Unismaku Jampi, Bahas Isu-Isu Strategis dan Faktual

Aug 13, 2021 17:53
Talkshow Unisma, Jelajah Akademik Merespon Persoalan Indonesia (JAMPI) bakal dilakukan selama enam hari, mulai tanggal 13 sampai 17 Agustus 2021 (foto: Anggara Sudiongko/ MalangTIMES)
Talkshow Unisma, Jelajah Akademik Merespon Persoalan Indonesia (JAMPI) bakal dilakukan selama enam hari, mulai tanggal 13 sampai 17 Agustus 2021 (foto: Anggara Sudiongko/ MalangTIMES)

MALANGTIMES - Universitas Islam Malang (Unisma) menggelar Unismaku JAMPI. Ya, JAMPI merupakan akronim dari Jelajah Akademik Merespon Persoalan Indonesia. JAMPI bakal dilakukan selama enam hari, mulai tanggal 13 sampai 17 Agustus 2021. 

Rektor Unisma, Prof Dr Maskuri menjelaskan, jika dalam beberapa hari JAMPI, nantinya akan diisi isu-isu strategis dan faktual. Pada hari pertama (12/8/2021), JAMPI diisi dengan mengambil tema strategis yakni "Kesehatan Pandemi di Era Kemerdekaan". Dalam diskusi pembahasan tema tersebut dihadirkan narasumber dari Fakultas Kedokteran (FK) dan Rumah Sakit Islam (RSI) Unisma.

"Tentunya hal ini juga untuk mengedukasi mengenai protokol kesehatan, terkait dengan pentingnya vaksin," jelasnya. 

Namun bukan hanya itu saja. Pada tema strategis ini juga dikuak bagaimana memanfaatkan obat-obatan herbal yang ada di lingkungan masing-masing atau lingkungan sekitar.

"Konsepnya ini talkshow, ini sekaligus launching. Disamping itu juga ini dalam memperingati HUT Kemerdekaan ke 76 RI, sekaligus juga tahun baru Hijriah," ungkapnya.

Direktur RSI Unisma, dalam JAMPI menjelaskan, jika penerapan prokes di masa pandemi saat ini sudah mulai meningkat. Masyarakat cenderung sadar, meskipun ada beberapa yang belum patuh. 

"Ini (sosialisasi prokes) terus diinisiasi oleh pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat dan seluruh fasilitas layanan kesehatan sampai RT RW turut kita galakkan," terangnya. 

Selain itu, masyarakat juga diminta untuk aktif mengikuti program vaksinasi. Hal ini selaras juga dengan RSI Unisma yang juga melaksanakan vaksinasi.

Dekan MIPA, Dr Dra Ari Hayati MSi menjelaskan perihal obat herbal. Suatu tumbuhan dikatakan bermanfaat harus terdapat penelitian. Hal itu dilakukan dengan mendeteksi zat yang secara fitokimia dilakukan analisis apakah melalui mikroskopis jaringan tumbuhan yang akan dianalisis mengunakan zat-zat pewarna untuk analisis fitokimia ataupun dengan cara lain.

"Keberadaan zat itu nanti kita validasi, kita katakan bahwa itu bermanfaat untuk obat, karena mengandung zat yang alami, kalau kita sebut secara biologis metabolis sekunder," terangnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Unisma, dr. Rahma Triliana, M.Kes, PhD, menambahkan, jika setelah dari penelitian dari MIPA, kemudian kedokteran melakukan penelitian lebih lanjut tentang bagaimana kandungan medis. 

"Kemudian dari kami akan melakukan ekstraksi dan proses identifikasi tambahan, kemudian kita uji secara computerize yang kita sebut sebagai insilikostudy, kita docking dan kita matchingkan, ini sesuai nggak secara topofisiologi," jelasnya.

Belum cukup di situ, kemudian langkah selanjutnya adalah melakukan penelitian pada tikus ataupun zebra fish untuk melihat ini memang bermanfaat. 

"Dosis berapa, hitungannya berapa. Setelah itu kami maju pada fase berikutnya uji pada manusia, atau uji klinis. Uji klinis harus melebihi berapa pasien, ada evaluasi berkala," pungkasnya.

Topik
Fakultas Kedokteran Unismarahma trilianabpr tulungagungunisma malangUnisma
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru