Inovasi Baru, 5 Mahasiswa UM Ciptakan Monitoring Fermentasi Berbasis IoT

Sep 07, 2021 20:15
Penyerahan GoGrin Kepada mitra di Kelompok tani Ngudi Rahayu
Penyerahan GoGrin Kepada mitra di Kelompok tani Ngudi Rahayu

JATIMTIMES - Ditinjau dari manfaat pupuk organik yang berasal dari kotoran kambing, salah satu tim dari Universitas Negeri Malang yang beranggotakan 5 mahasiswa membuat inovasi “gogrin” untuk membuat pupuk dari kotoran kambing semakin berkualitas.

5 mahasiswa Universitas Negeri Malang yakni Made Radikia Prasanta (Fakultas Teknik), Muhammad Wildan Romiza (Fakultas Teknik), Satria Bayu Asmara (Fakultas Teknik),Widad Lazuardi(Fakultas MIPA), dan Muhammad Akbar Jalal Wisesa (Fakultas Teknik) membuat sebuah alat yang diberi nama gogrin sebagai sebuah alat berupa sensor pemantauan kadar pupuk organik yang terintegrasi dengan Smartphone. 

Petani hanya tinggal menancapkan alat monitoring fermentasi ke pupuk yang sedang difermentasi untuk mendapatkan data seperti kadar C-Organik, Nitrogen, Fosfor, Kalium, Rasio C/N serta Kelembapan. Lalu pada aplikasi akan memberikan sebuah rekomendasi Tindakan yang membuat pupuk tetap terjaga kualitasnya.

Alat Penggiling Kotoran Kambing

Berawal dari observasi yang dilakukan di Desa Kebobang, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang yang memiliki kelompok tani “Ngudi Rahayu”, mereka menemukan sebuah potensi yang ada di dalam kelompok tani. Yakni, pupuk dari kotoran kambing mencapai 2 ton per bulanya. Namun pengolahan pupuk tanpa monitoring yang tepat menjadi sebuah masalah bagi kelompok tani Ngudi Rahayu.

“Pupuk kami memiliki kuantitas yang banyak, namun saya tidak tahu mengenai bagaimana cara mengolah pupuk untuk menjadi sebuah pupuk yang berkualitas tinggi” ujar Yono sebagai ketua kelompok ternak dari kelompok tani Ngudi Rahayu.

Tim yang diketuai oleh Made Radikia Prasanta membuat sebuah alat berupa monitoring fermentasi pupuk dan akan terintegrasi dengan smartphone para peternak dan nantinya akan memberikan sebuah rekomendasi Tindakan sehingga kualitas pupuk tetap terjaga dan sesuai dengan SNI pupuk organik yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pertanian.

Alat Monitoring Fermentasi

“Setelah diamati, pupuk pada kelompok tani Ngudi Rahayu ini masih di bawah SNI pupuk organik yang ditetapkan oleh Kementerian Pertanian,” ucap Made.

Sementara itu, Wildan sebagai pengembang aplikasi GoGrin sekaligus mahasiswa Pendidikan Teknik Informatika Fakultas Teknik UM menambahkan, terciptanya aplikasi gogrin ini tak mudah. Pengembang harus memperhatikan kemudahan akses aplikasi dikarenakan pengguna yang ada dari berbagai macam usia.

“Aplikasi GoGrin ini dibuat sudah dengan memperhatikan kemudahan akses dari pengguna. Karena pengguna yang tak semuanya paham betul akan smartphone, namun dengan tampilan yang mudah dipahami, pengguna dari berbagai macam usia pun akan mudah menggunakanya” ujar Wildan.

Aplikasi monitoring fermentasi

Kelompok tani Ngudi Rahayu pun merasa sangat terbantu akan alat yang diciptakan oleh Made Radikia CS ini. Mereka dapat lebih mudah mengetahui kualitas pupuk sudah baik atau masih kurang.

“Dengan adanya gogrin ini, membuat pupuk yang akan saya jual memiliki kualitas yang lebih baik. Karena lebih terkontrol dari kadarnya, sehingga pelanggan saya semakin suka dengan pupuk yang saya produksi,” ujar Yono.

GoGrin diciptakan di bawah bimbingan dosen Fakultas Teknik Sujito, S.T., M.T., Ph.D. Karya Mahasiswa UM ini memiliki sebuah website yang dapat diakses di gogrin.id sehingga para  produser pupuk organik yang ingin memiliki sebuah alat monitoring dapat melihat katalog dan testimoni yang dapat dilihat di dalam website. 

Topik
ruang mahasiswacalon asn 2021
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru