Gelagah Wangi, Wisata Camping Ground dengan Aroma Khas di Kota Batu

Aug 16, 2021 12:05
Pemandangan gunung Arjuno nampak saat berada di camping ground Glahah Wangi. (Foto: istimewa)
Pemandangan gunung Arjuno nampak saat berada di camping ground Glahah Wangi. (Foto: istimewa)

BATUTIMES - Kota Batu memiliki beragam detinasi Camping Ground menarik. Salah satunya Camping Ground Gelagah Wangi di Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.

Camping Ground Gelagah Wangi ini menyuguhkan keistimewaan tersendiri dibanding dengan Camping Ground lainnya.

Nama Gelagah Wangi, diambil lantaran banyaknya tumbuhan gelagah yang berada di sana. Tumbuhan ini memiliki bau atau aroma yang wangi. Hal ini yang menjadi keunikan Camping Ground tersebut.

Jika memilih Camping Ground, mungkin lokasi ini bisa menjadi pilihan karena tumbuhan gelagah bakal menemani pengunjung di sana. Kemudian juga bisa menghirup bau wangi tanaman dan hawa segar.

Bonusnya, pengunjung dihadapkan dengan pemandangan nan indah dan asri. Yakni pemandangan gunung Arjuno yang akan terlihat jelas, jika awan cerah.

Tentunya juga pemandangan hutan yang ada di sekitar. Jika tertarik ke lokasi tersebut, pengunjung harus melintasi jalur pendakian Gunung Arjuno Gunung Arjuno. Luasan area yang dimanfaatkan saat ini  kurang lebih 1,5 hektare.

“Rencananya, akan dikembangkan lagi mencapai 8 hektare,” kata pengelola Camping Ground Glagah Wangi, Efendi. 

Ia menambahkan, hadirnya Camping Ground tersebut pada tahun 2019 silam oleh Komunitas Jelajah Alam Gunung Arjuno atau biasa disebut Komunitas Jaguar.

Bermula lokasi tersebut menjadi tempat transit para pendaki yang akan melakukan pendakian Gunung Arjuno setinggi 3.339 meter di atas permukaan laut. Melihat adanya potensi, sehingga tercetuskan menjadi Camping Ground.

“Digagas sejak tahun 2019 oleh Komunitas kami dan warga sekitar “ tambahnya. 

Tidak hanya sekadar mendirikan Camping Ground, mereka pun membawa sebuah misi konservasi pelestarian lingkungan. Dengan mengajak pengunjung berinteraksi dengan berbagai macam vegetasi asli di kawasan ini yang tumbuh alami.

Mulai tanaman senggani, pakis, hingga ciplukan, semua ada dan dibiarkan tumbuh alami. Lalu, juga ada pohon matoa, kopi hingga klengkeng yang berfungsi sebagai sumber air. Dari situ, nilai edukasi pada pengunjung bisa tumbuh.

Menurutnya sejak dihadirkan tahun 2019 silam, ternyata sudah banyak menarik pengunjung dari berbagai daerah. Yakni mulai dari Surabaya, Semarang, Bandung, Batam, bahkan Belanda.

“Sampai anak sekolah mulai jenjang taman kanak-kanak juga datang ke sini. Supaya mulai dini muncul kesadaran melestarikan lingkungan,” tutup Efendi.

Topik
WISATA KOTA BATUgelagah wangizhavira ayu ratri aldania
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru