Imbas Pandemi, Seorang Tour Guide Beralih jadi Penjual Pisang

Aug 14, 2021 14:33
Ilustrasi salah satu spot andalan di jalur pendakian Gunung Semeru, Ranu Kumbolo. (Foto: Riski Wijaya/ MalangTIMES)
Ilustrasi salah satu spot andalan di jalur pendakian Gunung Semeru, Ranu Kumbolo. (Foto: Riski Wijaya/ MalangTIMES)

MALANGTIMES - Sektor wisata menjadi salah satu yang terdampak dalam pandemi Covid-19. Bukan saja tempat wisatanya yang harus tutup, namun pelaku usaha yang bergerak di sekitar sektor wisata pun juga terkena imbas. 

Seperti yang dialami oleh Anton, yang biasanya menjadi tour guide perjalanan wisata pendakian gunung. Anton mengaku bahwa selama pandemi, jobnya menjadi tour guide berangsur menurun hingga nol.

Anton yang tinggal di Kepanjen, Kabupaten Malang, biasanya lebih sering menjadi tour guide untuk pendakian di Gunung Semeru. Namun saat ini, terpaksa harus berhenti. Mengingat pada masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). 

"Sebenarnya ada beberapa (wisata pendakian gunung) yang jadi primadona, salah satunya (gunung) Semeru. Tapi karena saya stay nya di Malang, saya ambil yang terdekat saja. Karena beberapa tahun terakhir Gunung Semeru juga banyak jadi jujugan temen-temen pendaki," ujar Anton, Sabtu (14/8/2021). 

Untuk pendakian di Gunung Semeru, biasanya ia mematok harga di kisaran Rp 200 ribu sampai Rp 250 ribu untuk satu kelompok dalam satu perjalanan. Sementara dalam seminggu, biasanya ia bisa mengantar hingga 4 kali perjalanan. 

"Satu kali perjalanan kan biasanya juga bisa langsung 2 kelompok yang saya antar. Itu kalau misal tamunya mau berangkat bareng dengan kelompok lain," imbuh Anton. 

Tentunya, kondisi yang saat ini terjadi sangat ia sayangkan. Sebab, selain bisa mendatangkan pundi-pundi uang, mendaki gunung adalah aktivitas yang menjadi hobinya. Dan ia mengkiaskan, bahwa mendaki gunung sebenarnya juga aktivitas yang dapat meningkatkan imun. 

"Sudah tentu job jadi sepi, bahkan mati. Selain mendapat pundi-pundi sebagai peningkat 'imun', naik gunung juga bisa sekalian olahraga juga. Sebenarnya bisa saja mungkin mendaki, tapi kan kami juga menghormati kebijakan pemerintah," terangnya. 

Sementara, agar perekonomiannya tetap berjalan, saat ini ia beralih profesi dengan berjualan pisang. Meskipun begitu, dirinya merasa bersyukur bahwa saat ini perekonomiannya tetap bisa berjalan, walau hanya dengan berjualan pisang di salah satu sudut Kelurahan Ardirejo Kecamatan Kepanjen. 

"Ya inginnya sih bisa naik gunung. Imunnya bisa dapat dobel. Jadi semoga saja pandeminya segera berakhir. Paling tidak ada kelonggaran untuk wisata pendakian gunung," pungkasnya.

Sementara itu, informasi yang dihimpun, sudah setahun lebih pandemi terjadi di Indonesia. Tepatnya sejak kemunculan pertama Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) pada 2 Maret 2020 lalu. Atau hingga saat ini, pandemi sudah berlangsung selama 1 tahun 5 bulan. 

Sejak saat itu pula, pandemi juga dirasakan mulai berdampak. Salah satunya pergerakan ekonomi yang berangsur menurun. Sebab diikuti beberapa sektor yang juga mulai melemah. Baik pariwisata, pendidikan, UMKM dan beberapa sektor lainnya. Muaranya, pada penurunan aktivitas ekonomi. 

Sebelumnya, hal serupa juga dialami oleh para pengemudi jip yang biasa mengantar tamu ke kawasan TNBTS. Para pengemudi jip tersebut terpaksa harus beralih profesi agar dapurnya tetap ngebul. Mulai dari petani, pengrajin tusuk sate, sopir hasil tebangan tebu dan lainnya. 

Topik
Dampak Covid 19makanan olahan berasnasib tour guideatlet nasional greysia
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru