Potret Musik Kota Malang (1)

Gemuruh Musik Kota Malang: Menembus Arus Zaman 

Jul 01, 2021 13:43
Ilustrasi beberapa koleksi langka dari Museum Musik Indonesia. (Foto: Tubagus Achmad/MalangTIMES)
Ilustrasi beberapa koleksi langka dari Museum Musik Indonesia. (Foto: Tubagus Achmad/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Sejak era awal pasca kemerdekaan Indonesia dan momen panas pemberontakan G30S-PKI, Kota Malang terus menunjukkan perkembangan dinamika dalam bermusik. Baik dari sosok pemain musik hingga penikmat musik lintas generasi. 

Kali ini MalangTIMES.com akan mencoba mengulas perkembangan sejarah musik di Kota Malang dari tiap dekade yang diawali dari era tahun 1960-an hingga tahun 2000-an. Mulai dari memainkan musik pop, rock dengan berbagai variannya, hingga musik underground yang berkembang di medio tahun 1990-an hingga 2000-an. 

Era 1960

Era-19609fc291dcebb1d9ad.jpg

Periode awal perkembangan musik di Kota Malang yang juga bisa disebut sebagai era emas dimulai pada medio tahun 1960-an. Pada saat itu terdapat beberapa grup band yang menjadi primadona dan langganan para pemilik acara untuk menghibur acara resmi, pernikahan dan lain sebagainya. Deretan grup band pada era awal ini biasa disebut dengan band pengiring. 

Sederet grup band yang terbentuk di era 1960-an yang masih sempat terekam yakni Eka Dasa Taruna, Avia Nada, Tornado, Young Brahmaz, Jaguar dan Bentoel. Jajaran grup band tersebut menjadi primadona pada zamannya. 

Pengaruh musik barat yang masuk ke Indonesia di era 1960-an, diserap cepat para musisi Kota Malang. Keberadaan Radio PK-17 menyumbang jasa besar dalam perkembangan musik di tahun itu.

Pasalnya pada saat itu, arek-arek Malang untuk mencari influence musik pasti salah satu jujukannya dengan mendengarkan putaran piringan hitam atau vinyl melalui Radio PK-17. 

Panggung-panggung pementasan pada era awal 1960-an pun bermunculan. Diantaranya, Gedung Flora atau Bioskop Flora yang dibangun sejak tahun 1928 terletak di Jalan KH. Agus Salim, Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen. 

Lalu juga ada Gedung Tjendrawasih atau yang sekarang lebih dikenal Gedung Keseninan Gajayana. Di Gedung ini pernah ada penampilan fenomenal dari tiga band papan atas bertajuk Malam Sedjuta Bintang yakni dengan menampilkan Koes Bersaudara, The Rollies dan Dara Puspita. 

Kemudian juga ada Lapangan Basket Tenun yang terletak di Jalan Janti Nomor 1 atau yang berada di dekat Pabrik Rokok Bentoel. The Rollies pernah merasakan sensasi di atas panggung Lapangan Basket Tenun ini. 

Tempat tongkrongan musisi pada era awal 1960-an pun cukup tinggi. Pasalnya, pada tahun itu para musisi yang didominasi oleh orang-orang kaya selalu nongrong di Hotel Splindid yang juga menyediakan alat musik. Jadi di Hotel Splindid itulah, para musisi yang didominasi jebolan SMA di kawasan Tugu Kota Malang nongkrong sekaligus latihan. 

Era 1970

Era-19700525d86ab5dbb642.jpg
Berlanjut memasuki era medio tahun 1970-an, band-band baru dengan mengusung genre rock yang lambat laun terus berkembang dengan berbagai varian terus menunjukkan eksistensinya. Pada era ini grup band bisa disebut sebagai band panggung.

Pengaruh musik rock dari luar negeri pada saat itu pun juga memengaruhi penamaan dari grup band pada era 1970-an yang mengarah kebarat-baratan. Mulai dari Ogle Eyes, Arfack, Elviera, Bad Session, Destopz, Greates, Darkness, hingga lady rocker Sylvia Saartje. 
Pada era 1970-an ini sensasi rock dengan berbagai macam variannya sangat terasa. 

Hal ini didukung pula dengan deretan band-band rock pada masanya terus menggema di telinga para penikmat musik di Malang. Seperti lagu-lagu dari Led Zeppelin, Black Sabbath, Genesis, Pink Floyd, Rolling Stones, Uriah Heep, Yes, Deep Purple, Queen, Rush dan masih banyak lagi. 

Pengaruh dari lagu-lagu yang diputar di radio PK-17, TT-77, KDS 8 pun tidak bakal terlupakan oleh para penikmat musik maupun musisi pada era awal perkembangan musik di Kota Malang. Selain itu juga didukung oleh beredarnya majalah musik seperti Aktuil, Top, Junior, Vista, Diskorina, Favorita, Paradiso dan Varia Nada. 

Gedung pertunjukan musik pun mengalami peralihan. Pada saat zaman Wali Kota Soegiyono atau yang akrab disapa Ebes Soegiyono sekitar tahun 1974-1975 dibangunlah sebuah Gedung Olahraga (GOR) yang bernama GOR Pulosari. GOR ini dapat menampung penonton hingga 5 ribu orang. Di waktu bersamaan, GOR Pulosari juga sebagai salah satu tempat tongkrongan musisi dan penikmat musik arek-arek Malang pada era 1970-an.

Selain itu juga ada Taman Indrokilo atau Taman Tanaka (pada zaman penjajahan Jepang) yang berada dibelakang Museum Brawijaya. Taman yang memiliki fungsi sebagai daerah resapan ini pun saat ini telah berubah menjadi perumahan elit di belakang Museum Brawijaya. 

Era 1980

Era-1980e8d6127df5cbb03a.jpg
Memasuki era medio tahun 1980-an perkembangan musik di Kota Malang masih berkutat pada musik rock, tetapi menunjukkan kemajuannya hingga memainkan genre Heavy Metal. 

Deretan influence pada saat itu pun juga cukup sangar terdengar, sebut saja Judas Priest, Alice Cooper, King Diond, Motley Crue dan masih banyak lagi. Dan juga ada yang membawakan progressive rock dengan influence seperti Pink Floyd, Guruh Gipsy hingga Genesis. 

Sederet grup band yang bermunculan meneruskan tongkat estafet para pendahulunya yang lahir dalam rahim era 1980-an diantaranya Q-Red, Elpamas, Gang Voice, Heartbreaker dan Bhawikarsu. Pada era 1980-an ini terkenalnya deretan grup band tersebut lebih menonjolkan almamater sekolahnya. Dan juga terkadang memilih sebuah lokasi untuk dijadikan tempat tongkrongan.

Arena pertunjukan di era 1980-an pun masih sama dengan era-era sebelumnya, yakni di GOR Pulosari. Pada era 1980-an GOR Pulosari pun masih sangat eksis, hal itu ditunjukkan ketika God Bless menggelar tur pada tahun 1986 ke Kota Malang, GOR Pulosari lah yang dipilih untuk menjadi arena pertunjukan. 

Era 1990

Era-19902394091bfc150aa3.jpg
Pada era medio tahun 1990-an perkembangan musik di Kota Malang terus menunjukkan taringnya. Lebih cadas dan lebih sangar memperlihatkan selera musik arek-arek Kota Malang pada era ini. Sebut saja Heavy Metal, Speed Metal, hingga Trash Metal sedang dipuja-puja anak zaman dulu.

Sederet nama grup band yang terbilang sangar dalam aksinya seperti Metallica, Megadeth, Kreator, Slayer, Sepultura, Testament, Anthrax, Iron Maiden, Overkill, hingga Halloween menjadi deretan influence grup band di era 1990-an. 

Deretan grup band yang mengisi pada era medio tahun 1990-an ini pun juga banyak, seperti Balance, Plankton, Dye Marker, Gusar, Mayhem, Abstain, Megatrue, Nevermind, Primitive Symphony, Rendexter, Bangkai, Ritual Orchestra, Immortal, Epitaph dan masih banyak lagi. 

Di era 1990-ini juga wadah komunitas musik turut menunjukkan eksistensinya. Sebut saja Gemma (Generasi Musisi Muda Kota Malang) dan HM3 (Himpunan Musisi Muda Kota Malang) yang terus mewadahi kemunculan-kemunculan grup band di era 1990-an. Serta kerap kali menggelar acara di beberapa tempat. Diantatanya GOR Pulosari hingga Lapangan Ex Terminal Pattimura Malang. 

Era 2000
Era medio tahun 2000 adalah masa transisi pergerakan musik pada era 1990-an hingga era 2000-an. Pergerakan musik underground mulai menunjukkan kapasitasnya dalam segi bermusik dan mengemas sebuah acara. 

Pada era ini banyak grup band yang bermunculan sebut saja Skatoopid, Spiky In Venus, Begundal Lowokwaru, Snickers And The Chicken Fighter (SATCF), Sekarat, Rotten Corpse, Grindpeace, Extreme Decay, No Man's Land, Keramat, Antiphaty, The Babies, Primitive Chimpanzee, Screaming Factor, No Lips Child, Brigade 07, Kids Next Door dan masih banyak lagi band-band underground yang lahir di era medio 1990-2000 awal. 

Tempat tongkrongan pada masa transisi era 1990 menuju era 2000-an pun terdapat di beberapa tempat. Seperti di Parkiran belakang Sarinah, Tugu Chairil Anwar, Mitra 2, Antz Studio dan masih banyak lagi. 

Pada era ini pun, pergerakan musik bawah tanah atau underground kerap kali menujukkan eksistensinya dengan membuat acara gigs atau konser kecil yang dikemas dengan konsep DIY (Do It Yourself). Deretan flyer acara gigs pun sempat menjalar di tembok-tembok Kota Malang. Diantaranya TSC (Total Suffer Community) dan PMU (Parade Musik Undsrground). 

Arena pertunjukan pun masih tetap dipegang oleh GOR Pulosari sebagai sesepuh gedung pertunjukan yang masih eksis di medio tahun 1990-an hingga tahun 2000 awal. Lalu Gedung Sasana Asih YPAC, Gedung DKM (Dewan Kesenian Malang), Gedung KNPI, Jagrak Tengah Cafe, Gedung Pramuka, Swing Cafe dan masih banyak lagi. 

Itulah deretan ulasan sekilas mengenai perkembangan musik di Kota Malang, mulai era 1960-an, 1970-an, 1980-an, 1990-an, hingga masa transisi pada era 2000-an awal yang akan dibahas dengan narasumber Ketua Museum Musik Indonesia (MMI) Hengki Herwanto dan Arief Wibisono selaku penulis buku "Empat Dekade Sejarah Musik Kota Malang". 

Pantau terus laman MalangTIMES.com untuk mengikuti ulasan lengkap terkait sejarah perkembangan musik di Kota Malang.

Topik
potret musik kota malangbaromoter musikbarometer musik
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru