Penuhi Standar Produk, 60 Pembatik Kabupaten Malang Ikuti Sertifikasi

Sep 26, 2021 19:58
Salah satu peserta sertifikasi batik.(Foto:Istimewa).
Salah satu peserta sertifikasi batik.(Foto:Istimewa).

JATIMTIMES - Sebanyak 60 pembatik tulis dari Kabupaten Malang mengikuti ujian sertifikasi P3 dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Batik. Sertifikasi berlangsung di pendapa Kelurahan Turen, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, selama dua hari, yakni Sabtu (25/9/2021) dan Minggu (26/9/2021). 

Ke 60 pembatik tulis yang berasal dari Kabupaten Malang ini tergabung di dalam Paguyuban Hasta Padma.

 Kegiatan sertifikas tersebut dilaksanakan dengan protokol kesehatan (prokes) yang ketat untuk mendukung upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang dalam masa PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) ini. 

"Semestinya jika kondisi normal bisa dilakukan sehari. Namun demi memutus penyebaran covid-19, kami lebih memilih melaksanakannya secara bergelombang dengan patuh prokes ketat,” ujar Ita Fitriyah, korlap Kegiatan Sertifikasi Pembatik Tulis Kabupaten Malang 2021.

Langkah sertifikasi ini dilakukan guna menstandarkan kualitas sumber daya manusia (SDM), khususnya yang berprofesi sebagai seorang pembatik tulis. Sebab,  nantinya sertifikasi juga akan berkorelasi dengan standar produk yang dihasilkan. 

"Alhamdulillah, Jabupaten Malang termasuk yang hampir tiap tahun mendapat jatah sertifikasi pembatik dari BNSP-LSP Batik meskipun tahun lalu harus tertunda karena pandemi dan kali ini kami, Hasta Padma, mandiri melakukan sertifikasi ini,” ujar wanita yang juga pemilik batik Lintang-Karlos ini.

Antusiasme mengikuti sertifikasi ini tampak dari para pembatik, mulai dari Ampelgading, Dampit, Poncokusumo, Singosari, hingga Kasembon. Langkah ini memang dilakukan Paguyuban Hasta Padma guna memeratakan kualitas dan standar batik tulis di Kabupaten Malang.

Salah satunya peserta adalah Muslikah (39). Pembatik tulis peserta sertifikasi dari Desa Banjarejo RT 3/RW 2, Kecamatan Pakis, ini menjadi salah satu peserta yang mencuri perhatian penguji.  Itu lantaran dalam perjalanan menuju tempat uji kompetensi di pendapa Kelurahan Turen, Muslikah mengalami kecelakaan.

”Saya tadi kecelakaan ketika perjalanan dan saya ngotot tetap ikut ujian sertifikasi karena ini kesempatan yang jarang saya dapatkan, apalagi gratis,” ujar Muslikah yang mengalami luka dan dijahit di kakinya.

Muslikah  akhirnya diberi waktu ujian sertifikasi lebih awal dari jadwalnya dengan maksud agar segera bisa pulang dan istirahat  tanpa mengurangi bobot materi ujian yang diberikan.

Peserta ujian sertifikasi dengan jarak terjauh adalah peserta dari Kecamatan Kasembon, wilayah paling barat Kabupaten Malang, Hanem Ekowati. Dia  berasal dari Desa Kajang Sukosari.

Pemkab Malang sendiri memberikan fasilitasi dan support melalui Dinas Dinas Perindustrian dan Perdagangan dalam sertifikasi pembatik ini.

Topik
sertifikasi pembatikPembangunan TNBTSBerita Malang
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru