Komoditas Pertanian Terdampak Pandemi Covid-19, Ini Saran Pemkab Malang

Sep 04, 2021 14:10
Kepala DTPHP Kabupaten Malang, Budiar Anwar.(Foto: Riski Wijaya/MalangTIMES).
Kepala DTPHP Kabupaten Malang, Budiar Anwar.(Foto: Riski Wijaya/MalangTIMES).

JATIMTIMES - Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang mencatat ada sejumlah komoditas pertanian holtikultura mengalami penurunan selama pandemi Covid-19 berlangsung. Secara umum, Kepala DTPHP Kabupaten Malang, Budiar Anwar mencatat ada penurunan sebesar 20 persen. 

Menurut Budiar penurunan tersebut diakibatkan oleh beberapa hal. Salah satunya, turunnya daya daya beli maupun distribusi. Yang secara tidak langsung terpengaruh oleh pandemi Covid-19. Bukan hanya di dalam negeri, turunnya distribusi juga dirasakan di dalam kebutuhan ekspor. 

Pasalnya beberapa negara harus menyesuaikan terkait batasan-batasan selama pandemi Covid-19 berlangsung. Bahkan ia juga menyebut, bahwa beberapa negara ada yang berpikir dua kali untuk mendatangkan komoditas pertanian dari negar lain. Termasuk dari Indonesia. 

"Tidak bisa dipungkiri harga tanaman pangan holtikultura semua turun selama pandemi Covid-19, penurunan ekspor komoditas pertanian dan perkebunan juga iya, sekitar 20 persen dari sebelum pandemi. Banyak penyerap komoditas di masyarakat seperti kaki lima dan UMKM, serta restoran dan hotel tutup. Selain itu belanja online juga masyarakat sangat berhati-hati karena khawatir melekat di penjualan," ujar Budiar, Sabtu (4/9/2021).

Menyikapi hal tersebut, ia menyarankan agar petani di Kabupaten Malang bisa melakukan pengaturan pada pola tanamnya. Contohnya, beralih ke tanaman yang hasil produksinya masih diminati di pasar ekspor, seperti kopi arabika. Menurutnya, secara umum pergerakan kopi masih cenderung stabil.

"Di pasaran nilai ekspor porang cukup baik, selain itu ada Kopi Arabika. Di mana saat ini kopi robusta harganya anjlok kurang lebih 25 ribu perkilonya. Sedangkan arabika masih di atas 90-100 ribu perkilo, juga karena lahan yang diharuskan tanam di atas 1.200 mdpl sangat terbatas, sejauh ini hanya kopi yang masih menjadi komoditas yang cukup diminati," imbuh Budiar.

Selain itu, dari catatannya, salah satu komoditi yang pergerakan harganya dinilai kurang bagus adalah cabai. Ia menjelaskan jika berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi cabai rawit di Kabupaten Malang tahun 2020 mencapai 779.323 ton dan cabai besar 293.024 kuintal. Produksi 2020 lebih besar dari 2019 yang hanya 693.900 kuintal untuk cabai rawit dan 281.565 kuintal untuk cabai besar.

Adapun daerah penghasil cabai rawit tahun 2020 ada di Kecamatan Wajak sebanyak 206.106 kuintal, diikuti Poncokusumo sebanyak 139.240 kuintal dan Tumpang sebanyak 130.578 kuintal. 

Untuk itu, dirinya juga berharap agar pihak organisasi perangkat daerah (OPD) lain di Kabupaten Malang bisa melakukan kegiatan, seperti pelatihan. Tujuannya juga diharapkan agar dapat menanggulangi melimpahnya komoditas yang sedang tidak berbanding lurus dengan serapannya, termasuk dalam pemenuhan ekspor. 

"Khusus cabai dinas terkait seperti Disperindag (Dinas Perindustrian dan Perdagangan) dan UMKM memberi pelatihan untuk inovasi produk tahan lama dari cabai dan komoditas lain. Diantarnya menjadi bubuk cabai," pungkasnya.

Topik
Budiar AnwarBerita Malang
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru