga PTS yang mahasiswanya sedikit, tapi justru kualitasnya bagus.

"Di situ mungkin yayasannya kuat, meskipun mahasiswanya per prodi hanya 100, tapi kualitasnya bagus. Banyak di Jawa Tengah sana. Poltek yang bagus meskipun mahasiswa sedikit. Jadi untuk dilebur, per kasus lah, jadi jangan rata, mahasiswa kurang seribu harus dilebur, nggak mesti begitu," tutur Suko.

Sementara itu, dijelaskan Suko, untuk di Kota Malang, saat ini tidak ada PTS yang masuk dalam program akselerasi pengabungan tersebut. Mayoritas PTS di Kota Malang, masih dalam kondisi bagus dan sehat dari berbagi aspek.

"Di Malang ada 50-an kampus . Nyatanya mereka masih bisa bertahan, meskipun pandemi. Ya mungkin saja ada yang menurun, tapi yayasannya kuat, nggak ada masalah," ungkapnya.

Seperti diketahui sebelumnya, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek) mengadakan akselerasi program penggabungan atau penyatuan PTS (PTS) tahun 2021. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan kualitas kelembagaan perguruan tinggi di Indonesia.

Diketahui jumlah PTS di bawah naungan Kementerian Dikbudristek mencapai 3.000 PTS. Akan tetapi, banyaknya PTS tersebut tak diimbangi pemerataan kualitas. Masih banyak PT yang memiliki kualitas rendah, seperti halnya mahasiswa yang sedikit, serta tata kelola menajemen yang kurang memadai. Hal tersebut kemudian berimbas pada lulusan yang turut tak memadai.

Penyatuan atau pengabungan tersebut, menurut Direktur Kelembagaan Ditjen Diktiristek Ridwan, berimbas positif dalam tata kelola perguruan tinggi. Sebab, dengan gabungan manajemen dari PTS, akan menghasilkan PTS baru dan manajemen yang baru. Hal ini termasuk juga sumberdaya manusia potensial yang ada. 

Dari tahun 2015 hingga 2020, penggabungan PTS hanya menghasilkan 179 PTS gabungan dari 458 PTS. Adapun target pemerintah mengurangi hingga 1000 PTS tapi jumlah PTS belum mengalami pengurangan yang signifikan.

Topik
kampus malangSukowiyonobst pemprov jatim
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru