Miris, Siswa di Kabupaten Malang Harus Ujian di Bawah Tenda

Jun 14, 2021 20:58
Tenda tempat siswa SDN Sumbertangkil 1, Kecamatan Tirtoyudo mengikuti ujian (foto: istimewa)
Tenda tempat siswa SDN Sumbertangkil 1, Kecamatan Tirtoyudo mengikuti ujian (foto: istimewa)

MALANGTIMES - Pelaksanaan ujian siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Sumbertangkil, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang sangat memprihatinkan. Para siswa harus mengikuti ujian akhir semester di bawah tenda, karena gedung sekolah mengalami kerusakan cukup parah akibat gempa bumi pada 10 April lalu.

Kesedihan para korban gempa bumi beberapa bulan lalu masih membekas cukup dalam bagi sebagian warga Kabupaten Malang, terutama yang terdampak. Apalagi bagi sebagian siswa yang harus menjalani sekolah di tengah keterbatasan.

Dari pantauan media ini, di sekitar SDN 1 Sumbertangkil nampak ada beberapa tenda yang didirikan untuk siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) sementara.

Tenda-tenda tersebut berasal dari Direktorat Jenderal Disdakmen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan tenda dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

“(Tenda ini dipakai) karena gedung sekolah tidak bisa ditempati karena retak parah. Terpaksa kami melaksanakan ujian di dua tenda ini, secara bergantian per kelas. Hari ini (Senin, 14/6/2021) kelas V dan VI,” ungkap salah satu guru kelas SDN Sumbertangkil 1, Saptono, Senin (14/6/2021).

Saptono mengaku bahwa kerusakan gedung sekolah yang diakibatkan gempa bumi bermagnitudo 6,1 hingga kini belum mendapatkan perhatian. Seperti bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang.

“Beberapa waktu lalu ada bantuan dari BUMN memberi bantuan senilai Rp 50 juta. Dari donatur swasta juga ada berupa material bangunan,” tuturnya.

Sementara itu bantuan dari Pemkab Malang yang dijanjikan hingga saat ini masih dalam proses pengajuan melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Malang. Padahal, para siswa sangat membutuhkan gedung untuk mengikuti KBM secara layak.

“Pengajuan bantuannya maksimal Rp 200 juta. Tapi dengan nilai segitu, melihat kondisi kerusakan gedung sekolah sepertinya akan kurang,” ujar sambil menunjuk bangunan gedung yang retak sebagian besar itu.

“Saat ini, sambil menunggu bantuan itu turun, kami (sekolah) sedang memutar otak untuk mencukupi dana rencana rekonstruksi tersebut,” sambungnya.

Nasib yang hampir sama juga dialami oleh SDN 1 Jogomulyan, Desa Jogomulyan, Kecamatan Tirtoyudo. Akibat gempa bumi 10 April lalu, sebagian gedung sekolahnya tidak dapat ditempati.

“Dari 6 ruang kelas, hanya tersisa 3 kelas yang masih bisa ditempati. Ketiga kelas itulah yang saat ini kita tempati untuk melaksanakan ujian siswa,” ungkap salah satu guru kelas SDN 1 Jogomulyan, Sukandar.

Bahkan bantuan dari Pemkab Malang hingga saat ini juga belum juga turun. Padahal proposal yang diajukan telah dikirim melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Malang.

“BUMN katanya juga mau memberikan bantuan Rp 50 juta, tapi saat ini belum cair,” bebernya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, Rahmat Hardijono mengatakan proposal pengajuan bantuan pembangunan sekolah-sekolah terdampak gempa bumi itu sudah diajukan ke Kementerian Pendidikan. Namun terkait realisasinya, pihaknya juga masih menunggu dari pusat.

“Apabila tidak direalisasikan tahun ini maka diusahakan untuk masuk dalam program tahun anggaran 2022,” ujar Rahmat Hardijono.

Sebagai informasi, jumlah sekolah yang mengalami kerusakan di Kabupaten Malang akibat gempa bumi 10 April lalu sebanyak 226 unit. “Nilai bantuannya disesuaikan dengan kondisi kerusakan pada masing-masing sekolah,” pungkasnya.

Topik
bantuan korban gempasekolah darurat gemparaperda kota kediri

Berita Lainnya

Berita

Terbaru