Heboh Nakes Suntikkan Vaksin Kosong, IDI: Tunjukkan Dosis Vaksin dan Jarum ke Pasien sebelum Disuntikkan

Aug 13, 2021 11:10
Ilustrasi (Foto: About Facebook)
Ilustrasi (Foto: About Facebook)

INDONESIATIMES - Publik sempat dihebohkan dengan beberapa kasus penyuntikan vaksinasi kosong yang dilakukan oleh tenaga kesehatan (nakes) di beberapa daerah. Salah 1 yang viral yakni peristiwa yang terjadi di Pluit, Jakarta Utara. 

Nakes berinisial EO itu pun sempat dijadikan tersangka dalam kasus vaksinasi kosong tersebut. Dalam konferensi pers pada Selasa (10/8/2021) lalu, EO mengungkapkan permintaan maaf di hadapan media. Selain itu, ia mengaku di hari kejadian EO telah menyuntik vaksin kepada 559 orang. Hingga akhirnya ia lalai dan menyuntik salah seorang warga dengan vaksin kosong atau tidak diisi vaksin Covid-19.

EO lantas meminta maaf dan mengakui perbuatannya itu murni atas kelalaiannya tanpa ada niat tertentu. "Hari itu saya vaksin 599 orang. Saya mohon maaf, saya tidak ada niat apa pun. Saya akan mengikuti segala proses yang akan saya jalani ke depannya," kata EO dalam tayangan video di kanal YouTube Kompas TV. 

Kendati demikian, kasus ini rupanya sudah ditutup dan korban bersama EO memutuskan untuk berdamai. Hal ini disampaikan oleh Kapolres Jakarta Utara Kombes Guruh Arif Darmawan

Ia menyebut keluarga korban berinisal BLP itu telah mencabut laporan terhadap EO di kepolisian. "Sudah terjadi mediasi, antara pihak penyelenggara kemudian terlapor hingga korban sudah ada kesepakatan damai," ujar Guruh pada Rabu (11/8/2021) lalu. 

Guruh mengungkapkan bahwa pihak keluarga korban menyadari pelaku sudah meminta maaf dan mengaku lalai. Kemudian pihak keluarga korban memutuskan tidak ingin memperpanjang masalah.

Kejadian ini tentu langsung disorot oleh pihak Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Ketua Satgas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Zubairi Djoerban sempat mengatakan jika kejadian ini harus diselidiki dan dicari tahu apa alasan nakes melakukan hal tersebut. 

"Menyuntik vaksin kosong di Pluit adalah peristiwa serius. Harus diselidiki dengan jelas mengapa relawan nakes itu melakukan suntikan palsu. Apakah kelelahan, atau kemungkinan motif lain, seperti penimbunan vaksin atau memang sistem kontrolnya yang tidak jalan?" katanya dalam cuitan di akun Twitter miliknya, Rabu (11/8/2021). 

Ia juga mengaku penasaran dengan jumlah suntikan palsu nakes tersebut dalam 1 hari, yaitu 599 orang. Jika proses 1 penyuntikan adalah 5 menit, maka butuh 2.995 menit atau hampir 50 jam. 

Pasti nakesnya kelelahan melakukan 500-an suntikan hanya dalam 1 hari. "Yang harus jadi perhatian, bagaimana jika peristiwa ini tidak terjadi di satu tempat saja. Kami harusnya juga mencari, sebenarnya berapa banyak orang yang mendapat suntikan-suntikan vaksin kosong itu. Sehingga kami bisa tahu jumlah riil yang belum terproteksi vaksin," tambahnya.

Zubairi menambahkan, ada dampak menyuntik vaksin kosong kepada seseorang, yakni kemungkinan terjadinya nyeri tapi sedikit. Prinsipnya, injeksi intramuskular (otot) harus dilakukan oleh tenaga profesional, karena ada risiko yang menyertai. 

Gelembung udara suntikan kosong itu masuk ke otot dan orang itu akan merasa nyeri. Oleh sebab itu, untuk mewaspadai agar peristiwa ini tidak terjadi lagi IDI memberikan prosedur penyuntikan vaksin dengan benar. 

Ia mengimbau masyarakat yang akan disuntik agar memastikan divaksinasi dengan benar. Berikut tahapan-tahapannya: 

- Vaksin harus dikeluarkan dari botol di depan penerima vaksin. - Lalu, nakes menunjukkan dosis sebelum menyuntik kepada penerima vaksin.

"Jika memungkinkan, penerima vaksin harus melihat apakah nakes itu benar-benar memasukkan vaksin. Minta diperlihatkan jarum suntik kosong setelah penyuntikan," kata dia.

 

Topik
guruh arif darmawanzubairi djoerbanbambang mb
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru