Kemkominfo: Cegah Stunting Menuju Indonesia Sehat

Jul 10, 2021 09:20

Saat ini Indonesia masih dihadapkan dengan berbagai tantangan mengenai permasalahan gizi, salah satunya adalah stunting yang mempengaruhi kualitas hidup generasi muda di masa mendatang. Di pundak generasi muda inilah masa depan bangsa dipertaruhkan untuk membawa Indonesia menjadi bangsa yang besar dan maju. Pemerintah saat ini berupaya untuk mewujudkan tercapainya cita-cita besar Indonesia yang maju dengan menjaga kualitas generasi muda yang bebas stunting.

“Kampanye nasional untuk penurunan prevalansi stunting ini bertujuan untuk membangun kesadaran dalam pencegahan stunting khususnya bagi generasi muda,” ujar Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) Wiryanta dalam forum “Kepoin Genbest” Bondowoso yang diselenggarakan pada Jumat (9/7/2021) secara virtual.

KEPOIN-GENBEST-BONDOWOSO-221b4c87da7696b55.jpg

Angka prevalensi stunting di Indonesia berdasarkan hasil Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) di tahun 2019 sebesar 27,67 persen, masih tinggi dibandingkan dengan ambang batas yang ditetapkan oleh WHO, yakni 20 persen. Presiden Joko Widodo telah menetapkan target di tahun 2024 agar angka prevalensi stunting di Indonesia turun menjadi 14 persen.

“Tujuan penurunan stunting ini adalah untuk menyongsong bonus demografi yang diperkirakan terjadi di tahun 2030 mendatang, untuk itulah dibutuhkan SDM yang unggul, berkompentensi, dapat bersaing secara global dan tentunya berkepribadian Indonesia,” ujar Wiryanta.

Oleh karena itu, menurut Wiryanta, untuk mewujudkan “Indonesia Emas” Kemkominfo menyelenggarakan “KepoinGenbest” di berbagai daerah prioritas stunting, salah satunya di Bondowoso, Jawa Timur, dengan menyasar para remaja dan ibu muda agar dapat memahami dan peduli terhadap isu stunting sejak dini.

“Target penurunan stunting menjadi 14% di tahun 2024 optimis akan kita capai jika semua elemen masyarakat dapat bersama bergotong royong untuk sadar bahwasanya stunting ini adalah ancaman kita semua dan harus kita cegah bersama,” imbuh Wiryanta. 

 

Tim KIE Stunting BKKBN, Dr.dr. M. Yani. M. Kes. PKK yang hadir sebagai narasumber di “Kepoin Genbest” Bondowoso turut menghimbau agar generasi muda sebagai calon orangtua agar mulai memperhatikan gaya hidup sejak dini. Gaya hidup yang tidak sehat menurutnya akan mempengaruhi kondisi kehamilan sehingga berpotensi melahirkan bayi yang stunting.

“Stunting tidak hanya dipicu oleh pemenuhan nutrisi saat bayi dalam kandungan, melainkan kondisi kesehatan kedua orangtua yang juga turut berperan. Untuk itu sedari dini saat remaja haruslah dipersiapkan dengan cara terpenuhinya segala aspek penunjang kesehatan sebelum berkeluarga,“ujar dr.Yani.

Oleh karena itu, Yani menghimbau untuk menghindari pernikahan dini, dengan ideal usia pernikahan minimal bagi wanita 21 tahun dan laki-laki 25 tahun. Di usia tersebut pasangan akan lebih matang secara organ fisik reproduksi, emosional, psikologis, dan ekonomi.

Selain itu, narasumber ahli, dr.Anton Tanjung mengingatkan para remaja sebagai penerus bangsa harus mulai memperhatikan kebutuhan asupan nutrisi, karena pada usia remaja perkembangan terjadi lebih optimal.

“Di usia remaja merupakan masa di mana perkembangan fisik dan tubuh kita cenderung berubah dengan sangat cepat, secara tidak langsung hal tersebut menuntut kita untuk mencukupi asupan nutrisi dengan baik,” ujar dr.Anton.

Edukasi pencegahan stunting harus dipahami dengan baik oleh remaja sebagai generasi muda, utamanya pemahaman mengenai pemenuhan nutrisi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan. Anton menambahkan pentingnya pemenuhan nutrisi sedari remaja dan pada saat masa mengandung.

“1000 HPK memegang peranan penting dalam pencegahan stunting karena di fase tersebut 70-80% pertumbuhan otak seseorang sedang berlangsung, untuk itulah pemenuhan nutrisi harus disiapkan dengan baik oleh para calon orangtua sedari awal,” tutup dr. Anton.

Topik
stuntingTekan angka stuntinghening cipta indonesianovahanta putra

Berita Lainnya

Berita

Terbaru