Selain Dugaan Kekerasan Seksual, Sekolah SPI Diduga Lakukan Eksploitasi Ekonomi

Jun 02, 2021 18:10
Komisi E DPRD Jatim dan Dinas Pendidikan Provinsi Jatim meninjau SMA SPI Kota Batu, Rabu (2/6/2021) (foto: Mariano Gale/ JatimTIMES)
Komisi E DPRD Jatim dan Dinas Pendidikan Provinsi Jatim meninjau SMA SPI Kota Batu, Rabu (2/6/2021) (foto: Mariano Gale/ JatimTIMES)

BATUTIMES-Selain diketahui dugaan melakukan kekerasan seksual terhadap para siswa-siswinya, SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI) Kota Batu juga diduga melakukan eksploitasi ekonomi terhadap para siswa-siswi maupun alumni. Sebab, SPI sendiri memiliki hotel yang pendiri serta pekerjanya para alumni.

Dalam kunjungannya ke SPI, Wakil Ketua Komisi E DPR Jatim, Hikmah Bafakeh membenarkan bahwa SPI memiliki hotel yang didirikan dan para pekerjanya para alumni SPI. Terkait hal itu, pihaknya meminta agar Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Dinas Pendidikan serta Dinas Tenaga Kerja untuk melakukan evaluasi.

"Kita harus melakukan telaah dan menstandartkan. Kira-kira dengan sekolah kayak gini itu boleh memberikan beban kerja seperti apa? Agar tidak masuk ke ranah bentuk-bentuk pekerjaan buruk bagi anak-anak. Karena itu dilarang oleh konfensi hak anak," ungkapnya.

Hikmah juga mengungkapkan, sekitar 200 orang yang tinggal di asrama. Di antara para siswa-siswi dan juga para alumni. Namun, karena proses pembelajaran secara offline maupun daring, kini hanya terhitung 80 orang saja yakni para siswa-siswi.

"Pengakuan mereka memang sebagai alumni yang suka rela meneruskan bisnis PT yang katanya PT itu didirakan oleh para alumni. Seharusnya seperti itu, jika mereka benar sebagai pekerja, maka bagaimana proses pengelupasan dan perlindungan mereka. Nah, apabila alumni ini di bilang pekerja formal, maka ya harus dinilai sebagai pekerjaan formal. Itulah maka kami meminta dinas tenaga kerja untuk hadir juga," jelasnya.

"Kita tidak ingin kemudian beranggapan yang salah. Apakah sudah benar pihak Kemendikbud menetapkan sekolah ini sebagai sekolah penggerak? Kan harus terkonfirmasi, agar tidak terjadi ricuh. Namun kita tetap mendukung agar sekolah ini terbuka melakukan perbaikan apabila ada kesalahan, dan mereka menyetujui itu," imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jawa Timur, Andriyanto menambahkan, pihaknya akan melakukan kajian terkait eksploitasi ekonomi terhadap para pelajar maupun siswa-siswi.

"Kita akan melakukan kajian, bahwa apakah betul di sini disinyalir ada eksploitasi ekonomi. Apakah sebenarnya mereka itu bukan sekolah atau sekolah tapi juga mereka bekerja. Dari sekilas ini tadi memang belum ada indikasi, tapi kita akan kaji lebih lanjut," ujarnya.

Topik
kasus sekolah spiSMA Selamat Pagi Indonesiarisna amaliakasus spikasus gratifikasi edi rumpokoPelecehan seksual

Berita Lainnya

Berita

Terbaru