Lokananta ‘Sang Penjaga’ Lagu Indonesia Raya

Aug 19, 2021 18:50
Pewarta BlitarTIMES berpose dengan vinyl lagu Indonesia Raya versi aransemen Jozef Cleber di Lokananta.(Foto : dokpribadi/Aunur Rofiq/BlitarTIMES)
Pewarta BlitarTIMES berpose dengan vinyl lagu Indonesia Raya versi aransemen Jozef Cleber di Lokananta.(Foto : dokpribadi/Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

BLITARTIMES - Destinasi wisata di Kota Surakarta bukan hanya Keraton Surakarta, Pasar Gedhe atau Puro Mangkunegaran. Tempat-tempat tersebut telah lama menjadi ikon dari Kota Ningrat. Di samping tempat-tempat tersebut, Kota Surakarta masih punya banyak tempat menarik lain, salah satunya Lokananta.

Lokananta adalah perusahaan rekaman musik (label) pertama dan satu-satunya milik Negara. Lokananta didirikan pada 29 Oktober 1956. Saat ini Lokananta menjadi museum dan merupakan destinasi yang layak dikunjungi oleh traveler, khususnya penggemar musik saat berwisata ke Kota Solo.

Nama Lokananta digagas oleh Raden Maladi, yang berarti gamelan dari khayangan bersuara merdu. Pendirinya adalah Oetojo Soemowidjojo dan Raden Ngabehi Soegoto Soerjodipoero, pegawai RRI Surakarta yang mempelopori berdirinya Lokananta pada 29 Oktober 1956.

Studio rekaman yang beralamat di Jl Ahmad Yani No 379 Kerten, Laweyan, Solo ini juga menjadi tempat sejumlah musisi legendaris Indonesia merekam karya-karya hebat mereka. Musisi, artis dan penyanyi ternama seperti Gesang, Waldjinah, Titiek Puspa,  Koes Plus, Bing Slamet, Didi Kempot hingga Anggun C. Sasmi pernah rekaman di Lokanata.

Terlepas dari fungsinya sebagai studio rekaman, Lokananta menyimpan ribuan koleksi karya musik dan koleksi perkembangan seni budaya di Indonesia. Salah satunya adalah pita master asli lagu Indonesia Raya.

Dilansir dari Liputan6.com, Sejarawan Rusdi Husein menyampaikan, rekaman lagu Indonesia Raya yang berada di Lokananta, merupakan hasil rekaman pada dekade 1950-an. Dia mendapat informasi ihwal piringan hitam tersebut dari bekas Kepala Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta zaman Bung Karno, Jusuf Ronodipuro.

Dalam sejarahnya, Jusuf merupakan orang pertama yang memfasilitasi direkamnya lagu Indonesia Raya. Kepada Rusdi, Jusuf menyebut rekaman lagu Indonesia dikerjakan di RRI. Rekaman itu dilakukan bersamaan dengan perekaman pembacaan teks proklamasi yang dibacakan Bung Karno. Pada waktu itu sekitar tahun 1951, RRI baru saja memberi alat rekaman dari Inggris. Rekaman lagu Indonesia di RRI ini bisa dikatakan sebagai rekaman lagu Indonesia Raya paling awal dalam sejarah Indonesia.

“Itu bisa dianggap rekaman awal,” ucap Doktor Ilmu Sejarah dari Universitas Indonesia.

Dikatakan Rusdi, lagu Indonesia Raya yang direkam di RRI adalah aransemen dari Jozef Cleber. Josef adalah seorang musikus dan konduktof musik asal Belgia. Pada saat itu, Jozef bekerja di RRI Jakarta. Master rekaman lagu Indonesia Raya karya Jozef Cleber itu kini masih tersimpan di Lokananta. Jozef mengaransemen dan merekam lagu Indonesia Raya atas perintah dari Presiden Soekarno.

Menurut Rusdi, sebelum Indonesia Raya versi Jozef Cleber ini, pernah ada dua rekaman lain Indonesia Raya dalam versi keroncong. Rekaman dalam versi keroncong ini diketahui sebagai rekaman lagu Indonesia Raya tertua. Keduanya, rekaman Indonesia Raya dalam versi keroncong dibuat dalam versi mars yang muncul saat Jepang datang ke Indonesia pada dekade 1940-an.

Setelah Jozef Cleber, lagu Indoneia Raya direkam ulang oleh musikus Addie MS. Suami dari penyanti Memes ini merekam lagu Indonesia Raya pada tahun 1997. Addie merekam lagu ini sesuai dengan aransemen yang dibuat Jozef Cleber dalam bentuk orchestra.

Menurut Adi, Jozef mengaransemen atas permintaan Bung Karno. Aransemen itu kemudian menjadi aransemen baku yang digunakan untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Apalagi belakangan, kata dia, ada PP Nomor 1944 Tahun 1958. Di PP tersebut, kata Addie, ada aturan yang menyatakan tidak boleh mengubah aransemen yang sudah ada. 

“Naskahnya ada di Setneg, dan tak boleh diubah,” ucap Addie.

Terakhir, Pemerintah Indonesia merekam lagu Indonesia Raya pada 20 Mei 2017. Sama seperti di awal sejarahnya, rekaman edisi ketiga ini juga dilakukan di Lokananta. Perekaman ketiga ini dilakukan sebagai upaya standarisasi. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan merekam utuh lagu nasional itu yang terdiri dari tiga stanza atau bagian.

Sejarah lahirnya lagu Indonesia Raya bermula saat WR Supratman mendapat mandat dari Soekarno untuk membuat lagu kebangsaan yang akan diperdengarkan ketika Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. WR Supratman ketika itu segera meminta bantuan Yo Kim Tjan untuk merekam lagu Indonesia yang masih berupa alunan musik tanpa lirik.

Pada tahun 1950, Presiden Soekarno meminta Jozef Cleber untuk mengaransemen lagu Indonesia karya WR Supratman menjadi versi mars yang kita nyanyikan saat ini.

Topik
lokanantasejarah lokanantacamat pujon non aktif
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru