Buntut Dugaan Kekerasan Seksual, Koalisi Children Protection Malang Raya Minta Pendaftaran Siswa Baru SPI Ditutup

Jun 09, 2021 15:45
Acara konfrensi pers menyikapi laporan dugaan kekerasan fisik, psikis dan sexual serta ekslpoitasi tenaga kerja yang terjadi di SMA SPI Kota di Omah Koempoel, Rabu (9/6/2021) (foto: Mariano Gale/Jatim Times)
Acara konfrensi pers menyikapi laporan dugaan kekerasan fisik, psikis dan sexual serta ekslpoitasi tenaga kerja yang terjadi di SMA SPI Kota di Omah Koempoel, Rabu (9/6/2021) (foto: Mariano Gale/Jatim Times)

BATUTIMES- Menyikapi laporan dugaan kekerasan fisik, psikis dan seksual serta eksploitasi tenaga kerja yang terjadi di SMA SPI Kota Batu, Koalisi Children Protection Malang Raya berharap agar Dinas Pendidikan Jawa Timur dan Pemkot Batu bekerjasama memastikan siswa yang saat ini berada dalam lingkungan SPI tetap mendapatkan haknya belajar dan menuntut ilmu dengan aman tanpa rasa takut.

Namun untuk operasional bisnis yang ada di dalam sekolah, dia meminta agar bisa dihentikan sementara. Sehingga tak terjadi peristiwa serupa di  Kota Batu. Pihaknya mengaku siap berkolaborasi dengan pemerintah dan organisasi masyarakat untuk membangun SOP pencegahan kekerasan di sekolah-sekolah sebagai salah satu bentuk mitigasi.

"Kami meminta kepada Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur agar menghentikan sementara proses penerimaan peserta didik baru di SPI tahun ajaran 2021-2022 sampai kasus ini berkekuatan hukum tetap/incrach," ujar perwakilan koalisi, Salma Safitri didampingi Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait di Omah Kumpul, Rabu (9/6/2021).

Selain itu juga, Salma terus mendorong agar pihak kepolisian segera mengungkap dugaan kekerasan fisik, psikis dan seksual serta eksploitasi tenaga kerja yang terjadi di sekolah tersebut.

"Kami akan mendorong terus, agar pihak kepolisan terus menguyupakan proses penyelidikan yang saat ini dilakukan oleh Polda Jatim dengan bekerja jujur," ujarnya.

Kemudian, pihaknya akan mendorong agar para korban dan keluarganya mendapat pendampingan psikologis dari psikolog klinis atau psikiater dari lembaga hingga institusi yang kompeten, termasuk LPSK untuk menguatkan mereka melewati masa-masa sulit ini.

"Hal ini sangat penting dengan mengatasi taruma yang dialami korban. Agar bisa mengatasi trauma atas apa yang dialami," ujarnya.

Diketahui, dalam konfrensi pers tersebut juga dihadiri ole Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait.

Perlu diketahui juga, Koalisi Children Protection Malang Raya merupakan gabungan beberapa organisasi antara lain EFH/Equality For Humanity, GAMKI, IKatan Pelajar Putri NU/IPPNU, Ikatan Pelajar NU/IPNU, Jaringan Gusdurian Kota Batu, KPuK Malang, Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik, Lembaga Perlindungan Anak/LPA Batu, Paralegal Kota Batu, Paralegal Kota Malang, P2TP2A Kota Batu, Pemuda Katolik Komisariat Cabang Kota Batu, PPHG UB, MPC Pemuda Pancasila, PC Muslimat NU Kota Batu, Rumpun - Ruang Mitra Perempuan, Suara Perempuan Desa (SPD) Batu, Student Crisis Centre /SCC Malang, TALITHA KUM Indonesia Jaringan Malang Raya, dan WCC Dian Mutiara Malang.

Topik
Pelecehan seksualdugaan pelecehan seksualalumni sma spi kota batuKota Batu

Berita Lainnya

Berita

Terbaru