Respons Pemanggilan BEM UI setelah Kritik Jokowi, Koordinator BEM Malang Raya: Alarm Demokrasi Harus Dinyalakan

Jun 29, 2021 13:38
Zulfikri, koordinator BEM Malang Raya. (Ist)
Zulfikri, koordinator BEM Malang Raya. (Ist)

MALANGTIMES - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) belakangan ramai jadi sorotan. Hal itu terjadi setelah BEM UI mengeluarkan cuitan kontroversial di Twitter dengan tajuk Jokowi: The King of Lip Service, yang berarti mereka menganggap Presiden Jokowi hanya mengumbar janji tanpa menepatinya.

Cuitan itu  berbuntut panjang. Sebab, Rektorat UI kemudian memanggil BEM UI.

Berdasarkan tinjauan konten yang dipublikasikan  BEM UI dengan judul "Jokowi: The King Of Lip Service", BEM Malang Raya turut menilai bahwa konten tersebut menyajikan realitas yang ada sejalan dengan segala permasalahan yang ditemukan di masyarakat. Apa yang dilakukan BEM UI melalui postingan tersebut juga merupakan kondisi nyata yang terjadi di tengah ketegangan politik nasional. 

"Alarm demokrasi hari ini harus selalu dinyalakan sebagai upaya perbaikan dan keseimbangan kultur demokrasi kita," beber Zulfikri, koordinator BEM Malang Raya.

Tak hanya itu. Zulfikri selaku koordinator BEM Malang raya juga menilai, surat pemanggilan yang dilayangkan Rektorat  UI kepada BEM UI merupakan potret gagal nalar dalam memahami kebebasan berpendapat  dan berekspresi di muka umum, baik lisan maupun tulisan. 

Sejalan dengan konstitusi, hal tersebut juga tertulis dalam UU 9 Tahun 1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum adalah penjaminan terhadap salah satu hak asasi manusia. Kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum sebagaimana dalam UU 9 Tahun 1998  juga sejalan dengan Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945 dan Pasal 9 Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia.

Lebih lanjut dijelaskan Zulfikri, Rektorat UI sebagai penyelenggara pendidikan tentunya perlu memahami bahwa pendapat yang korektif dan substantif di muka umum adalah kemajuan kultur kritisisme dan intelektual mahasiswa.

Terlebih postingan BEM UI juga turut disertai fakta berita yang disajikan dari berbagai media yang ada. Temuan data tersebut juga bagian dari metodologi ilmiah yang dilakukan mahasiswa. Jadi, seharusnya kampus sebagai lokus pengetahuan dan keilmuan perlu menjunjung prinsip mimbar akademik tersebut. 

Karena itu, Zulfikri menilai apa yang dilakukan BEM UI  sangat sejalan dengan realitas yang ada. Selain itu, prinsip kebenaran menjadi nilai yang masih dijaga mahasiswa hari ini dalam mengawasi dan mengoreksi kerja pemerintah. "Alarm demokrasi harus dinyalakan," ujar Zulfikri lagi.

Topik
BEM Malang Rayakebebasan berpendapat mahasiswaKampung d lockdown

Berita Lainnya

Berita

Terbaru