Melalui Perang Ini, Masa Depan Kejayaan Islam Ditunjukkan

Jun 24, 2021 12:05
Ilustrasi (Foto: Gootick Apparel)
Ilustrasi (Foto: Gootick Apparel)

INDONESIATIMES - Dalam perjalanan sejarah Islam, banyak sekali peperangan yang terjadi. Salah satunya yakni Perang Khandaq

Perang atau pertempuran Khandaq ini terjadi pada tahun ke-5 hijriah atau 627 masehi. Kala itu, pasukan kafir Quraish bermaksud menyerang Kota Madinah. 

Perang ini juga dikenal sebagai Pertempuran Al-Ahazab, dan juga Pertempuran Konfederasi. Pengepungan Madinah ini dipelopori pasukan gabungan antara kaum kafir Quraisy Makkah dan yahudi Bani Quraidlah atau Bani Nadir.

Pengepungan itu terjadi mulai 31 Maret 627 dan berakhir setelah 27 hari. Kala itu, kaum kafir Quraish telah mengatur siasat dan taktik perang secara licik.

Tentara Quraisy dan Ghathfan akan melancarkan aksinya untuk menyerang Kota Madinah dari luar. Sementara Bani Quraidlah (Yahudi) akan menyerangnya dari dalam yakni dari belakang barisan Kaum Muslimin. 

Lewat cara itulah pasukan musuh memprediksi pasukan Islam akan terjepit dari 2 arah. Pada hari itu pasukan tentara yang besar mendekati kota Madinah. 

Mereka membawa perbekalan yang cukup banyak dan persenjataan lengkap. Melihat hal itu, kaum muslimin panik. 

Mereka seakan kehilangan akal melihat hal yang tidak diduga-duga itu. Keadaan mereka dilukiskan melalui Alquran sebagai berikut: "Ketika mereka datang dari sebelah atas dan dari arah bawahmu, dan tatkala pandangan matamu telah berputar liar, seolah-olah hatimu telah naik sampai ke kerongkongan, dan kamu menaruh sangkaan yang bukan-bukan terhadap Allah".(Q.S. 33 al-Ahzab:10).

24 ribu orang prajurit di bawah pimpinan Abu Sufyan dan Uyainah bin Hishn merangsek dan menuju Kota Madinah. Pasukan ini tidak saja terdiri dari orang-orang Quraisy, namun juga dari berbagai kabilah atau suku yang menganggap Islam sebagai lawan yang membahayakan mereka.

Kaum muslimin sadar jika saat itu keadaan sangat gawat. Rasulullah pun bergegas mengumpulkan para sahabatnya untuk bermusyawarah.

Tentu saja mereka semua setuju untuk bertahan dan mengangkat senjata. Namun apa yang harus mereka lakukan untuk bertahan kala itu? Pada saat kondisi genting itu tampilah pria jangkung dan berambut lebat.

Dia adalah Salman al-Farisi. Dari ketinggian Salman al-Farisi tampak melayangkan pandangannya meninjau sekitar Madinah. 

Kota itu dikelilingi gunung dan bukit-bukit batu layaknya benteng. Hanya di sana terdapat pula daerah terbuka, luas dan terbentang panjang, hingga dengan mudah akan dapat diserbu musuh untuk memasuki benteng pertahanan.

Di negerinya, Persia, Salman memiliki pengalaman luas tentang teknik dan sarana perang. Begitu pun tentang siasat dan liku-likunya. 

Maka datanglah dia dan mengajukan suatu usulan kepada Rasulullah SAW. Salman mengusulkan suatu rencana yang belum pernah dikenal oleh orang-orang Arab dalam peperangan mereka selama ini.

Rencana itu berupa penggalian khandaq atau parit perlindungan sepanjang daerah terbuka.

Begitu menyaksikan parit terbentang di hadapannya, pasukan kafir Quraisy lantas merasa terpukul. Tidak kurang sebulan lamanya kekuatan mereka bagai terpaku di kemah-kemah karena tidak berdaya menerobos kota.

