Jelang Sekolah Tatap Muka, Kasus Kematian Anak Akibat Covid-19 di Indonesia Tertinggi Dunia

Jun 24, 2021 09:31
Ilustrasi (Foto: Collins Dictionary)
Ilustrasi (Foto: Collins Dictionary)

INDONESIATIMES - Jelang sekolah tatap muka, kasus Covid-19 terhadap anak-anak justru semakin meningkat. Diketahui, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah resmi membuat surat keputusan dilaksanakannya sekolah tatap muka per Juli 2021. 

Keputusan ini, sebelumnya telah disampaikan langsung oleh Mendikbud Nadiem Makarim. Dalam keputusan ini, Nadiem menegaskan jika sekolah tatap muka akan dimulai pada Juli 2021.

"Jadi bukan diterapkan di Juli 2021, tapi aspirasinya semua sekolah sudah belajar tatap muka di Juli 2021. Itu sesuai keputusan SKB 4 Menteri," ucap Nadiem secara daring pada akhir Maret 2021 lalu. 

Pembukaan belajar tatap muka di sekolah, kata Nadiem, sejalan dengan program vaksinasi bagi guru, dosen, dan tenaga kependidikan yang terus berjalan. Diketahui, program vaksinasi guru, dosen, dan tenaga kependidikan ditargetkan bisa selesai di akhir Juni 2021 ini. 

Kendati demikian, jelang sekolah tatap muka, kasus Covid-19 terhadap anak-anak justru rentan. Bahkan, disampaikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) kematian anak-anak akibat Covid-19 di Indonesia tertinggi di dunia. 

Ketua Umum IDAI Aman Pulungan mengatakan, tingkat kematian pasien anak di Tanah Air mencapai 3 sampai 5 persen.

"Data IDAI menunjukkan, case fatality rate-nya itu adalah 3-5 persen. Jadi kita ini kematian yang paling banyak di dunia," tegas Aman dalam video yang diunggah kanal Youtube IDAI.

Menurut Aman dari sekian banyak anak yang meninggal akibat Covid-19, 50 persennya yakni balita.

"Jadi dari seluruh yang meninggal pada anak itu, 50 persennya balita. Dan sementara kita lihat di DKI saja 144 itu yang balita," ucap dia.

Lebih lanjut, Aman mengungkapkan data konfirmasi kasus positif Covid-19 terhadap anak usia 0 hingga 18 tahun di Indonesia juga cukup tinggi. Menurut Aman, angkanya mencapai 12,5 persen.

Oleh sebab itu, Aman mengimbau agar seluruh kegiatan yang melibatkan anak usia 0 hingga 18 tahun agar dilaksanakan secara daring. Tidak terkecuali kegiatan pendidikan.

"Orang tua atau pengasuh harus mendampingi anaknya saat beraktivitas daring maupun luring. Menghindari membawa anak keluar rumah, kecuali dalam keadaan mendesak," pungkasnya.

Di sisi lain, Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) meminta pemerintah pusat dan daerah segera menghentikan uji coba Pembelajaran Tatap Muka di sekolah dan kampus di sejumlah daerah di mana kasus Covid-19 melonjak tak terkendali.

"Ada yang mencapai 17 persen. Kondisi ini sangat tidak aman untuk buka sekolah tatap muka,” ujar Sekjen FSGI, Heru Purnomo, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa 22 Juni 2021.

Heru mengatakan, pembelajaran tatap muka yang telah mulai dilakukan secara terbatas harus dihentikan agar jumlah anak yang berpotensi terinfeksi Covid-19 dapat ditekan.

Varian Delta COVID-19 Rentan Serang Anak

Covid-19 varian Delta disebut rentan menyerang terhadap anak-anak. Varian delta COVID-19 ini merupakan virus dengan gen B1617 yang pertama kali ditemukan di India pada Desember 2020 silam. 

Beberapa bulan setelahnya, jenis virus corona baru ini menyebar dengan luas sehingga menimbulkan lonjakan tinggi di India dan bahkan membuat sistem kesehatan di sana kolaps. Hingga kini, dilaporkan jika varian delta telah menyebar ke 80 negara.

Disebutkan jika ini lebih mudah menular dibanding varian alfa. Alasan varian delta ini lebih menular daripada yang sebelumnya karena beberapa mutasi kunci pada protein lonjakan yang memungkinkan virus untuk menembus sistem imun dan menginfeksi sel sehat. 

Melansir melalui halodoc, Daeng M Faqih, Ketua Umum PB IDI, mengatakan jika potensi bahaya dari virus Covid-19 jenis delta ini sangat tinggi. Ia juga menyebut jika jenis ini justru banyak menyerang anak-anak muda.

Bahkan, serangan yang terjadi bisa langsung menimbulkan dampak dengan gejala berat. Saat alami gejala berat, tingkat kesembuhannya pun menjadi lebih kecil.

Selain itu, peningkatan kasus Covid-19 varian delta ini juga terjadi pada anak-anak. Penularan massif dipercaya akibat belum adanya program vaksinasi pada anak yang usianya belum mencapai 18 tahun.

Dengan begitu, sistem imunitas yang belum sempurna ditambah tidak adanya vaksin dapat gejala yang ringan membuat banyak orang tidak cepat tanggap untuk memeriksakan anaknya.

Kasus Covid-19 terhadap anak di Malang Meningkat

Salah satu daerah yang mendapati kasus Covid-19 terhadap anak meningkat yakni di Kota Malang. Dikonfirmasi jika terdapat 253 anak di Kota Malang yang terpapar Covid-19. 

Hal itu disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang dr Husnul Muarif. Di mana total data tersebut merupakan rekapan dari mulai pandemi Covid-19 pada Bulan Maret 2020 sampai Bulan Juni 2021. 

"Jumlah anak yang terkonfirmasi sudah ada. Datanya ini anak-anak usia 0 hingga 5 tahun mulai dari awal sampai 21 Juni itu 136 anak. Terus 6-10 tahun itu 117 anak. Ini yang terkonfirmasi (positif Covid-19, red)," ungkapnya kepada MalangTIMES.com. 

Sayangnya, dari jumlah itu pihak Dinkes Malang belum mendapatkan rekapan data terkait angka kesembuhan dan angka meninggal akibat Covid-19 yang menyerang anak-anak. Lebih lanjut, terkait pembelajaran anak-anak  pada saat pandemi Covid-19 menggunakan metode daring (dalam jaringan) pun juga tidak dapat dipastikan bahwa anak-anak tersebut tidak terkonfirmasi positif Covid-19. 

Lebih lanjut, dokter yang juga menjadi juru bicara Satgas Covid-19 Kota Malang ini mengatakan bahwa dengan tidak memberlakukan sekolah tatap muka tidak dapat terhindarkan dari Covid-19, karena aktivitas anak-anak juga tidak dapat dipantau secara ketat. 

"Anak-anak masih keluar main di luar rumah. Bisa jadi seperti itu atau mungkin diajak sama orang tuanya ke pasar. Diajak orang tuanya ke pusat-pusat keramaian bisa," terangnya. 

Menurut Husnul faktor-faktor tersebut dapat menjadi penyebab terjadinya penyebaran Covid-19. Pihaknya juga terus mengimbau kepada orang tua agar mengawasi anak-anak nya untuk menerapkan protokol kesehatan Covid-19. 

Topik
pembatasan hajatanKasus Covid 19Sekolah Tatap MukaKota Malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru