Menuju Desa Damai dan Setara, Desa Gunungrejo Deklarasikan Diri Jadi Desa Damai

Jun 01, 2021 09:16
Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko (tengah) bersama Mujtaba Hamdi, Direktur Eksekutif Wahid Foundation saat berfoto bersama di Pendapa Kecamatan Bumiaji, Senin (31/5/2021). (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)
Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko (tengah) bersama Mujtaba Hamdi, Direktur Eksekutif Wahid Foundation saat berfoto bersama di Pendapa Kecamatan Bumiaji, Senin (31/5/2021). (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Cuaca cerah pada Minggu pagi, (31/5/2021) menyelimuti wahana wisata pertanian Kedok Ombo di Desa Gunungrejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Hiruk pikuk pengunjung bercampur dengan masyarakat Desa Gunungrejo yang mengikuti kegiatan Deklarasi Desa Damai pada pagi itu.

Deklarasi Desa Damai Gunungrejo tersebut terlaksana berkat kerjasama dengan Wahid Foundation yang berkolaborasi dengan UN Women dalam program Women Participation for Inclusive Society (WISE) yang memiliki tujuan besar mendorong pemberdayaan perempuan dalam upaya membangun masyarakat yang damai dan mandiri.

Sejumlah pihak juga terlihat hadir dalam Deklarasi tersebut, di antaranya;, Muhammad Zaim Al-Khalish Nasution (Direktur Regional Multilateral BNPT), Mujtaba Hamdi, Direktur Eksekutif Wahid Foundation, Asisten Bupati Kabupaten Malang, Hari Krisparyitno, Camat Singosari, Samsul Hadi.

Selanjutnya Kepala Desa Gunungrejo, dan sejumlah tokoh dari berbagai elemen masyarakat setempat termasuk juga seluruh anggota Kelompok Kerja (Pokja) Desa Damai Gunungrejo dan sejumlah Pokja lain di Jawa Timur yang telah lebih dulu mendeklarasikan diri menjadi Desa Damai seperti Desa Candirenggo dan Sidomulyo, termasuk Suhendar SP, Kepala Kelurahan Durenseribu Kota Depok yang diundang secara khusus mengikuti Deklarasi.

Dalam sambutan pengantar, Direktur Ekstekutif Wahid Foundation, Mujtaba Hamdi menjelaskan program Desa Damai. Menurut Pria yang akrab disapa Mujtaba tersebut, Program Desa Damai ini sudah dilaksanakan sejak tiga tahun terakhir di tiga provinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.

Program ini digagas Wahid Foundation berkolaborasi dengan UN Women untuk menguatkan resiliensi masyarakat dari paham ekstremis yang bisa memprovokasi terjadinya konflik di tengah masyarakat melalui integrasi pendekatan pencegahan konflik dan pembangunan ekonomi dengan menggandeng kelompok perempuan dengan dibentuknya Kelompok Kerja (Pokja) Desa Damai.

“Program Desa Damai yang diinisiasi WF dan bekerjasama dengan UN Women dalam program Women Participation for Inclusive Society (WISE) yang bertujuan mendorong perlibatan perempuan dalam upaya membangun masyarakat yang damai dan mandiri,” kata Taba.

“Sebagai lembaga yang fokus pada perjuangan membangun toleransi dan perdamaian di Indonesia, Wahid Foundation merasa perlu untuk menyebarkan nilai-nilai perdamaian melalui penguatan kohesi sosial dengan menggandeng perempuan pedesaan, salah satunya di Desa Gunungsari,” lanjutnya

Program ini adalah program yang digagas WF bekerjasama dengan UN Women untuk mencoba meningkatkan ketahanan masyarakat, harapannya melalui program Desa Damai berbasis komunitas terbangun karakter masyarakat yang bisa hidup rukun, damai, dan setara di tengah perbedaan.

Turut Hadir memberikan arahan Muhammad Zaim Al-khalish Nasution, Direktur Kerjasama Regional dan Multilateral Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Pihaknya menegaskan bahwa pentingnya membangun kesadaran berbasis komunitas di Desa untuk bersama – sama memperkuat persatuan dan perdamaian melalui program Desa Damai. Upaya ini adalah bentuk nyata mencegah adanya intoleransi dan ekstremisme kekerasan yang saat ini menjadi tantangan nyata di Indonesia. 

“BNPT bersama beberapa kementerian dan lembaga saat ini sedang mempersiapkan pelaksanaan Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Ekstremisme Kekerasan (RAN PE) yang baru saja disahkan melalui Pepres No. 7 Tahun 2021. Desa Damai ini tentu sejalan dengan apa yang akan kita lakukan melalui RAN PE.” tegas Zaim dalam sambutannya. 

Kegiatan yang  berjalan dengan penerapan Protokol Kesehatan ketat tersebut dibuka dengan pengenalan Wahana Wisata Kedok Ombo yang menjadi pusat wisata dan edukasi pertanian bagi masyarakat Desa Gunungrejo dan sekitarnya di Kabupaten Malang oleh Samsul Hadi selaku Kepala Desa Gunungrejo.

Samsul yang terlihat begitu antusias menyambut tamu undangan dalam kegiatan Deklarasi Desa Damai menilai bahwa, Deklarasi tersebut menjadi media untuk mewujudkan dan memperkenalkan desanya untuk menjadi desa yang damai dan ramah bagi semua kalangan tanpa membeda-bedakan gender atau kelompok lainnya.

Melalui pengembangan Wahana Wisata Pertanian salah satunya, dirinya mengusung perdamaian melalui pendekatan ekonomi dan pusat pendidikan pertanian yang selama ini menjadi salah satu penghasilan utama masyarakat Desa Gunungrejo, selain tentunya ada sumber pengasilan lain seperti home industry seperti pembuatan kue pia, kripik singkong, sandal bakiak, keset, dan shuttlecock.

“Kami berterima kasih kepada semua pihak atas terlaksananya Deklarasi Desa Damai ini. Kami mengiginkan desa kami tercinta menjadi desa damai dan setara bagi semua kalangan dengan upaya-upaya yang kami lakukan salah satunya melalui pendekatan ekonomi dalam pengembangan desa wisata pertanian ini,” ungkapnya ketika membuka kegiatan Deklarasi Desa Damai tersebut.

Program Desa Damai tersebut juga memberikan sumbangsih bagi pembangunan, yaitu realisasi program yang sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2021 yang baru disahkan pada Januari lalu tentang Rencana Aksi Pencegahan dan Penanggulangan Ektremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAN PE) dan Rencana Aksi Nasional Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak dalam Konflik Sosial (RAN P3A-KS).

Sementara itu, Jamsheed Kazi, UN Women Representative and Liaison to ASEAN sebagai perwakilan dari UN Women turut memberikan sambutan melalui video  dalam kegiatan Deklarasi tersebut. Menurutnya peran aktif perempuan dalam pencegahan konflik sangatlah penting.

“Tanpa partisipasi aktif perempuan dan peningkatan kapasitas dalam menangani konflik di tingkat komunitas, kohesi sosial secara luas tidak dapat dicapai,” ujarnya.

“Di bawah program Desa Damai, UN Women dan Wahid Foundation mendorong pelibatan perempuan sebagai agen perubahan dalam memperkuat toleransi dan solidaritas di komunitas,” tambah Jamsheed.

“Akan sangat bermanfaat apabila inisiatif yang melibatkan kepemimpinan perempuan dan pendekatan berbasis komunitas dalam mendorong komunitas yang tangguh dan perdamaian berkelanjutan di Indonesia ini, direplikasi di tingkat regional.” ungkapnya.

Melalui asistennya, Bupati Kabupaten Malang yang berhalangan hadir juga memberikan sambutan dan kesannya terhadap Program Desa Damai. Menurutnya, Program Desa Damai perlu dikembangkan selain untuk mencegah dan meredam segala aksi, sikap, dan tindakan yang intoleran maupun ekstrem, juga sebagai upaya untuk mendorong partisipasi perempuan di tingkat lokal, sekaligus untuk memperkuat perspektif gender yang dapat menempatkan posisi perempuan sebagai bagian dari kerangka penting dalam pembangunan berkelanjutan.

Menjelang siang, Deklarasi Desa Damai Gunungrejo tersebut diresmikan dengan ditandai pelepasan burung merpati dan penandatangan prasasti Desa Damai oleh Bupati Kabupaten Malang, Direktur Eksekutif Wahid Foundation, Camat Singosari, Kepala Desa Gunungrejo, dan Pokja Desa Gunugrejo.

Topik
desa gunungrejodesa damai malangKabupaten Malangprogram desa damaidesa damai malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru