Kisah Mantan Petinju Kota Malang yang Sukses Alih Profesi Jadi Peternak Tikus Putih

Aug 19, 2021 15:41
Suwaji saat merawat ternak tikus putih di kandangnya. (Foto: Istimewa).
Suwaji saat merawat ternak tikus putih di kandangnya. (Foto: Istimewa).

MALANGTIMES - Menjalani profesi sebagai atlet olahraga yang mendulang prestasi tentu sangat luar biasa. Namun, Suwaji, warga Kota Malang ini berpikir berbeda.

Ia memilih berwirausaha dengan menekuni ternak tikus putih. Pilihannya ini sudah dijalankan selama 13 tahun, dan kini malah mendulang kesuksesan.

Ditemui awak media, Suwaji sembari membersihkan kandang dan sesekali memberi makan tikus-tikus peliharaannya sambil bercerita kisah hidupnya. Dirinya memilih ternak tikus putih, lantaran merasa mudah dalam merawat dan memiliki pangsa pasar yang luas hingga bertahan hingga kini.

Ia menceritakan, sebelumnya dirinya merupakan atlet tinju bahkan sempat mengikuti sejumlah kejuaraan di tingkat provinsi. Namun, ia memilih menghentikan karirnya sebagai atlet.

Setelah itu, ia memutuskan menikah dan sempat bekerja serabutan, sampai akhirnya di tahun 2008 dia menemukan peluang dengan beternak tikus.

Hal itu bermula, saat dia melihat banyak mahasiswa kedokteran kesulitan mencari objek untuk riset. Kemudian ia berinisiatif mengembangbiakkan tikus putih. 

"Awal-awal itu hanya tiga ekor saja. Satu pejantan dan dua betina. Kemudian saya breeding sendiri sampai akhirnya berkembang cukup banyak," urainya.

Pria berusia 54 tahun ini menjalani wirausaha bukan tanpa kendala. Dalam 13 tahun ini, dengan progress perkembangan usahanya yang pesat. Bahkan kini, sudah ada 7.000 ekor tikus yang ada di kandangnya.

Banyaknya tikus-tikus yang dipelihara itu, rupanya sempat mendapat penolakan warga. Lantaran banyak yang merasa tidak nyaman dengan keberadaan tikus. Tapi, setelah memiliki kandang tetap, Suwaji mulai bisa mengikis anggapan negatif mengenai ternak tikus. 

"Ya memang tikus itu tidak semua orang suka. Karena tikus juga termasuk hewan yang bau, sempat mendapat penolakan. Tapi setelah ada kandang, sekarang semua berjalan lancar," imbuhnya.

Kini, seiring perjalanan waktu, Suwaji telah mengembangkan tiga jenis tikus. Masing-masing yakni, Mencit, Wistar dan tikus rumahan. Ia pun menceritakan, perawatan dari tikus-tikusnya ini tidak memerlukan waktu yang lama. 

Hanya dalam waktu empat bulan, dari anakan hingga siap berkembang biak untuk tikus putih. Kemudian, masa produktif indukan tikus kurang lebih selama satu tahun. Dalam tempo tersebut tikus bisa mengalami enam kali breeding. 

"Kalau yang agak sulit itu untuk tikus rumahan. Sejauh ini saya belum berhasil melakukan breeding,"katanya.

Dengan menekuni bisnis tersebut, Suwaji mengaku, dirinya kini menjadi salah satu penyuplai untuk pakan di Jatim Park Group yakni Eco Green Park. Setiap pekannya, setidaknya dia harus menyiapkan hingga 700 ekor tikus putih.

Selain itu, setiap harinya ia juga menyiapkan 300-400 ekor untuk kebutuhan penjualan komunitas reptil dan mahasiswa riset kedokteran hewan,  maupun lainnya. 

"Itu disesuaikan juga harganya, untuk pakan atau untuk riset. Kalau untuk riset biasanya lebih mahal karena ada syarat-syarat khusus misal dari ukuran, berat dan panjangnya," ungkapnya.

Selama pandemi Covid-19, ternak tikus putih miliknya tak banyak terpengaruh. Walaupun, sekitar 6 bulan lalu usahanya sempat mengalami penurunan lantaran dirinya sempat sakit. Sehingga banyak tikus ternak yang ia kembangkan dijual. Dari 7000 ekor hanya tersisa sekitar 25 persen saja. 

"Sekarang saya coba kembangkan lagi. Saat ini banyak kandang yang masih kosong dan masih terus saya breeding lagi," pungkasnya.

Topik
atlet tinjuusaha ternak tikusKota Malangkisah inspiratifusaha ternak tikus
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru