Musim Panen, Harga Cabai Rawit di Kabupaten Malang Merosot

Sep 05, 2021 16:58
Lantaran stok melimpah, harga cabai rawit di Kabupaten Malang dikabarkan anjlok.(ilustrasi: Riski Wijaya/MalangTIMES).
Lantaran stok melimpah, harga cabai rawit di Kabupaten Malang dikabarkan anjlok.(ilustrasi: Riski Wijaya/MalangTIMES).

JATIMTIMES - Harga cabai rawit di Kabupaten Malang turun tajam. Dari catatan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Malang, harga cabai rawit turun hingga 59,56 persen. Dari yang semula Rp 54.762 menjadi Rp 22.143.

Dari pantauan Kepala Disperindag Kabupaten Malang, Agung Purwanto, turunnya harga cabai rawit di pasaran kali ini disinyalir karena melimpahnya stok. Di mana hal itu juga dipengaruhi kondisi saat ini yang sedang musim panen cabai. 

"Ya, tidak ada pergerakan harga yang mencolok ya, saat ini masih stabil, hanya saja cabe rawit yang harganya sangat turun yakni sebesar 59,56 persen sebab dalam musim panen kan melimpah jumlahnya, dari harga Rp 54.762 sekarang menjadi Rp 22.143," ujar Agung melalui sambungan telepon, Minggu (5/9/2021).

Selain cabai rawit, pihaknya juga mencatat ada beberapa bahan pokok yang mengalami penurunan harga. Seperti daging sapi, telur ayam, cabai merah besar, bawang merah, tepung dan tomat. Namun penurunannya tidak signifikan dan masih normal.

"Daging sapi turun sebesar 0,3 persen yaitu dari Rp. 109.762 menjadi Rp. 109.429, telur turun 0,9 persen dari Rp. 21.214 menjadi Rp. 21.024, cabe merah besar turun 4,07 persen dari Rp.18.714 menjadi 17.952 per kg, bawang merah, tepung dan tomat juga mengalami penurunan yang tak terlalu signifikan. Lalu yang naik itu ada gula pasir diharga Rp. 12.071, minyak goreng ada kenaikan sebesar 2,48 persen yaitu dari harga Rp. 14.405 menjadi Rp. 14.762," beber Agung. 

Namun secara umum, disimpulkan Agung, selama PPKM Level 3 tak ada dampak kepada pergerakan bahan bahan pangan tersebut. Kecuali Cabe rawit yang terjun bebas penurunannya sebab sedang masa panen sehingga jumlahnya sangat melimpah.

"Dengan keadaan yang stabil seperti ini, kita dapat melihat karena supply dan demandnya seimbang, begitulah hukum pasar," inmbuhnya.

Agung menjelaskan, adanya stabilitas tersebut dinilai memang penting, namun juga tergantung dengan jumlah ketersediaan komoditasnya. Menurutnya, salah satu yang berpengaruh pada stabilitas harga bahan pokok ini, juga dikarenakan ada beberapa hasil produksi bahan pangan Kabupaten Malang yang secara stabil menyuplai beberapa daerah lain, seperti beras. 

"Beras kita kirim keluar daerah, akan tetapi ada yang masuk ke wilayah kita juga, seperti telur dari Blitar dan Bawang dari Pasuruan, sedangkan Kacang Kedelai lebih dominan punya impor," pungkasnya.

Topik
Agung PurwantoCabai rawit dan bawang
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru