Melihat Koleksi Kuno Pengobatan ODGJ di Museum Kesehatan Jiwa RSJ Lawang

Sep 18, 2021 17:19
Replika batang pohon untuk pasung kaki yang dibuat oleh pihak RSJ Lawang pada tahun 2009 untuk tujuan edukasi. (Foto: Imarotul Izzah/JatimTIMES)
Replika batang pohon untuk pasung kaki yang dibuat oleh pihak RSJ Lawang pada tahun 2009 untuk tujuan edukasi. (Foto: Imarotul Izzah/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Sebuah kesempatan berharga bagi tim JatimTIMES untuk bisa mengunjungi Museum Kesehatan Jiwa RSJ Lawang, Kabupaten Malang. Salah satu tempat yang tepat untuk berwisata sekaligus mengedukasi diri soal kesehatan jiwa. Di dalamnya terdapat berbagai koleksi unik yang berhubungan dengan kesehatan jiwa sejak zaman Belanda. 

Museum Kesehatan Jiwa ini terletak tidak jauh dari RSJ dr Radjiman Wediodiningrat. Yakni di Krajan Utara, Desa Sumber Porong, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Menempati rumah kuno namun masih begitu bersih dan terawat. Ketika memasuki kawasan museumnya, terlihat museum ini dikelola dengan baik, bersih dan penuh dengan benda-benda bersejarah. 

Baca Juga : Kisah Pangeran Benowo, Putra Joko Tingkir Sebarkan Agama Islam di Jombang

Tim JatimTIMES didampingi pemandu museum bernama Totok yang dengan ramah menjelaskan semua koleksi di sana. Di ruangan pertama, pengunjung bakal langsung disambut oleh dua patung yang memakai seragam dokter RSJ Lawang pada tahun 1912, lengkap dengan tas kunonya. Begitu memukau dan memberikan kesan kuno yang begitu kuat dengan kondisi barang yang cukup terawat. 

"Berdirinya RSJ dr Radjiman Wediodiningrat ini tanggal 23 Juni 1902 dan  Museum RSJ Lawang diresmikan tahun 2009 oleh dirjen pelayanan medik," ujar Totok kepada tim JatimTIMES.

Di sini pengunjung juga dikenalkan dengan tokoh-tokoh penting dalam kesehatan jiwa. Antara lain The Godfather of Indonesian Psychiatry atau Bapak Psikiater Indonesia Prof Kusumanto Setyonegoro, Bapak Psikologi Indonesia Prof Slamet Iman Santoso, hingga dr Radjiman Wediodiningrat. 

Setelah itu, berbelok ke kanan, pengunjung akan  merasakan bagaimana suasana ruang direktur. Lengkap dengan mesin ketik kuno, telepon kuno, hingga lonceng kuno. 

Saat lonceng kuno dicoba  dibunyikan, bunyinya sangat nyaring dan khas. Dulunya, lonceng kuno ini digunakan untuk memanggil staf. 

Di sini juga tersedia berbagai buku atau literatur tebal berbahasa Inggris dan Belanda. Di ruangan ini pengunjung dapat melihat foto-foto para direktur RSJ Lawang sejak zaman Belanda hingga saat ini.

Berlanjut ke ruangan ketiga, pengunjung cukup dibuat kaget dengan beragam koleksi piringan hitam atau vinyl lengkap dengan pemutarnya. Sekaligus juga terdapat proyektor pemutar film kuno yang masih tampak keasliannya. 

"Proyektor itu sebagai bagian dari terapi ODGJ (orang dalam gangguan jiwa, red). Musik perangkatnya ada untuk piringan hitam itu. Juga sebagian dari terapi. Itu untuk terapi pada zaman dulu," terang Totok. 

Selanjutnya, tim JatimTIMES menyusuri ruangan keempat yang didalamnya terdapat beberapa koleksi menarik yang merupakan bukti bagaimana treatment untuk para ODGJ zaman dahulu. 

Pertama, terdapat bath up yang dulunya digunakan untuk menenangkan pasien yang gaduh dan gelisah dengan berendam dalam air hangat. Metode ini disebut dengan terapi hidrotermal. Suhu air diubah-ubah untuk menyembuhkan pasien.

Lalu, yang membuat suasana semakin terasa bagaimana para ODGJ dipasung yakni terdapat replika potongan batang pohon yang digunakan untuk memasung para ODGJ. Replika ini sengaja dibuat dengan tujuan untuk edukasi kepada masyarakat bahwa pemasungan atau segala tindakan pengikatan dan pengekangan fisik ini termasuk penelantaraan yang tidak boleh terjadi karena bertentangan dengan rasa kemanusiaan.

Untuk mengetahui secara langsung bagaimana rasa yang dirasakan oleh para ODGJ ketika dipasung, pengunjung diperbolehkan untuk memasung kaki kita selama 10 menit. 

Untuk tujuan edukasi,  juga terdapat koleksi pasung besi dan rantai kaki yang pernah digunakan ODGJ asal Kabupaten Trenggalek pada tahun 2008 lalu. 

Beberapa tempat di situ membuat suasana sedikit mencekam. Pasalnya, di ruangan ini juga terdapat pisau pemotong otak penanda aktivitas penelitian pada tahun 1929 hingga 1940 dulu. 

Tidak berhenti di situ. Ada juga electro convulsive therapy atau ECT yang merupakan suatu terapi dengan mengalirkan arus listrik tegangan rendah melalui elektroda di kepala pasien dengan depresi berat.

Baca Juga : Kunjungi Vaksinasi di UB, Gubernur Minta Para Nakes Berdiri Sikap Sempurna

 

Namun, alat-alat yang digunakan untuk terapi ini merupakan perangkat terapi yang digunakan pada zaman dahulu dan dilakukan oleh tenaga medis yang berpengalaman dangan pengawasan ketat terhadap keselamatan pasien.

Dari beberapa koleksi tersebut, ada lagi satu koleksi yang membuat tim JatimTIMES serasa menonton film-film layar lebar, yakni manset. Manset merupakan baju yang pada bagian tangannya berhubungan satu sama lain atau tidak terdapat lubang pada ujung tangannya. 

Manset tersebut dalam bahasa Inggris disebut straitjacket. Baju pengekang ini dulunya digunakan untuk pasien ODGJ yang sulit  dikendalikan.

Tim JatimTIMES Kembali menyusuri dan melihat koleksi yang lain dan tidak kalah memukau. Yakni koleksi janin-janin manusia yang dimasukkan dalam botol dan air khusus dan diperkirakan sudah ada sehak tahun 1905. 

Namun, pada botol tersebut tertulis tidak terdapat keterangan secara pasti perihal kepemilikan, asal mula dan sejak kapan janin manusia itu berada di RSJ Lawang. Tetapi, satu hal yang pasti,  benda tersebut  memberikan pelajaran berharga tentang keagungan ciptaan-Nya.

Sasaran penelusuran selanjutnya yakni sebuah perpustakaan. Di ruangan yang cukup luas ini terdapat banyak sekali koleksi buku tentang sejarah RSJ Lawang hingga tentang dunia kesehatan jiwa lainnya dengan beragam bahasa. Mulai dari bahasa Inggris, Belanda, Prancis, dan lain-lain.

Selain itu, terdapat pajangan mesin ketik kuno, telepon kuno, kotak arsip kuno, hingga mesin hitung. Sebuah koleksi yang sangat estetik dan memiliki nilai sejarah tinggi. 

Sementara itu, terdapat satu ruangan khusus yang berisi peralatan medis zaman dahulu. Mulai dari kursi diagnostik dan terapi gigi, mikroskop tua, gunting-gunting, suntikan medis, dan lain-lain. Semuanya masih terawat dengan baik meski sudah tidak lagi digunakan.

Perlu diingat, seseorang yang mengalami gangguan jiwa bukanlah orang yang tidak bisa berkarya. Seperti halnya orang lain, mereka juga memiliki bakat serta kemampuan dan karya-karya mereka dihadirkan dalam ruangan rehabilitasi di museum ini. Bisa dinikmati karya-karya lukis hasil ekspresi jiwa mereka. Bahkan ada beberapa karya yang memenangkan kompetisi nasional.

Karena para penyandang gangguan jiwa juga dibekali berbagai keterampilan di RSJ Lawang ini, maka macam-macam alat untuk meningkatkan skill juga dipajang. Antara lain alat tenun, alat perajang tembakau, dan piano.

Museum ini selain memperluas cakrawala kita tentang kesehatan jiwa, secara tidak langsung juga mengajak kita menghilangkan stigma, diskriminasi, dan marginalisasi terhadap orang dengan masalah kejiwaan. ODGJ tetap mempunyai hak untuk melanjutkan hidupnya secara bermartabat.

Totok menuturkan, Museum Kesehatan Jiwa RSJ Lawang ini dibuka secara umum dan gratis. Untuk harinya sendiri, Senin sampai Kamis pukul 08.00-16.00 serta Jumat pukul 08.00-11.00 dan 13.00-16.30.

"Kalau pengunjung nggak dibatasi ya. Ada yang dari pendidikan TK, masyarakat umum, siswa SD, SMP, bahkan kemarin terakhir kunjungan dari universitas juga ada.buntuk edukasi. Hanya mengisi buku pengunjung," pungkas Totok.

Topik
Alat kuno untuk pengobatan orang gilaRSJ Dr Radjiman Wediodiningrat Lawangkholiq
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru