Potret Musik Kota Malang (7)

6 Gedung Pertunjukan Musik yang Bersejarah di Kota Malang

Jul 05, 2021 11:21
Gedung Flora atau Bioskop Flora yang terletak di persimpangan Jalan KH Agus Salim dan Jalan Zainul Arifin, Kota Malang. (Foto: Museum Malang Tempo Doeloe/Buku Empat Dekade Sejarah Musik Kota Malang)
Gedung Flora atau Bioskop Flora yang terletak di persimpangan Jalan KH Agus Salim dan Jalan Zainul Arifin, Kota Malang. (Foto: Museum Malang Tempo Doeloe/Buku Empat Dekade Sejarah Musik Kota Malang)

MALANGTIMES - Perjalanan musik di Kota Malang sejak era 1960-an, 1970-an, 1980-an, 1990-an hingga 2000-an tidak akan terlepas dari kisah saksi bisu kekritisan dan kreativitas arek-arek Malang di setiap gedung pertunjukan. 

Setidaknya, tercatat terdapat enam gedung pertunjukan musik yang bersejarah dan menjadi saksi bisu bagaimana aksi-aksi grup band terdahulu, dan kekritisan arek-arek Malang dalam menikmati setiap grup band dari lintas genre. 

1. Gedung Flora

Gedung pertunjukan Flora atau yang biasa disebut Gedung Bioskop Flora dibangun pada tahun 1928. Gedung Bioskop Flora atau dahulunya lebih dikenal sebagai Flora Cinema ini terletak di persimpangan Jalan KH Agus Salim dan Jalan Zainul Arifin, Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen, Kota Malang.

Dahulunya kawasan tersebut memang terkenal sebagai komplek tempat hiburan zaman kolonial Belanda. Gedung ini juga memiliki beberapa fasilitas mulai dari Biljart Room, Barber Shop, hingga toko makanan. Komplek hiburan ini juga menjadi salah satu tempat favorit menir-menir Belanda di akhir pekan.

Di kawasan tersebut memang selain Gedung Bioskop Flora juha terdapat gedung-gedung bioskop tua. Diantaranya Atrium Theater, Emma Theater, Globe Theater, Roxy Theater dan lain-lain. Serta lambat laun, gedung ini mulai berganti nama menjadi Gedung Kesenian Wijaya Kusuma.



2. Gedung Tjendrawasih atau Gedung Kesenian Gajayana

Gedung Tjendrawasih atau yang lebih dikenal saat ini dengan nama Gedung Kesenian Gajayana Malang. Gedung yang berdiri tahun 1934 ini dulunya dibangun oleh perkumpulan Tiong Hoa di Malang bernama Ma-Chung. Dan sebelum menggunakan nama Gedung Tjendrawasih, gedung ini bernama Gedung Ma-Chung. 

Lalu pada memasuki tahun 1960-an, Pemerintah Kota Malang mengambil alih gedung ini dan memberikan nama Gedung Tjendrawasih. Beberapa pertunjukan musik besar di era 1960-an pun pernah terselenggara di Gedung Tjendrawasih ini. 

Di antaranya pertunjukan dari beberapa grup band bersejarah yakni Aneka Nada, Dara Puspita, Titik Puspa, Koes Bersaudara, dan The Rollies. Selain itu juga pernah digunakan sebagai panggung lawakan yakni Kethoprak Siswobudoyo, Komedi Lokaria, Wayang Orang Pancabudi dan Kwartet S. 

Lalu memasuki era 1980-an, tepatnya pada tahun 1989 Gedung Tjendrawasih berganti nama menjadi Gedung Kesenian Gajayana yang diresmikan langsung oleh Gubernur Jawa Timur pada saat itu yakni Soelarso. 

Pada tahun 1974-1990 gedung ini sempat disebut sebagai Gedung DKM karena dulunya Dewan Kesenian Malang sempat berkantor di gedung ini. Selain itu, pada tanggal 1 Juli 2018 Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata memberikan izin pinjam ke Museum Musik Indonesia untuk menempati lantai dua Gedung Kesenian Gajayan hingga sampai saat ini. 


3. Lapangan Tenun

Lapangan Tenun atau Gelanggang Olah Raga Tenun terletak di Jalan Janti Nomor satu. Telah aktif digunakan sebagai panggung pertunjukan musik mulai era 1960-an membuat tempat ini memiliki kenangan dan menjadi saksi bisu bagaimana aksi panggung dari band-band luar maupun dalam Kota Malang. 

Tercatat beberapa band yang pernah menjajal panggung di Lapangan Tenun ini. Diantaranya The Rollies yang terbentuk pada tahun 1967 di Kota Bandung dan sudah menggelar pertunjukan diluar kotanya pada tahun 1968 di Kota Malang yang bertempat di Lapangan Tenun.

Selain itu juga pada tahun 1974, sempat terjadi peristiwa panggung musik yang menyisakan luka mendalam. Beberapa penampil yakni God Bless, Mickey Merkelbach (Jaguar) dan Ogle Eyes berhasil menyerap penonton hingga 10 ribu orang yang memadati Lapangan Tenun. 

Kapasitas yang kecil membuat penonton harua berdesak-desakan untuk menikmati band idolanya. Akhirnya sebanyak tiga orang dinyatakan tewas dan belasan mengalami luka berat setelah terinjak-injak ribuan penonton yanh menyerbu masuk ke area Lapangan Tenun untuk menyaksikan penampilan dari band idolanya. 


4. Gedung Olah Raga (GOR) Pulosari

GOR Pulosari merupakan sebuah gedung pertunjukan yang memiliki kesan "angker" bagi para grup band yang pernah menjajal panggung musik tersebut. Pasalnya para penonton arek-arek Malang ketika GOR Pulosari mulai aktif digunakan sebagai panggung pertunjukan sekitar tahun 1974, kekritisan arek-arek Malang semakin terasah. 

Kekritisan tersebut lah yang menjadi GOR Pulosari selalu menjadi tempat angker band-band dari luar maupun dalam Kota Malang. Pasalnya, arek-arek Malang menuntun grup band yang tampil harus sempurna dan sesuai dengan kaset pita. Jika tidak, lemparan beberapa barang bakal menyasar ke panggung di mana grup band tersebut tampil. 

Hingga dikisahkan pada tahun 1979, saat God Bless tampil dihadapan publik arek-arek Malang di GOR Pulosari, penonton arek-arek Malang yang kerap kali mendengarkan genre musik rock ini merasa tidak puas dengan penampilan God Bless, langsung mengamuk dan melempar barang apapun ke atas panggung. 

Lalu, deretan band lokal maupun nasional yang pernah menjajal panggung di GOR Pulosari diantaranya ada God Bless, Power Metal, Elpamas, Grass Rock, SHAR, Sylvia Saartje, Ita Purnamasari, Dhyan Permana, Nicky Astria, Avia Nada, Freddy Tamaela, Leo Kristi, Bad Session, Elviera, Arfack, Ogle Eyes, Darkness, Destopz,Greates dan lain-lain. 

Kapasitas GOR Pulosari sendiri memiliki daya tampung hingga 5 ribu penonton ini seakan sesuai dengan bentuk dari konstruksi bangunan GOR Pulosari. Pasalnya penonton lebih memiliki akses menonton grup band idolanya dengan berada di bangku penonton yang berbentuk seperti tangga dengan mengelilingi gedung. Dengan posisi panggung di tengah tribun penonton, alhasil dapat memberikan pertunjukan yang membuat nyaman dan puas arek-arek Malang. 


5. Taman Indrokilo

Taman Indrokilo merupakan tempat para seniman Kota Malang berkumpul dan juga beberapa kali menjadi tempat untuk membuat pertunjukan seni. Mulai seni rupa, seni tari hingga teater. 

Taman yang dulunya terletak di belakang Museum Brawijaya ini pada zaman perlawanan melawan Jepang di kisaran tahun 1940-an sudah aktif digunakan dengan sebutan Taman Tanaka. Di tengah-tengah taman tersebut terdapat sebuah danau yang berisikan ikan-ikan liar seperti wader dan sepat. 

Lalu memasuki awal tahun 1970-an air didalam danau tersebut mengering. Kemudian di pertengahan 1970-an taman ini mulai digunakan sebagai ekspo dan pameran pembangunan yang diadakan oleh Pemerintah Kota Malang. 

Pada tahun 1980-an, terbentuklah Lembaga Kesenian Indrokilo (LKI) yang merupakan tempat para seniman berkumpul dan berkarya bersama. Namun, lambat laun fungsi dari Taman Indrokilo mulai berkurang dan pihak swasta membeli lahan tersebut dan dibangun perumahan elit di belakang Museum Brawijaya. 


6. Tribun Stadion Gajayana

Stadion Gajayana merupakan tempat bersejarah bagi warga Kota Malang. Sebuah tempat arena olah raga yang dibangun pada tahun 1924 dan rampung pada tahun 1926. Berisikan beberapa fasilitas arena olah raga di awal pembangunannya seperti lapangan pacuan kuda, kolam renang zwembad dan lapangan sepak bola. 

Ternyata pada medio tahun 1960-an hingga 1990-an Tribun VIP Stadion Gajayana kerap kali digunakan sebagai tempat pertunjukan musik. Beberapa band yang pernah merasakan Tribun VIP Stadion Gajayana diantaranya Tornado, Darkness, Bentoel Band, Greates, Elpamas, Slank, Dye Marker, Arema Voice dan masih banyak lagi. 

Kemudian pada tahun 1990-an kapasitas di Stadion Gajayana ditingkatkan hingga dapat menampung kurang lebih 17 ribu penonton. Kemudian beberapa kali dilakukan renovasi dan kapasitas dan hingga sampai saat ini Stadion Gajayan dapat menampung kurang lebih 25 ribu penonton dan masih aktif digunakan sebagai tempat latihan maupun pertandingan sepak bola.

Topik
musik di kota malangsejarah musik di malanggedung bersejarahandry setya putragedung flora

Berita Lainnya

Berita

Terbaru