Di Hari Lahir Pancasila, Linksos Luncurkan SWI, Apa Itu?

Jun 01, 2021 20:25
Linksos saat berfoto di bengpro (foto: Linksos for MalangTIMES)
Linksos saat berfoto di bengpro (foto: Linksos for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Tepat pada perayaan Hari Lahir Pancasila, organisasi difabel penggerak inklusi sosial Indonesia meluncurkan Sekolah Warga Inklusi (SWI) di Bengkel Produksi (Bengpro) Perumahan Bedali Indah, Jalan Pisang Kipas C5 Nomor 22 Desa Bedali, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang.

Ketua Dewan Pembina Linksos, Kertaning Tyas mengatakan, bahwa peluncuran SWI sekaligus untuk memaknai Hari Lahir Pancasila. Dirinya menyebut, latar belakang SWI adalah bentuk kepedulian terhadap upaya pencerdasan masyarakat. Hal itu karena selama ini konsep pendidikan masih cenderung terpaku pada sekolah dan perguruan tinggi.

“Sedangkan ilmu pengetahuan juga bersumber dari warga masyarakat, lingkungan serta alam semesta,” kata Tyas.

Menurut Tyas, ilmu pengetahuan di masyarakat bahkan pada tataran praktik langsung, sehingga sekolah warga yang bernarasumber dari warga tersebut nantinya akan bersifat tepat guna sesuai kebutuhan masyarakat sekitar.

“Kebaikan lainnya, SWI bisa dengan mudah diakses atau dimanfaatkan oleh siapapun, tanpa biaya dan tanpa membedakan latar belakang sosial,” ungkapnya.

Untuk model pembelajaran Sekolah Warga Inklusi (SWI), Tyas menjelaskan yang pertama dengan menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya, baik secara teori maupun praktik untuk memantik diskusi, kemudian peserta memberikan tanggapan serta tanya jawab. Kedua, pembelajaran SWI melalui talkshow di youtube, TV, radio, media online, dan saluran lainnya, agar bisa diakses oleh masyarakat di berbagai wilayah.

“Lokasi pembelajaran SWI sangat fleksibel, bisa di dalam ruangan, luar ruangan, bahkan di alam terbuka. Sekolah ini juga memperbolehkan pembelajaran di fasilitas umum, seperti balai desa, pendopo kecamatan, tempat wisata, hingga gedung DPRD,” jelas Tyas.

Sementara itu, materi SWI meliputi segenap ilmu pengetahuan yang dibutuhkan oleh masyarakat luas dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari bidang ekonomi, sosial, pendidikan, budaya, kesehatan, politik, olahraga, dan lainnya.

Beberapa contoh kasus dalam masyarakat, misalnya menyikapi adanya laka lantas, kebakaran, pencurian dan lainnya “Sementara kerap kali kita tak memiliki kontak-kontak penting terkait persoalan tersebut. Atau ketika belum lama Malang beberapa kali terdampak gempa, apa yang sebaiknya dilakukan? Sebagian masyarakat nampak gagap bencana sehingga rentan menjadi korban,” kata Tyas.

Tyas juga mencontohkan, kerap kali ketika masa pencalonan kepala daerah, masyarakat diperlihatkan poster-poster paslon yang terpaku di pohon-pohon. Jika berdasar pada aturan, itu merupakan pelanggaran pemilu, namun sebagian masyarakat abai sebab tak tahu tersebut sebagai pelanggaran.

“Atau justru tak mengerti bagaimana menyikapi pelanggaran tersebut, kemana harus melapor dan sebagainya,” pungkasnya.

Topik
model sekolah warga inklusiHari Lahir Pancasilakapolresta malang kota digantiKertaning Tyas

Berita Lainnya

Berita

Terbaru