Dokter Tiwi Tak Segan Beri Pelayanan Gratis bagi Warga Miskin

Aug 09, 2021 19:33
Dokter Yosephine Pratiwi saat ditemui di tempat praktiknya yang baru. (Foto: Riski Wijaya/MalangTIMES)
Dokter Yosephine Pratiwi saat ditemui di tempat praktiknya yang baru. (Foto: Riski Wijaya/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Nama dr Yosephine Pratiwi saat ini semakin banyak diperbincangkan. Hal itu karena wanita yang biasa dipanggil dokter Tiwi ini membuat sebuah terapi yang  bisa menyembuhkan pasien dengan gejala yang disebabkan coronavirus 2019 (covid-19).

 Terapi tersebut awalnya dilakukan di tempat praktiknya di Apotek Kondang Waras Jalan Takeran No 50 kav 6, Dusun Krajan, Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso. Namun, setelah makin banyak pasien yang datang untuk bisa mendapatkan pelayanan kesehatannya, praktiknya pun sempat ditutup karena antrean pasiennya malah menimbulkan kerumunan.

Awalnya dokter Tiwi juga tidak menyangka bahwa metode pengobatannya bisa menyembuhkan banyak pasien covid-19.  "Dulu sejak awal covid-19, saya itu sudah meng-isoman (isolasi mandiri) pasien-pasien yang tidak mau ke rumah sakit. Dulu memang mereka (pasien) tidak mau. Tapi kalau sekarang kan memang kesulitan dan tidak mendapat rumah sakit karena penuh. Saya pantau setiap hari bagaimana perkembangannya. Awalnya dari situ hingga akhirnya keterusan merawat pasien covid-19 yang isoman," ujar dokter Tiwi. 

Berawal dari hal tersebut, kepeduliannya terhadap pasien covid-19 semakin meningkat. Artinya dia terus memantau pasien tersebut dengan intens. Tujuannya, agar pasien yang bersangkutan juga memiliki pemahaman untuk dapat sembuh dari gejala yang dirasakan. 

"Akhirnya saya keterusan untuk membantu mereka (pasien). Apalagi sebagai orang awam, saya beranggapan mereka harus tahu dan paham. Kalau isoman hanya duduk manis, melihat saturasinya rendah hingga akhirnya meninggal, saya tidak mau terjadi seperti itu ke pasien saya," terang wanita asal Jombang, Jawa Timur, ini. 

Bukan hanya itu. Dokter Tiwi juga tidak segan untuk memberikan pelayanan secara cuma-cuma atau gratis jika memang pasien yang bersangkutan termasuk warga yang tidak mampu. Apalagi kalau  gejala yang dirasakan pasien tersebut sudah termasuk gawat darurat. 

"Jadi, begini dulu awalnya. Pasien itu saya lihat kegawatdaruratannya dulu. Jadi, kalau pasiennya misalnya gagal napas, meskipun dia tidak bawa uang dan orang miskin, akan saya gratiskan sampai dia sembuh. Itu sejak di tempat praktik yang lama. Karena dia (pasien) sudah berharap penuh ke saya. Dan harus saya layani. Kalau tidak, dia bisa saja pulang, lalu isoman, dia nggak paham dan akhirnya meninggal. Saya yang tidak mau itu terjadi. Awalnya gitu, jadi getok tular. Tapi untuk pasien yang mampu, ya bayar," beber dia. 

Soal  tarif, biasanya dia mematok harga kurang lebih sekitar Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu setiap pasien dalam satu kali terapi. Sementara per pasien juga berbeda untuk jumlah terapi yang harus dijalani. 

Hingga saat ini, sudah ada ratusan pasien covid-19 yang berhasil disembuhkan dokter Tiwi dengan metode terapinya tersebut. Namun, dia tidak bisa menjelaskan jumlahnya secara pasti. 

"Wah kalau sekarang ratusan ya. Dulu hingga 16 Juli, saya ingat itu masih 80-an (pasien). Tapi sekarang ratusan. Saya tidak pernah menghitung. Tapi semua pasien ada rekam medisnya," terangnya.

Ia menyebut bahwa metode terapi yang ia gunakan tersebut saat ini sudah mulai diikuti oleh beberapa rekan dokter seprofesinya. Bahkan rekan seprofesinya tersebut mempraktikkan metode itu di daerahnya masing-masing, seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Pamekasan, dan Sumenep. 

Adapun komposisi obat yang diberikan kepada pasien itu yakni dengan memberi Abroxol, obat batuk berdahak yang berfungsi sebagai pengencer dahak (mukolitik). Kemudian ditambah obat golongan kortikosteroid, yakni obat mengatasi peradangan, reaksi alergi dan penyakit autoimun.

Obat-obatan tersebut dilarutkan dengan natrium klorida (NaCl) dan sedikit minyak kayu putih. Kemudian ditampung dalam nebulizer atau alat bantu penguapan yang diterapkan pada pasiennya di ruang terbuka.

“Uap itu dihirup pasien dan membuat napas pasien menghangat. Karena ada kandungan Ambroxol dan kortikosteroid, maka pasien akan batuk mengeluarkan dahak,” ungkapnya.

Dokter Tiwi berpesan agar masyarakat di seluruh Indonesia tidak panik jika menemukan gejala yang mengarah pada gejala covid-19. Ia menyarankan jika menemukan gejala tersebut, agar bisa langsung melapor ke satgas covid masing-masing daerah atau tenaga kesehatan yang ada di sekitar. 

Sebagai informasi, saat ini praktik dokter Tiwi pindah ke tempat yang lebih luas. Yakni di gedung pendidikan vokasi UMM Malang depan eL Hotel Karangploso. 

Topik
dokter penyembuh covid 19dokter tiwibanjir rusak makam
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru