PM Baru Israel Benci Palestina, Begini Reaksi Presiden Mahmoud dan Hamas

Jun 14, 2021 10:21
Naftali Bennertt, PM baru Israel (Foto: Skanska Dagbladet)
Naftali Bennertt, PM baru Israel (Foto: Skanska Dagbladet)

INDONESIATIMES - Israel baru saja memiliki perdana menteri (PM) baru, yakni politikus sayap kanan Naftali Bennertt. Ia resmi menjadi PM Israel menggantikan Benjamin Netanyahu setelah parlemen Knesset mengesahkan pemerintahan baru, Minggu (13/6/2021).

Berdasarkan perjanjian pemilihan umum, pemimpin koalisi pemerintahan baru Yair Lapid dari Partai Yesh Atid akan memberikan kursi jabatan PM kepada Bennett selama dua tahun pertama.

Bennet adalah pria keturunan imigran Amerika Serikat. Ia merupakan politikus nasionalis garis keras. 

Sebelum terjun ke dunia politik pada 2013, miliarder berusia 49 tahun itu pernah merantau ke New York dan mendirikan perusahaan rintisan, yakni Cyota, pada 1999.

Dilansir melalui Reuters, Bennett dan perusahaannya membuat aplikasi perangkat lunak anti-penipuan. Namun, pada 2005, Bennett menjual start-up-nya itu ke perusahaan keamanan AS seniai US$ 145 juta atau Rp 2 triliun.

Sejumlah pihak menilai kepemimpinan Bennett tak akan membantu mencerahkan prospek perdamaian Israel-Palestina. Bahkan, warga Palestina menganggap kepemimpinan Bennett ini sebagai pukulan yang semakin menjauhkan mereka dari harapan perdamaian dengan Israel dan kemerdekaan.

Hal itu dikarenakan selama ini Bennett dikenal sebagai penentang solusi dua negara dalam penyelesaian konflik Israel-Palestina. Solusi dua negara ialah salah satu gagasan perdamaian yang selama ini didukung komunitas internasional. Dari solusi itu, Israel dan Palestina masing-masing mendirikan sebuah negara merdeka yang hidup berdampingan secara damai.

"Selama saya memiliki kekuatan dan kendali, saya tidak akan menyerahkan satu sentimeter pun tanah Israel," ucap Bennett dalam sebuah wawancara pada Februari 2021.

Ia bahkan pernah mengatakan bahwa pembentukan negara Palestina merupakan tindakan bunuh diri bagi Israel. Bannett beralasan hal tersebut dengan terkait faktor keamanan warga Israel.

Pada 2013, Bennett juga pernah berpidato dan menyebutkan "warga Palestina yang merupakan teroris" harus dibunuh daripada dibebaskan. "Saya telah membunuh banyak orang Arab di hidup saya dan itu tidak masalah," ucap mantan komando Israel itu beberapa waktu lalu. 

Saat menjabat sebagai menteri pertahanan Israel era Netanyahu, Bennett juga pernah menentang penghentian rencana aneksasi Tepi Barat, Palestina. Namun, rencana pencaplokan Tepi Barat itu akhirnya dibatalkan setelah Israel menormalisasi hubungan dengan Uni Emirat Arab.

Reaksi Presiden Palestina dan Hamas

Presiden Palestin Mahmoud Abbas dan perwakilan Hamas mengaku tak peduli dengan pemerintahan baru Israel di bawah PM Naftali Bennett. 

"Itu merupakan urusan dalam negeri Israel. Posisi kami tetap sama. Yang kami mau adalah negara Palestina dengan perbatasan yang disepakati pada 1967 dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya," ujar juru bicara Abbas, Nabil Abu Rudeineh. 

Pendapat serupa juga disampaikan juru bicara Hamas, Fawzi Barhoum. Dia menyatakan  pihaknya tak peduli atas perubahan pemerintahan di Israel.

"Tak peduli bentuk pemerintahan di Israel. Itu semua tak akan mengubah cara pandang kami terhadap entitas Zionis. Mereka merupakan entitas okupasi dan kolonial, yang harus kami lawan dengan kekuatan demi mendapatkan hak kami kembali," ujar Barhoum.

Pernyataan itu disampaikan setelah sejumlah pihak menganggap akan ada sedikit perubahan sikap Israel terhadap Palestina karena kabinet baru mereka menggandeng sejumlah partai Arab.

Topik
Shimon PeresPresiden Palestina Mahmoud abasKendalikan covid 19

Berita Lainnya

Berita

Terbaru