Hingga akhirnya pada suatu malam Allah SWT mengirim angin topan yang menerbangkan kemah-kemah dan memporak-porandakan tentara mereka. Abu Sufyan pun menyerukan kepada anak buahnya untuk kembali pulang ke kampung mereka dalam keadaan kecewa dan berputus asa serta menderita kekalahan pahit.

Sewaktu menggali parit, Salman bekerja bersama dengan kaum muslimin. Rasulullah SAW juga ikut membawa tembilang turut membelah batu.

Kebetulan, di tempat penggalian Salman bersama kawan-kawannya, tembilang mereka membentur batu besar. Salman seorang yang berperawakan kukuh dan bertenaga besar yakin bisa memecahkan batu itu. 

Namun, menghadapi batu besar ini ia tak berdaya. Ia lantas minta bantuan kepada temannya. 

Semuanya pun gagal memecahkan batu besar itu. Salman lalu pergi menghadap Rasulullah SAW. Ia minta izin untuk mengalihkan jalur parit dari garis semula, untuk menghindari batu besar yang tak tergoyahkan itu. 

Rasulullah SAW pun ingin mengecek kebenarannya. Setelah menyaksikannya, Rasulullah SAW meminta sebuah tembilang dan menyuruh para sahabat mundur agar terhindar dari pecahan batu.

Rasulullah SAW lalu membaca basmalah dan mengangkat kedua tangannya yang sedang memegang erat tembilang itu. Dengan sekuat tenaga, beliau menghujamkan tembilang ke batu besar tersebut. 

Mengejutkannya, batu itu terbelah dan dari celah belahannya keluar lambaian api yang tinggi menyilaukan.

“Saya lihat lambaian api itu menerangi pinggiran kota Madinah,” kata Salman, sementara Rasulullah SAW mengucapkan takbir, sabdanya: "Allah Maha Besar! Aku telah dikaruniai kunci-kunci istana dari negeri Persi dan dari lambaian api tadi nampak olehku dengan nyata istana-istana kerajaan Hirah, begitupun kota kota maha raja Persi dan bahwa umatku akan menguasai semua itu".

Kemudian Rasulullah SAW mengangkat tembilang itu dan kembali memukulkannya ke batu untuk kedua kalinya. Hal yang sama terjadi.

Pecahan batu besar itu menyemburkan lambaian api yang tinggi. Rasulullah kembali bertakbir, dan sabdanya: "Allah Maha Besar! Aku telah dikaruniai kunci-kunci negeri Romawi, dan tampak nyata olehku istana-istana megahnya, dan bahwa ummatku akan menguasainya".

Lalu untuk yang ketiga kali Rasulullah SAW kembali mengayunkan tembilang ke batu itu. Batu besar itu lantas pecah berderai. Lambaian api kembali menyinari. Rasulullah SAW pun mengucapkan la ilaha illallah diikuti dengan gemuruh oleh kaum muslimin. Lalu diceritakan lah oleh Rasulullah SAW bahwa beliau melihat istana-istana dan mahligai-mahligai di Syria maupun Shan’a. 

Begitu pun di daerah-daerah lain yang suatu ketika nanti akan berada di bawah naungan bendera Allah yang berkibar. Maka dengan keimanan penuh, kaum muslimin pun serentak berseru, “inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya”.

Salman merupakan orang yang mengajukan saran untuk membuat parit. Dan dia pulalah penemu batu yang telah memancarkan rahasia-rahasia dan ramalan-ramalan ghaib.

Salman juga berdiri di samping Rasulullah SAW dan menyaksikan langsung cahaya dan mendengar berita gembira itu. Dia masih hidup ketika ramalan itu menjadi kenyataan. 

Ia melihat, mengalami, dan merasakan sendiri. Kota-kota di Persia dan Romawi, dan mahligai istana di Shan’a, di Mesir, di Syria dan di Irak berada di bawah panji-panji Islam. 

Topik
sejarah islamvaksinasi gratisNegeri SyamRasulullah SAWdunia islam

Berita Lainnya

Berita

Terbaru