Ramai Kabar Vaksin Jadi Pemicu Badai Sitokin seperti yang Dialami Deddy Corbuzier, Ini Penjelasan IDI

Aug 25, 2021 07:52
Vaksin (Foto: Cyprus Profile)
Vaksin (Foto: Cyprus Profile)

INDONESIATIMES - Kasus covid-19 yang pernah dialami presenter Deddy Corbuzier menjadi sorotan publik. Bagaimana tidak, Deddy bahkan secara terang-terangan mengaku hampir meninggal dunia saat dinyatakan negatif vovid-19.

Saat itu Deddy mengalami badai sitokin dan harus dilarikan ke rumah sakit karena kondisi paru-parunya rusak parah sekitar 60%. Namun di tengah kabar yang menimpa Deddy, beredar pula narasi bahwa vaksin vovid-19 menjadi salah satu  penyebab badai sitokin setelah reinfeksi.

Menanggapi kabar tersebut, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban mengatakan belum ada bukti yang menunjukkan bahwa vaksin mRNA atau vaksin non-mRNA covid-19 menghasilkan badai sitokin.

"Ada narasi yang beredar luas seperti ini: vaksin covid-19 menyebabkan badai sitokin setelah terjadi infeksi ulang. Sehingga membuat virusnya semakin mematikan dan membuat sebagian orang yang mendapatkan vaksin malah meninggal. Apakah benar?" tulis  Zubairi melalui akun Twitter-nya, @ProfesorZubairi, Senin (23/8/2021).

Menurut dia,  klaim tersebut hingga kini belum pernah didukung dengan bukti. "Tidak benar. Hingga kini tidak ditemukan juga fenomena antibody dependent enhancement (ADE) pada semua jenis vaksin covid-19. Termasuk vaksin yang beredar di Indonesia. Fenomena ADE selama ini baru tampak pada dengue," jelasnya.

Lebih lanjut, Zubairi meminta agar masyarakat tidak takut untuk divaksin. Sebagai informasi, badai sitokin atau cytokine storm adalah reaksi berlebih sistem kekebalan tubuh. 

Sementara, Penanggung jawab Logistik dan Perbekalan Farmasi RSUP dr Kariadi Semarang Mahirsyah Wellyan TWH SSi Apt MSc menjelaskan, saat virus covid memasuki tubuh, sel-sel darah putih akan merespons dengan memproduksi sitokin. Sitokin sendiri merupakan protein yang dihasilkan sistem kekebalan tubuh untuk melakukan berbagai fungsi penting dalam penanda sinyal sel. 

Pelepasan atau keluarnya sitokin ini bisa memengaruhi perilaku sel di sekitarnya. Sitokin yang keluar dalam jumlah sedikit tidak memiliki pengaruh pada kondisi paru pasien atau keadaan parunya tidak bermasalah.  Bahkan, terkadang berupa gejala ringan seperti flu. Namun, gejalanya juga bisa parah dan pasien terancam meninggal dunia.

 Adapun gejala badai sitokin seperti demam dan menggigil, kelelahan, pembengkakan ekstremitas, mual dan muntah, nyeri otot dan persendian, sakit kepala, ruam, batuk, sesak napas, napas cepat, kejang, menggigil, kesulitan mengoordinasikan gerakan, kebingungan dan halusinasi, kelesuan dan daya tanggap yang buruk.

Bahkan, tekanan darah yang sangat rendah dan peningkatan pembekuan darah bisa menjadi tanda badai sitokin yang parah. Dalam kondisi tersebut, jantung mungkin tidak bekerja sebaik biasanya. Hal itu mengakibatkan badai sitokin bisa memengaruhi banyak sistem organ.

Topik
kecelakaan di tulungagungIkatan Dokter IndonesiaDeddy Corbuzier
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru