Mahasiswa UB Kembangkan Kacang Tunggak untuk Cegah Osteoporosis

Sep 12, 2021 16:03
Elisa Danik Kurniawati, mahasiswa Fakultas Kedokteran, Prodi Kebidanan Universitas Brawijaya (UB) ini lulus dengan capaian Cumlaude dengan IPK 3,81 pada jenjang Magister (Ist)
Elisa Danik Kurniawati, mahasiswa Fakultas Kedokteran, Prodi Kebidanan Universitas Brawijaya (UB) ini lulus dengan capaian Cumlaude dengan IPK 3,81 pada jenjang Magister (Ist)

JATIMTIMES - Lewat penelitian Kacang Tunggak Sebagai Antioksidan Untuk Mencegah Osteoporosis, Elisa Danik Kurniawati, mahasiswa Fakultas Kedokteran, Prodi Kebidanan Universitas Brawijaya (UB) ini lulus dengan capaian Cumlaude dengan IPK 3,81 pada jenjang Magister.

Dijelaskan Elisa, sapaan akrabnya, jika kacang Tunggak memang mempunyai manfaat baik untuk wanita yang mengalami menopause disertai dengan gejala gangguan kesehatan.

Seperti diketahui, jika penurunan hormon yang terjadi pada wanita premenopause maupun pascamenopause berdampak pada kondisi kesehatan, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Efek jangka pendek mencakup gejala vasomotor seperti hot flushes (perasaan panas yang datang tiba-tiba), keringat malam, jantung berdebar atau sakit kepala. 

Sedangkan salah satu efek jangka panjang yang mungkin terjadi pada wanita masa menopause yaitu kerapuhan tulang atau osteoporosis. Osteoporosis merupakan penyakit metabolik tulang yang ditandai oleh menurunnya massa tulang. Osteoporosis disebabkan karena berkurangnya matriks dan mineral tulang disertai dengan kerusakan mikroarsitekturnya, hal ini akan mengakibatkan menurunnya kekuatan tulang sehingga tulang akan mudah patah.

"International Osteoporosis Foundation (IOF) mengungkapkan bahwa satu dari empat wanita di Indonesia dengan rentang usia 50-80 tahun memiliki risiko terkena osteoporosis," jelasnya.

Berkurangnya hormon estrogen pada wanita menopause, membuat fungsi protektifnya pada tulang menurun. Jika hal ini disertai dengan proses penuaan maka dapat meningkatkan agen stress oksidatif sehingga membuat enzim antioksidan di dalam tubuh juga menurun.

Maka dari itu, kacang tunggak menjadi salah satu makanan yang bisa dikonsumsi guna mencegah adanya gangguan kesehatan pada wanita menopause, khususnya osteoporosis. Kacang Tunggak termasuk salah satu fitoestrogen yaitu senyawa turunan tumbuhan yang mirip estrogen.

Sebagai fitoestrogen, kacang tunggak dapat berikatan dengan reseptor estrogen sehingga dapat mengatasi ketidakseimbangan hormon yang terjadi pada masa menopause. Hal ini membantu mengembalikan efek perlindungan pada tulang, dan menjadi antioksidan untuk mencegah penuaan. 

Hal ini dibuktikan pada penelitian Elisa dan teman-teman yang diujicobakan pada tikus betina berusia 15 bulan. Percobaan tersebut dilakukan dengan model ovariektomi untuk mendapatkan kondisi yang serupa dengan menopause pada manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kacang tunggak selama 40 hari dengan berbagai dosis mampu menurunkan ekspresi Rankl (salah satu penanda pengeroposan tulang). 

"Tapi masih perlu uji toksisitas untuk dosis yang optimal, baru dilanjutkan dengan clinical trial pada manusia," jelasnya, Minggu (12/9/2021).

Ke depan, pihaknya berencana terus memperdalam penelitian tentang kacang Tunggak. Jika telah menjalani uji toksisitas, maka produk kacang Tunggak kemudian bisa dibuat dengan bentuk produk lain, yakni berupa ekstrak kering disajikan dalam bentuk tablet hisap agar mudah dikonsumsi. 

"Harapannya pemanfaatan kacang tunggak bisa lebih optimal dengan adanya pembuatan produk berupa tablet hisab tersebut, dan semoga produk ini bisa menjadi terapi herbal atau terapi alternatif dalam mencegah masalah kesehatan pada wanita premenopause," pungkasnya.

Topik
kacang tunggakmencegah osteoporosisUniversitas Brawijayaosteoporosisseru seruan
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru