Petinggi Kementan Ajak Milenial di Polbangtan Malang Sejahterakan Petani

Jun 24, 2021 19:08
Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi (tengah) usai memberikan kuliah umum di acara Dies Natalis Ke-3 Polbangtan Malang, Kamis (24/6/2021). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTIMES)
Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi (tengah) usai memberikan kuliah umum di acara Dies Natalis Ke-3 Polbangtan Malang, Kamis (24/6/2021). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan) RI Dedi Nursyamsi mengajak para milenial  yang berada di Polbangtan (Politeknik Pembangunan Pertanian) Malang untuk menyejahterakan petani. 

Hal itu disampaikan Dedi ketika menjadi pembicara utama dalam acara kuliah umum  Dies Natalis Ke-3 Polbangtan Malang dengan tema "Agrososioprenuer Berbasis Teknologi di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0". 

Dedi membeberkan tiga tujuan dalam pembangunan pertanian. Pertama adalah bagaimana seluruh pihak bersama-sama dapat menyediakan lahan bagi sekitar 273 juta penduduk Indonesia yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. 

Kedua, harus meningkatkan kesejahteraan para petani. Dan yang ketiga adalah menggenjot ekspor produk pertanian Indonesia. 

"Kunci dari ketiga tujuan tersebut, meningkatkan nilai produktivitas yang saat ini berada di kisaran 51,2 ton  bisa meningkat hingga 70 ton produksi," ungkapnya, Kamis (24/6/2021). 

Mengenai ekspor pertanian, Dedi menekankan harus memikirkan persyaratan yang ribet untuk masuk ke negara-negara tertentu terkait kualitas. "Agar produk kita bisa masuk ke negara-negara tersebut, kita harus bisa komitmen untuk menjaga kualitas kita agar tetap bagus," ucapnya. 

Dalam melakukan proses ekspor, Kementan menyampaikan bahwa harus menjaga kualitas yang sangat tinggi. Terlebih lagi jika sudah menjajaki masa ekspor produk, harus memperhatikan rasa, spesifikasi hingga terkait ciri khas yang menjadi daya tarik bagi para calon pembeli. 

Dedi juga menekankan kualitas dan jumlah produk yang konsisten. Sebab, dalam membangun pertanian dan menyejahterakan petani di Indonesia, harus dijaga kualitas produk tersebut. 

"Jangan sampai produk kita bulan ini berlimpah tapi beberapa bulan ke depan habis. Pada saat produk kita tidak ada, maka konsumen akan berpindah ke lain hati," ujarnya. 

Ada pula  tiga hal yang menjadi acuan utama dalam memproduksi hasil tani. Di antaranya inovasi, peraturan perundang-undangan hingga SDM yang berlimpah yang berjiwa enerjik. 

"tu sudah ada perannya masing-masing. Jika kita penuhi semua, kita bisa menjalankan bisnis pertanian ini dengan baik. Apalagi ditunjang dengan kekayaan alam kita. Bisnis pertanian berpeluang besar menghasilkan uang," tutupnya.

Topik
Jaminan fidusiahasil pertanianPetani Indonesia

Berita Lainnya

Berita

Terbaru