Ramai Warganet Kaitkan Pendarahan Otak Tukul Arwana dengan Vaksin Covid-19, Ini Kata Komnas KIPI

Sep 24, 2021 12:35
Tukul Arwana (Foto: Detik.com)
Tukul Arwana (Foto: Detik.com)

JATIMTIMES -Komedian Tukul Arwana kini tengah berjuang melawan pendarahan otak setelah dioperasi selama 2 jam. Saat ini Tukul sedang menjalani perawatan intensif di RS Pusat Otak Nasional, Cawang, Jakarta Timur.

Tak lama setelah informasi itu muncul ke publik, sejumlah warganet justru mengaitkan pendarahan otak yang dialami Tukul adalah efek pasca vaksinasi Covid-19. "Habis divaksin kok jadi begini?" tulis  pengguna Twitter @dn467627. 

"Kan habis divaksin, pendarahan otak? Semoga sembuh mas tukull," ujar akun @daya_love11.

Kendati demikian, ada pula warganet yang mengingatkan agar kondisi tersebut tidak disangkut pautkan dengan vaksin. Hal itu justru membuat sebagian orang takut divaksin yang merupakan upaya pemerintah untuk menghadapi pandemi Covid-19.

"Jangalah dikait-kaitkan, gini kan banyak yg takut divaksin, kita doakan aja mas tukul bisa segera pulih," tandas akun @prettyas_123.  

Seperti diketahui, pada 18 September 2021 lalu, Tukul baru saja menjalani vaksinasi Covid-19. Hal itu diketahui melalui akun Instagramnya @tukul.arwanaofficial. 

Lantas apakah benar pendarahan otak yang diderita Tukul ada kaitannya dengan vaksin Covid-19? 

Terkait dugaan itu, Komnas KIPI pun langsung angkat bicara. "Apabila melihat kejadian 3 hari setelah vaksin dan ada riwayat hipertensi, kolesterol, kelebihan berat badan, dan faktor predisposisi lainnya, maka sangat mungkin tidak ada keterkaitan KIPI yang dialami beliau terkait vaksin," kata Ketua Komnas KIPI, Prof Dr dr Hinky Hindra Irawan Satari, SpA(K) dikutip dari wawancara eksklusif detik.com.

"Namun investigasi saya yakin sedang dilakukan komda DKI yang apabila telah lengkap akan kita audit bersama dengan Komnas, kita tunggu ya," sambung dokter Hinky.

Untuk diketahui, pemantauan vaksin secara historis menunjukkan bahwa efek samping umumnya terjadi dalam waktu 3-7 hari setelah menerima dosis vaksin. Biasanya KIPI serius terjadi saat orang tersebut punya riwayat penyakit berat dan tidak melaporkan sebelum vaksinasi.

Dikutip dari laman Perhimpunan Dokter Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), KIPI diklasifikasikan serius jika menimbulkan kematian, kebutuhan untuk rawat inap, dan gejala sisa yang menetap serta mengancam jiwa. Reaksiitu cukup jarang terjadi dan meliputi kejang, trombositopenia, episode hipotonik hiporesponsif, dan anafilaksis.

Dalam banyak kasus, reaksi tersebut juga jarang terjadi dan bersifat sementara, serta tidak mengakibatkan masalah kesehatan jangka panjang.

Topik
tukul arwanaega prayudi
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru