Alasan UIN Malang Abadikan Nama KH Bisri Mustofa Jadi Nama Gedung, Begini Sosoknya

Jul 23, 2021 14:20
Biografi KH Bisri Mustofa (Foto: Ist)
Biografi KH Bisri Mustofa (Foto: Ist)

MALANGTIMES - Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang baru saja meresmikan gedung Bait Tahfidz Al-Quran dan Moderasi Beragama. Gedung tersebut kemudian oleh UIN Maliki Malang diberi nama gedung KH Bisri Mustofa. 

Bukan tanpa alasan nama KH Bisri Mustofa diabadikan menjadi nama gedung di UIN Maliki Malang. Rektor UIN Maliki Malang, Prof Abdul Haris menjelaskan, jika salah satu faktor menamai gedung dengan nama ulama adalah, karena gedung di UIN Maliki Malang belum ada yang berasal dari lingkungan pesantren.

Bukan hanya karena itu saja sosoknya dipilih, namanya dipilih karena berkaitan dengan tahfidz Al-Quran. KH Bisri Mustofa merupakan orang yang menulis tafsir Al-Qur'an. 

"Beliau ini juga sangatlah akademik. Meskipun sosoknya bukanlah doktor dan profesor. Karyanya sudah banyak, sampai ratusan. Dan saya ingin membawa ini ke Fakultas Kedokteran, agar supaya mencontoh sosok beliau ini," jelasnya.

SDM yang dihasilkan diharapkan tidak hanya menjadi sekedar dokter dan apoteker saja, tapi juga diharapkan bisa menjadi seorang SDM yang turut mampu mengembangkan agamanya.

"Ya seperti tokoh Ibnu Sina. Saya komunikasi juga dengan keluarganya. Beliau itu menjadi tokoh dan merupakan milik masyarakat," paparnya.

Sosok KH Bisri Mustofa

KH Bisri Mustofa lahir pada tahun 1915 Masehi dan bertepatan 1334 hijriah di Kampung Sawahan, Rembang, Jawa Tengah. Beliau merupakan sosok kiai yang memiliki kecerdasan dan juga sosok kiai yang juga merupakan budayawan, mubaligh, politisi, orator dan juga Mualif.

Sosok KH Bisri Mustofa merupakan sosok yang memukau pada zamannya. Putra pertama dari empat bersaudara dari pasangan H Zaenal Mustofa dan Chodijah ini, merupakan sosok yang banyak menjadi inspirasi banyak santri maupun tokoh negara.

Sejak kecil, sosok kiai yang merupakan ayahanda KH Mustofa Bisri dan merupakan kakek dari Menteri Agama Yaqut Cholik Qoumas ini telah menunjukkan kecerdasan yang luar biasa.

Sepeninggal ayahnya pada tahun 1923, tanggung jawab keluarganya berganti pada H Zuhdi. Saat itu, beliau hendak di daftarkan H. Zuhdi di Hollands Inlands School. Namun, karena KH. Cholil Kasingan mendatangi H. Zuhdi dengan alasan bahwa sekolah itu diperuntukan bagi pegawai negeri yang berpenghasilan tetap, sedangkan KH Bisri Mustofa merupakan anak pedagang. Sehingga, akhirnya, beliau menempuh sekolahnya di Sekolah Ongko Loro kurang lebih selama tiga tahun.

Pada 1925 KH Bisri Mustofa diminta untuk mengaji selama bulan Ramadhan di Pesantren Kajen milik dari KH Chasbullah. Namun beberapa waktu di sana, KH Bistri Mustofa kemudian pulang dengan alasan tidak betah.

Pada 1930 beliau diperintah kembali untuk mondok di Kasingan, tempat KH Cholil. Sesampainya di Kasingan, beliau tidak langsung diajar oleh KH. Cholil, namun terlebih dulu belajar pada Suja’i yang merupakan ipar KH Cholil.

Saat itu beliau hanya belajar Kitab Alfiyah selama dua tahun. Karena kecerdasannya, sosoknya pandai menangkap semua yang diajarkan. Ia pun kemudian menjadi rujukan teman-temannya yang mengalami kesulitan saat pembelajaran.

KH Bisri Mustofa kemudian menikah dengan seorang wanita bernama Ma'rufah yang merupakan putri KH Cholil Kasinan. Saat itu pada 17 Rajab 1354 hijriah atau bulan Juni tahun 1935.

Saat melangsungkan pernikahan, KH. Bisri Mustofa baru berusia 20 tahun dan Ma’rufah juga berusia 20 tahun. Buah dari pernikahannya, mereka dikaruniai delapan orang anak.

Setahun menikah, beliau kemudian berangkat ke tanah suci. Usai menunaikan Haji, ia kemudian melanjutkan pendidikan non formal disana, sehingga tak kembali ke tanah air.

Sosok KH Bisri Mustofa, merupakan pendiri pondok pesantren Raudhatut Thalibin Rembang, Jawa Tengah. Saat mendidik para santri, beliau mengajarkan berbagai hal yang bermanfaat, dimana hal itu menjadi benteng pertahanan bagi para kiai.

Demi kemaslahatan bangsa, pada masa perjuangan kemerdekaan, beliau juga bergerak melakukan perlawanan. Perlawanan dilakukan terhadap pasukan kolonial bersama para kyai lainnya. Ia juga terlibat langsung pada pertempuran 10 November 1945 di Kota Surabaya.  

Sebagai kyai yang juga penulis, banyak karya yang telah ia hasilkan. Tak kurang sekitar 176 judul dari berbagai bidang, seperti, ilmu Tafsir dan Tafsir, Ilmu Hadis dan Hadis, Ilmu Nahwu, Ilmu Saraf, Syari’ah atau Fiqih, Tasawuf/Akhlak, Aqidah, Ilmu Mantiq/Logika  dan lainnya.

Beliau wafat pada hari Rabu, 17 Februari 1977 (27 Shafar 1397 H) waktu asar. Beliau wafat di Rumah sakit Dr Karyadi Semarang karena sakit yang dideritanya.

Topik
UIN Maliki MalangUIN MalangProf Abdul Haristokoh ternamatokoh ternama
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru