LIPI Kembangkan Ventilator Pintar bagi Pasien Covid-19 Kritis

Jul 21, 2021 08:29
Ilustrasi (Foto: BBC)
Ilustrasi (Foto: BBC)

INDONESIATIMES - Peneliti Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi (P2ET) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) saat ini tengah mengembangkan ventilator pintar yang bernama SIVENESIA. SIVENESIA merupakan singkatan dari Smart Innovative Ventilator Indonesia. 

Ventilator ini dirancang untuk menangani pasien Covid-19 yang kondisinya kritis. Untuk diketahui, seluruh fasilitas kesehatan saat ini memang berjibaku menangani pasien Covid-19. 

Ketersediaan alat bantu pernapasan seperti ventilator menjadi salah 1 hal yang sangat penting untuk membantu menangani jumlah pasien Covid-19 kritis yang semakin meningkat di setiap fasilitas kesehatan.

Peneliti P2ET LIPI Eko Joni Pristianto beserta tim yang sedang mengembangkan SIVENESIA menjelaskan, ventilator pintar ini dibuat dengan 2 mode operasi yakni CPAP dan BiPAP.

Mode CPAP (Continuous Positive Airway Pressure) adalah ventilator yang menghasilkankan 1 level tekanan udara positif yang konstan dan terus menerus diberikan kepada pasien dengan tujuan agar saluran pernapasan pasien tetap terbuka.

Sementara mode BiPAP (Bi-level Positive Airway Pressure) ialah ventilator yang bisa menghasilkan 2 level tekanan udara positif yang berbeda, yakni pada saat menarik napas (inspirasi) dan pada saat mengembuskan napas (ekspirasi). 

Sehingga akan lebih nyaman saat digunakan oleh pasien karena akan mengikuti ritme pernapasan dengan tetap terjaga tekanan di akhir napas atau PEEP (Positive end-expiratory pressure) yang diperlukan.

"Ventilator dengan mode CPAP dan BiPAP ini, biasanya disarankan oleh dokter untuk pasien penderita sleep apnea (gangguan tidur serius), yaitu gejala di mana sistem pernapasan pasien akan berhenti beberapa saat selama tidur, hal ini tentu saja akan mengakibatkan kualitas tidur menjadi buruk," ujar Eko seperti dikutip dari keterangan resmi LIPI.

Mode ventilator CPAP atau BiPAP ini, adalah mode pada ventilator yang bekerja berdasarkan tekanan (pressure based). Kedua mode tersebut bertujuan untuk mencegah tersumbatnya jalan napas seperti gejala yang banyak dialami oleh penderita COVID-19, serta untuk melatih otot-otot pernapasan sebelum pasien bisa bernapas normal.

"CPAP dan BiPAP ini tergolong dalam sistem pengobatan non-invasif (tanpa pembedahan) yang paling efektif dan merupakan pilihan pertama serta paling banyak digunakan untuk pasien yang mengalami gangguan pernapasan," sambungnya.

Beda mode CPAP dan BiPAP

Perbedaan mendasar dari mode CPAP dan BiPAP ini ialah masalah kenyamanan pada saat pasien bernapas.

Pada mode CPAP, ventilator  bekerja dengan memberikan aliran udara bertekanan positif secara terus menerus (konstan) melalui selang ke hidung dan atau melalui mulut. Hal ini dapat menyebabkan kelelahan (tidak nyaman) pada pasien terutama saat proses mengembuskan napas (expirasi), pasien harus menggunakan lebih banyak tenaga atau kekuatan untuk melawan tekanan tersebut.

Masalah ini akan sangat terasa mengganggu terutama bagi pasien tertentu yang memiliki penyakit neuromuscular (kelompok gangguan ekstensif yang ditandai dengan adanya perubahan motorik yang dihasilkan oleh cedera atau gangguan syaraf).

Sedangkan mode BiPAP, ventilator jenis ini akan melakukan pemberian tekanan yang berbeda saat pasien bernapas (inpirasi) dan pada saat pasien mengembuskan napas (expirasi), sehingga pasien lebih nyaman dalam bernapas dengan tetap terjaga tekanan PEEP yang diperlukan.

"Karena ventilator ini merupakan peralatan medis yang berfungsi sebagai alat bantu pernapasan, maka penggunaan ventilator mode ini harus dengan saran, petunjuk dan pantauan dokter," terang Eko. 

Perlu diketahui, SIVENESIA telah melalui serangkaian tahapan pengujian, di antaranya yakni pengujian skala laboratorium sebagai tahap awal pengujian, di mana pengujian menitik beratkan kepada masalah teknis dengan mengacu pada standar yang telah ditetapkan.

Tahap selanjutnya, LIPI akan segera melakukan uji klinis SIVENESIA untuk mendapatkan izin edar sebagai wujud diseminasi hasil penelitian.

Topik
LIPIsivenesiaeko joni pristiantokartel kremasi

Berita Lainnya

Berita

Terbaru