Pihak Supplier Bantah Tuduhan Bos The Nine House soal Monopoli Harga

Jun 25, 2021 22:19
Komisaris CV Dewa Jaya Artha Vira Hayu Wulandari saat menunjukkan bukti laporan invoice untuk suplai barang ke The Nine House, Jumat (25/6/2021). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTIMES)
Komisaris CV Dewa Jaya Artha Vira Hayu Wulandari saat menunjukkan bukti laporan invoice untuk suplai barang ke The Nine House, Jumat (25/6/2021). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Fakta baru bermunculan dalam rentetan peristiwa dugaan penganiayaan karyawan bagian purchasing bernama Mia Trisanti (38) oleh Jefrie Permana (36) selaku pemilik The Nine Club and Nine House Alfresco.

Terbaru, tuduhan Jefrie  bahwa Mia telah melakukan monopoli harga bahan baku dengan pihak supplier CV Dewa Jaya Artha membuat pihak Dewa Jaya angkat bicara. 

Komisaris CV  Dewa Jaya Artha Vira Hayu Wulandari (38) menegaskan bahwa yang dituduhkan Jefrie tersebut tidak benar. Malah pihak The Nine House masih memiliki utang kepada CV Dewa Jaya Artha. 

"Selama perjalanan sampai saya kirim orderan itu, memang banyak barang yang sudah dipindah ke supplier lain. Kalau saya mau memonopoli, nggak ada dong supplier lain. Kalau untuk masalah harga, nggak ada permainan harga saya dengan Mbak Mia. Semua harga keputusan di saya," ungkaonya, Jumat (25/6/2021). 

Kemudian, jika tuduhan monopoli harga bahan baku ditujukan kepada CV Dewa Jaya Artha dengan Mia, Vira pun mengatakan seharusnya sejak awal dalam invoice yang keluar,  bahan baku yang dikirimkan jumlahnya sama. 

"Kalau memang memonopoli, seharusnya dari awal yang pesan item nggak ada yang berkurang dong. Dari 48 item bahkan lebih, itu makin ke sininya saya kirim cuma ada beberapa item, nggak ada 24. Kan berkurang. Jadi, yang monopoli di mana gitu loh," ucapnya. 

"Jadi nggak ada monopoli. Kalau memonopoli, invoice pertama sampai invoice ke-42 harusnya sama dong item-item yang dipesan," imbuh Vira. 

Vira juga mengakui kesalahan salah satu admin  CV Dewa Jaya Artha yang sempat keliru menuliskan salah satu invoice ayam denga  selisih harga Rp 50 ribu. Namun,  kekeliruan pengetikan tersebut terjadi hanya sekali. 

"Jadi ada di invoice 12 dan 13. Itu admin saya keliru nulis. Harusnya ayam itu Rp 37 ribu ditulis Rp 87 ribu. Di invoice selanjutnya ya tetap Rp 37 ribu. Kalau memang saya menaikkan dan nurunkan, harga saya nggak nurunin lagi. Iya (kesalahan hanya sekali, red)," ungkapnya.

Namun dari peristiwa komplainnya Jefrie terkait satu invoice tersebut, pihaknya dapat memetik hikmah. Pasalnya, pihak CV Dewa Jaya Artha langsung melakukan audit di kantornya dan menemukan beberapa kejanggalan.

"Ternyata ada item salmon yang saya kirim. Harusnya dikalikan 30 kilo. Cuma sama admin saya dikalikan hanya 10 kilo. Jadi, kalau di-kurs-kan, bukan Nine yang rugi. Tapi saya yang rugi. Harga salmon waktu itu masih di harga Rp 350 ribu. Jadi kalau dikalikan 30 ,harusnya nggak 3,5 juta," beber Vira. 

Dan semuanya juga telah diklarifikasikan oleh CV Dewa Jaya Artha kepada pihak The Nine House disertai bukti-bukti yang ada. "Bukti foto timbangan dan lain-lain. Jadi, sebenarnya kalau nota kosong itu nggak ada. Nggak benar," kata dia. 

Lebih lanjut, Vira menceritakan perjanjian awal antara CV Dewa Jaya Artha dengan pihak The Nine House mengenai sistem pembayaran bahan baku yang disuplai untuk dibayar secara cash atau lunas.  "Cuma untuk dua minggu berjalan itu memang minta termin yang awal-awal nggak pernah mbleset. Pembayaran Rabu ya Rabu, Kamis ya Kamis. Makin ke sininya, satu bulan dua bulan pasti mbleset. Mblesetnya itu sampai dua hari, sampai tiga hari. Bahkan ada yang sampai seminggu," ujarnya. 

Hingga akhirnya pihaknya pun sempat berkomunikasi dengan tim audit dari The Nine House. CV Dewa Jaya  menanyakan kejelasan mengenai tunggakan pembayaran yang belum diselesaikan  The Nine House. Namun tim audit dari pihak The Nine House menuturkan bahwa Jefrie belum melakukan transfer uang.

"Kalau saya nominal totalnya itu kurang lebih yang belum terbayar dari pihak The Nine  hampir Rp 60 juta. Dan sampai sekarang kejelasannya nggak ada. Saya nggak tahu harus menagih ke mana. Karena kalau saya menagih ke Jefrie, takut bermasalah lagi," ungkap Vira.

Vira juga mengatakan bahwa masih terdapat enam invoice lagi yang harua segera diselesaikan oleh pihak The Nine House . Total nominalnya mencapai  Rp 56.834.660.

Pihaknya berharap agar semua tanggungan dari pihak The Nine House harap segera diselesaikan. "Saya sih maunya baik-baik. Dibayar, selesai. Saya nggak ada urusan. Cuma dengan caranya Jefrie ini kok nggak bayar tambah menjelek-jelekkan saya. Saya yang dirugikan. Kemungkinan (menempuh jalur hukum, red)," ujarnya. 

"Dilihat kalau dia ada iktikad baik minta maaf, terus bayar, saya nggak mau ribet orangnya. Selesai ya selesai. Kalau nggak dibayar, itu gimana, saya harus ke mana. Karena saya ini ada beberapa supplier yang memang belum kebayar," pungkas Vira. 

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, Jefrie Permana pada hari Jumat (18/6/2021) pernah memberikan pernyataan bahwa pihaknya telah memiliki percakapan lengkap antara Mia dengan Vira dari CV. Dewa Jaya Artha terkait pengaturan harga. Hal itu pula yang kemudian memicu dugaan penganiayaan oleh Jefrie terhadap Mia.

"Mia kerja di Nine House, harga bahan dinaik-naikkan nggak sedikit. Masa ayam bisa naik Rp 50 ribu dalam beberapa hari. Masih banyak yang lain. Kita sudah lengkap percakapan Vira dan Mia bagaimana mengatur harga. Vira menyuruh monopoli semua bahan harua ambil ke Vira semua. Dan Mia dikasih invoice kosongan sama Vira, Dewa Jaya Artha," katanya waktu itu.

Topik
Bos karaoke aniaya karyawanpnganiayaan pegawai the nine clubkasus penganiayaan di Malangkisah kucing
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru