Tak Banyak yang Tahu, Ilmuwan Albert Einstein Pernah Menolak Jadi Presiden Israel

Jun 12, 2021 10:38
Albert Einstein (Foto: Lebanese Forces)
Albert Einstein (Foto: Lebanese Forces)

INDONESIATIMES - Konflik antara Palestina dan Israel hingga kini masih belum mereda. Terbaru, polisi Israel disebut telah menyerang warga Palestina yang sedang melaksanakan ibadah salat.

Peristiwa itu terjadi pada Kamis (10/6/2021) malam waktu setempat di luar Gerbang Damaskus, Kota Tua, Yerusalem Timur. Sejumlah polisi dikabarkan memukul beberapa warga dengan tongkat. 

Melansir melalui Anadolu Agency, Bulan Sabit Merah Palestina mengatakan, 10 orang terluka. Salah satu dari mereka dibawa ke rumah sakit, dan yang lainnya dirawat oleh tim medis di tempat kejadian.

Sebelum peristiwa itu terjadi, anggota parlemen sayap kanan Israel Itamar Ben-Gvir, atau yang dikenal sebagai sekutu dekat Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, ingin membuat pernyataan publik di depan Gerbang Damaskus. Hal itu lantas dinilai akan memperburuk ketegangan yang terjadi antara Israel dan Palestina.

Warga Palestina yang memprotes Ben-Gvir itu pun lantas diserang oleh polisi Israel dengan menggunakan granat kejut. Beberapa warga Palestina, termasuk anak-anak bahkan ditangkap.

Ben-Gvir mengatakan, pihaknya akan memaksa masuk ke kompleks Masjid al-Aqsa di Yerusalem Timur yang didudukinya. Niatnya dilakukan saat belum lama ini terjadi konflik antara polisi Israel dan warga Palestina di kompleks tersebut.

Remaja Palestina ditembak mati tentara Israel

Selain insiden serangan itu, terdapat pula remaja Palestina yang dikabarkan ditembak mati oleh tentara Israel. Penembakan itu terjadi di Tepi Barat pada Jumat (11/6/2021) waktu setempat. 

"Mohammad Said Hamayel (15) tewas dalam bentrokan," kata kata Bulan Sabit Merah Palestina, seperti dilansir AFP. 

Bulan Sabit Merah menambahkan jika penembakan itu terjadi di dekat Beita, selatan Nablus. Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan 6 korban lainnya terluka oleh tembakan langsung. 
Terkait peristiwa ini, tentara Israel enggan memberikan tanggapan. Menurut kantor berita Palestina, Wafa, kekerasan itu terjadi selama "protes publik terhadap pembangunan pos pemukiman kolonial Israel di dekat desa,". 

Aksi itu ditanggapi oleh tentara dengan melancarkan tembakan dan gas air mata. Kematian remaja itu terjadi sehari setelah 3 warga Palestina dibunuh oleh pasukan khusus Israel dalam misi menangkap tersangka 'teroris' di Tepi Barat.

Albert Einstein pernah menolak jadi presiden Israel

Tak banyak yang tahu, ternyata ilmuwan Albert Einstein hampir saja menjadi Presiden Israel. Tawaran itu, awalnya datang dari Chaim Weizzman, yang merupakan presiden Israel pertama. 

Namun, Einstein diketahui menolak tawaran tersebut. Kala itu, Chaim memberi gelar kepada Albert Einstein sebagai "orang terbesar Yahudi yang masih hidup."

Menurutnya, Einstein merupakan satu-satunya kandidat yang layak menggantikannya. Setelah kematian Weizmann pada 9 November 1952, Einstein, yang tampaknya cocok, diharapkan jadi penerus.

Kedutaan Besar Israel lantas mengirim surat kepada Einstein, yang secara resmi menawarkannya posisi presiden. Einstein pun dijanjikan bahwa, dia tak perlu khawatir, posisi pentingnya sebagai presiden tidak akan mengganggu kepentingannya yang lain.

Bahkan Perdana Menteri Israel pun turut meyakinkan Einstein bahwa meski menjabat sebagai presiden, kebebasannya dalam dunia riset ilmiah tetap bisa dilakukan dan bahkan difasilitasi. Hal tersebut karena publik sepenuhnya sadar akan pentingnya karya ilmiah Einstein, terutama dalam bidang fisika.

Terlepas dari usia Einstein yang sudah tua, 73 tahun saat itu, ia tetap menjadi pilihan utama atas berbagai pertimbangan. Salah 1 pertimbangan utamanya yakni karena Einstein merupakan profesor keturunan Yahudi paling masyhur yang mengungsi dari Jerman ke Amerika Serikat selama Adolf Hitler berkuasa.

Selain itu, kepemimpinan Einstein sebagai salah 1 pendiri Universitas Ibrani Yerusalem diharapkan akan berguna bagi perkembangan Israel. Diketahui, ia adalah pendukung gerakan Zionis. 

Bahkan Einstein mungkin bisa menghitung matematika ekonomi negara dan memahaminya. Kendati demikian, tidak terlalu mengejutkan sebenarnya, semua tawaran yang menggiurkan itu justru ditolak Einstein. 

"Saya sangat tersentuh. Tapi, tawaran dari Israel harus saya tolak dengan rasa sedih dan malu," pungkas Albert Einstein kala itu.

Ia bersikeras bahwa dirinya tidak memenuhi syarat sebagai presiden. Menolak dengan rendah hati, Einstein menyebut jika usianya sudah tua, pengalamannya kurang di dunia politik, dan keterampilannya tidak memadai sebagai pemimpin komunitas Yahudi. 

Secara keseluruhan, Einstein menilai dirinya bukan pilihan yang baik untuk menjadi presiden kedua di Israel. Namun ada yang memperkirakan jika aksi penolakannya ini memiliki alasan tersendiri. 

Ini terkait dengan ketidaksetujuan Einstein terhadap proses pembentukan negara Israel. 10 tahun sebelum Israel terbentuk, Einstein pernah mengeluarkan pernyataannya.  

Ia menggambarkan pembentukan Israel sebagai sesuatu yang bertentangan dengan Yudaisme. Einstein bahkan mengungkapkan jika ia tak mengerti mengapa Israel dibutuhkan. "Saya percaya itu hal yang buruk," katanya.

Pada tahun 1948, ia dan sejumlah akademisi Yahudi lantas menulis surat ke koran New York Times. Memprotes kedatangan Menachem Begin ke Amerika.

Ia mengecam partai politik Begin, Herut yang ia samakan dengan NAZI dan Fasis. Partai Herut merupakan nasionalis sayap kanan yang kelak menjadi Likud, tempat Benjamin Netanyahu bernaung.

Einstein muak bukan tanpa sebab. Kelahiran Israel kala itu dipenuhi intrik politik dan kekejaman, termasuk pembantaian Deir Yassin di Yerusalem Barat tahun 1948.

Saat itu, sekitar 120 pasukan Israel yang dipimpin oleh Yithzak Shamir memasuki desa Palestina dan membantai sekitar ratusan pria, wanita, dan anak-anak. Mereka ditembak, digranat dalam rumah, para lelaki disiksa, dan para wanita diperkosa.

Einstein pun membuat sebuah surat yang ditujukan kepada Shephard Rifkin, Direktur Eksekutif American Friends of Fighters for the Freedom of Israel.

Kelompok itu bertujuan untuk mengampanyekan anti Inggris di Kawasan Palestina. Kala itu, Einstein diminta sebagai salah 1 penggalang dana.

Namun, dalam suratnya, Einstein menunjukkan sikap yang jelas. 

"Yang terhormat,

Ketika bencana nyata harus menimpa kita di Palestina, yang pertama bertanggung jawab adalah Inggris. Yang kedua adalah organisasi teroris dari barisan kita sendiri. Saya tidak ingin melihat siapa pun yang terkait dengan orang-orang yang disesatkan dan kriminal itu.

Hormat kami,

Albert Einstein."

Topik
Albert EinsteinFakta Fakta Albert Einsteinsdn ajung 03Shimon Peres

Berita Lainnya

Berita

Terbaru