Heboh Wacana Duet AHY-Airlangga di Pilpres 2024, Bak Nostalgia SBY-JK

Jun 07, 2021 09:04
AHY-Airlangga Hartanto (Foto: Kompas.com)
AHY-Airlangga Hartanto (Foto: Kompas.com)

INDONESIATIMES - Publik saat ini dihebohkan dengan dugaan duet 2 ketua umum (ketum) partai Demokrat dan Golkar, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dengan Airlangga Hartarto pada Pilpres 2024. 

Duet AHY-Airlangga ini diibaratkan nostalgia kemesraan Demokrat dengan Golkar saat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Jusuf Kalla (JK) yang berhasil terpilih menjadi presiden dan wakil presiden pada Pilpres 2004 silam.

Ada andil Deputi Analisa Data dan Informasi Balitbang DPP Demokrat Syahrial Nasution sehingga wacana duet AHY-Airlangga ini bisa muncul.

"Koalisi Demokrat dan Golkar pada Pilpres 2024 berpeluang untuk penyelamatan ekonomi di masa depan," ujar Syahrial melalui akun Twitter @syahrial_nst, Minggu (6/6/2021).

Keyakinan akan koalisi Demokrat-Golkar terulang diselipkan oleh Syahrial. AHY-Airlangga diyakini mampu untuk mengembalikan sejatinya sebuah demokrasi.

"Masa-masa gemilang pemerintahan @SBYudhoyono dan @Pak_JK sangat mungkin diulang kembali oleh @AgusYudhoyono dan @airlangga_hrt. Kombinasi ini pun akan mampu mengembalikan demokrasi pada relnya," imbuh cuitan Syarial.

Sayangnya, dorongan duet AHY-Airlangga ini tidak mendapatkan respons positif. Sebab, Golkar dalam musyawarah nasional (munas) 2019 lalu sudah memilih siapa capres mereka, yang tak lain adalah Airlangga.

"Kalau AHY capres, saya diam saja deh," ujar Ketua DPP Golkar Dave Laksono. 

"Capres Golkar sudah putus saat munas yang lalu," imbuhnya.

Untuk diketahui, dalam dunia politik tentu tidak ada sesuatu yang pasti. Semua masih bisa berubah, termasuk keputusan siapa capres Golkar. Hal itu pun juga diisyaratkan oleh Syahrial. Di mana, sebetulnya Demokrat juga belum memutuskan secara resmi AHY akan diusung sebagai capres untuk Pilpres 2024.

"Partai Demokrat memang belum ada keputusan resmi terkait posisi capres atau cawapres pada Pilpres 2024, seperti yang dilakukan oleh Partai Golkar lewat rapimnas yang sudah menetapkan Airlangga Hartarto sebagai capres 2024," terang Syahrial.

Tak bisa dipungkiri, salah satu hal penting dalam menghadapi Pilpres 2024 yakni komunikasi antarpartai. Demokrat dan Golkar memang memiliki modal bagus untuk saling bergandengan.

"Namun, untuk menghadapi Pileg dan Pilpres 2024, penting dilakukan komunikasi politik yang strategis untuk kepentingan bangsa yang lebih baik ke depannya. Keniscayaan komposisi suara antara Golkar dan Demokrat yang memperoleh 20% suara apabila berkoalisi pada Pilpres 2024, tentu jadi dasar dan modal untuk membangun sebuah koalisi strategis," papar Syahrial.

Syahrial juga mengatakan ada 1 hal yang juga penting dalam membangun koalisi yakni kesamaan niat. Pengalaman Demokrat dan Golkar membangun Indonesia ini dalam satu trek yang sama juga tidak bisa dikesampingkan.

"Yang penting nawaitunya adalah membangun koalisi strategis untuk kebaikan bangsa. Masa-masa terbaik pertumbuhan ekonomi dan proses demokrasi yang pernah dibuktikan pemerintahan SBY-JK, hingga dilanjutkan SBY-Boediono tentu jadi pengalaman baik antara Demokrat dan Golkar dalam membesarkan bangsa ke depan," tutur Syahrial. 

Topik
sby jkCapres 2024Airlangga HartartoDemokrat Golkarpemeran sinetron suara hati istriAgus Harimurti Yudoyonoberita politik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru