Bos Karaoke di Kota Malang Aniaya dan Rampas HP Karyawan Perempuan

Jun 18, 2021 06:36
Korban MT (tengah) saat menunjukkan laporan polisi di Mapolresta Malang Kota, Jum'at (18/6/2021) dini hari (foto: Hendra Saputra/ MalangTIMES)
Korban MT (tengah) saat menunjukkan laporan polisi di Mapolresta Malang Kota, Jum'at (18/6/2021) dini hari (foto: Hendra Saputra/ MalangTIMES)

 

MALANGTIMES - Bos sebuah tempat hiburan malam berinisial J menganiaya salah satu karyawan perempuan MT (36) yang bekerja di bidang purchasing. Bahkan saat menganiaya, terduga pelaku mengaku kalau dirinya kebal hukum.

Kekerasan kepada perempuan yang dilakukan oleh bos restauran dan tempat hiburan malam di Kota Malang ini sungguh kejam. Betapa tidak? Berstatus laki-laki, bos karaoke ini ternyata melakukan penganiayaan kepada karyawan perempuan yang dianggap menggelapkan uang perusahaan dan meminta fee kepada supplier barang.

Baca Juga : Wali Kota Sutiaji Jawab Pandangan Umum Fraksi DPRD Kota Malang Terkait Serapan Anggaran

Kejadian bermula pada Kamis (17/6/2021) sekitar pukul 13.00 WIB di mana MT dijemput paksa oleh sekuriti tempat hiburan malam itu. Dan ternyata, MT diajak ke sebuah ruangan rahasia.

“Saya diaudit di kantor dan saya disuruh mengakui apa yang tidak saya lakukan,” kata MT kepada MalangTIMES saat laporan ke Mapolresta Malang Kota, Kamis (17/6/2021) malam.

Di situ, MT dicecar banyak pertanyaan oleh J. Beberapa di antaranya yakni kedekatan dengan supplier barang yang masuk ke tempat hiburan malam itu. Bahkan saat percakapan mulai memanas, J kemudian menyuruh security untuk meminta paksa handphone milik korban.

“Dia (J) bertanya kepada saya sambil nendang (di paha sebelah kiri) sekitar lima kali, lalu dijambak sekitar tujuh kali,” ungkap MT yang sekaligus menegaskan bahwa saat itu dirinya dalam posisi duduk.

Tak hanya itu, MT juga dipaksa berbicara apa yang tidak dilakukan. Paksaan itu dilakukan J kepada korban hingga menuruti kemauannya. Jika tidak, korban mengaku dipukul, ditendang, dijambak dan ditampar.

“Saya dipaksa mengakui hal yang tidak saya lakukan. Dan itu didikte sama dia lalu direkam,” ujar MT.

Penganiayaan bukan hanya dilakukan oleh J, security yang ada di dalam ruangan itu juga ikut memukul korban. Diakui korban, security memukul di area dada dan pinggang.

“Kalau yang mukul, nendang sama jambak itu J. Tapi kalau mukul daerah dada sama pinggang itu security yang akrab dipanggil Mamat,” imbuhnya.

Setelah diperlakukan kejam, korban juga tidak diperbolehkan bertemu siapapun. MT hanya disuruh untuk tetap di dalam ruangan rahasia tersebut. “Saya tidak boleh menghubungi siapapun, karena handphone saya juga dirampas,” ucap dia.

MT pun mencoba untuk meminta tolong dengan menulis sebuah pesan di secarik kertas. “Saya minta tolong, saya sedang dianiaya di ruang owner, saya minta tolong hubungi polisi atau hubungi keluarga saya,” kata MT menirukan pesan yang ia tulis.

Namun pesan di secarik kertas itu nampaknya tidak bisa MT berikan kepada seseorang. Karena sekuriti  juga mengikuti setiap jejak langkah MT. “Saya diikuti terus meski saya (berpura-pura) ingin ke kamar mandi,” kata dia.

Yang membuat MT merasa down, J sempat mengatakan bahwa jika seseorang sudah masuk ke ruangan tersebut, itu adalah titik kehancurannya. “Dia bilang kalau dia kebal hukum,” ucapnya.

Dan menariknya lagi, J kemungkinan telah melakukan setting terhadap apa yang akan dia lakukan kepada MT. “Jika masuk ruangan itu, J selalu menyuruh anak buahnya untuk mematikan CCTV, karena dia bebas memukul dan tidak takut hukum,” ungkap dia.

Baca Juga : Pemkab Malang Ingin 100 Persen DBHCHT untuk Pembangunan RS Jantung

 

Laporan yang dilakukan MT kepada Kepolisian juga cukup lama. Dari media ini tiba di Mapolresta Malang Kota sekitar pukul 10.45 WIB, baru Jum'at (18/6/2021) dini hari sekitar pukul 01.54 WIB korban keluar dari ruangan dan beranjak ke RSSA untuk visum.

Dikonfirmasi terpisah, salah satu perempuan berinisial N (29) yang merupakan saudara dari MT mengaku juga dijemput paksa oleh sekuriti tempat hiburan malam itu. Alasannya, N ikut terlibat dalam tuduhan yang disangkakan J kepada MT. “Saya dijemput dua orang security The Nine sekitar pukul 03.30 (WIB),” kata N.

Setelah dimasukkan ke salah satu room karaoke, N kemudian juga dicecar banyak pertanyaan oleh anak buah dari J. Salah satunya yakni kedekatan dengan supplier barang yang masuk ke tempat hiburan malam itu.

“Mereka bertanya kepada saya kenapa ada uang masuk ke ATM saya dengan nama salah satu supplier,” ujar N.

Sekitar 2 jam disuruh menunggu, kemudian security meminta handphone N untuk diserahkan kepada J. Akan tetapi, N tegas menolak karena menganggap handphone itu adalah privasinya.

“Kemudian saya diajak ke ruang eksekusi itu. Saat baru masuk ruangan, J langsung meminta handphone saya. Lalu diambil paksa sama security, karena dia (J) sambil makan menyuruh security untuk ambil paksa handphone saya,” ungkap N.

Apesnya, handphone N yang disimpan di dalam tas juga diambil oleh orang suruhan J. “Jadi handphone satunya itu saya buat ngerekam, pikirku kalau ada ancaman atau apa saya punya buktinya. Tapi mereka tahu dan dihapus,” kata dia yang sekaligus mendapatkan ancaman dari J.

Tahu ada rekaman yang dinyalakan oleh N, J naik pitam. Bahkan, N mengakui dia akan ditusuk dengan garpu yang digunakan untuk makan.

“Dia sudah berdiri sambil pegang garpu, lalu mau jalan ke aku, tapi ditahan oleh istrinya,” ungkap N yang menegaskan bahwa di ruangan tersebut ternyata banyak orang termasuk istrinya.

Pengakuan N sekaligus menegaskan bahwa ketika penganiayaan tersebut dilakukan, ternyata banyak orang yang menyaksikan. “Banyak orang di sana, sekitar 5 orang lebih (termasuk istri J). Saya hanya berdua sama MT,” pungkas N.

 

 

Topik
the nine clubkasus the nine clubpnganiayaan pegawai the nine clubpenganiayaan kota malangdrama hospital playlist

Berita Lainnya

Berita

Terbaru