Uji Coba Sekolah Tatap Muka, Guru di SMPN 20 Tangani Dua Kelas Sekaligus

Sep 06, 2021 16:59
Kondisi kelas yang diajar oleh Erlian Musdalifah saat penerapan uji coba pembelajaran tatap muka hari pertama, Senin (6/9/2021). (Foto: Tubagus Achmad/JatimTIMES)
Kondisi kelas yang diajar oleh Erlian Musdalifah saat penerapan uji coba pembelajaran tatap muka hari pertama, Senin (6/9/2021). (Foto: Tubagus Achmad/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Uji coba Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di hari pertama, cukup membuat guru kewalahan. Hal itu dikarenakan satu orang guru harus menangani dua kelas sekaligus pada saat sekolah tatap muka ini.

Pengalaman itu dialami Erlian Musdalifah, salah seorang guru Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan (PJOK) di SMP Negeri 20, Kota Malang. Dua kelas tersebut merupakan satu kelas yang dijadikan dua dikarenakan menyesuaikan dengan peraturan penerapan PTM di Kota Malang yakni dalam satu kelas hanya bisa memuat 50 persen dari kapasitas awal. 

"Kalau sekarang kan dipakai misalkan kelas 9 masuk semua cuma dibagi dua kelas, dan ini kan kayak wira-wiri ya, jadi dua kelas satu guru, jadi itu agak kesusahannya," ungkapnya kepada JatimTIMES.com, Senin (6/9/2021). 

Erlian mengatakan, sebelum dilakukan uji coba PTM dimulai hari ini Senin (6/9/2021), sebelumnya pernah diberlakukan sistem ganjil genap. "Sebelumnya sudah pernah masuk sih sebenarnya tapi pakai ganjil genap, kalau dulu absensi ganjil genap gitu masuknya," ujarnya. 

Dengan digelarnya uji coba PTM ini, dirinya berharap agar para siswa lebih semangat dan penerapan PTM dapat terus dilakukan dengan memerhatikan protokol kesehatan dengan ketat untuk menghindari adanya penyebaran Covid-19 di sekolah. 

"Biasanya kan kalau daring banyak tugas-tugas yang nggak pernah dikerjakan, kalau sekarang kan mungkin anak-anak lebih semangat lagi dalam mengikuti pembelajaran yang diberikan," tuturnya. 

Lebih lanjut, salah seorang siswi kelas 9A di SMPN 20 Malang yakni Caliya Fasiah Kurniawan (14) mengatakan, dengan adanya uji coba penerapan PTM hari pertama ini dirinya mengaku senang karena dapat berjumpa dengan temannya secara langsung. 

Kemudian untuk materi pelajaran yang diajarkan secara langsung, dirinya mengaku lebih memahami dari pada menggunakan metode dalam jaringan (daring) atau online. "Kalau google meet anak-anak juga banyak yang nggak masuk, izin-izin bolos. Kalau sekarang kan langsung lebih paham materinya," ujarnya.

Caliya juga mengatakan, untuk uji coba PTM hari pertama ini dirinya telah mendapatkan izin dari orang tuanya. Ke depan, dirinya berharap agar PTM dapat terus digelar, terlebih lagi dirinya yang sudah menginjak kelas 9 yang sebentar lagi akan menghadapi ujian sekolah.

"Harapan saya apalagi kelas 9 kan harus lebih matang ya karena ini mau ada ujian-ujian, yaitu membantu lebih memahami materi yang ketinggalan setahun kemarin, kelas 8 juga kemarin masih daring. Ngejar materinya di kelas 9," ucapnya. 

Sementara itu, Wakil Kepala Kesiswaan SMPN 20 Malang Liesdyah Iramita mengatakan, penerapan sistem dua kelas yang ditangani oleh satu guru mengacu pada sistem yang diterapkan di SMPN 5 Malang. "Kebetulan kita nggak punya kepala sekolah, kepala sekolah kita adalah plt dari SMP 5 Pak Burhanuddin dan itu (dua kelas ditangani satu guru, red) sudah diterapkan di SMP 5 sudah jauh-jauh hari," terangnya. 

Liesdyah pun mengakui bahwa sistem dua kelas yang ditangani oleh satu guru masih baru pertama kali diterapkan di SMPN 20 Malang. Pihaknya berharap tidak terjadi kendala yang berarti dalam uji coba PTM ditengah pandemi Covid-19 ini. 

"Acuannya ya di SMPN 5 untuk satu guru yang meng-Handle dua ruang tidak ada kendala, berarti kalau di sini apakah mungkin bisa, jawabannya harus bisa," pungkasnya.

Topik
Sekolah Tatap Mukaliesdyah iramitaelok cahyaniSMPN 20 Kota Malang
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru