Merasa Diteror, Kuasa Hukum Guru TK Kasus Pinjol Adukan 84 Nomor HP DC ke Polresta Malang Kota

May 21, 2021 08:36
Kuasa Hukum Guru TK yakni Slamet Yuono (dua dari kiri) bersama kliennya yakni Guru TK berinisial S (paling kanan) ketika di Polresta Malang Kota, Kamis (20/5/2021). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTIMES)
Kuasa Hukum Guru TK yakni Slamet Yuono (dua dari kiri) bersama kliennya yakni Guru TK berinisial S (paling kanan) ketika di Polresta Malang Kota, Kamis (20/5/2021). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Kerumitan kasus pinjaman online (pinjol) yang menyebabkan seorang Guru TK berinisial S (40) di wilayah Kecamatan Sukun, Kota Malang terlilit hutang hingga puluhan juta, akhirnya mulai menyentuh ke ranah hukum.

Pasalnya, Guru TK berinisial S ini merasa dirinya kerap kali diteror melalui saluran telepon oleh kawanan Debt Collector (DC) dari 19 perusahaan pinjol ilegal yang mencapai hingga 84 nomor handphone. 

Kuasa Hukum S yakni Slamet Yuono mengatakan, bahwa adanya teror 84 nomor handphone terhadap kliennya tersebut menyebabkan keresahan pada diri S. 

"Disampaikan ada kurang lebih 84 nomor telepon yang meneror ibu S. Bahkan sampai tadi malam masih melakukan teror. Mengatakan hal yang tidak pantas kepada seorang perempuan. Di mana 84 nomor itu dimiliki 19 pinjol ilegal yang menyebutkan lembaga-lembaga yang berganti-ganti," ungkapnya kepada MalangTIMES.com. 

Mendapati dampak teror yang dilakukan oleh 84 nomor handphone debt collector untuk menagih hutang S tersebut, maka Slamet bersama timnya serta S langsung membuat aduan ke Polresta Malang Kota

"Dari kepolisian menyampaikan hasil pengaduan dan pemeriksaan ini akan diserahkan kepada atasan, untuk selanjutnya ada disposisi siapa penyidik yang menangani. Selanjutnya, penyidik tersebut mengirimkan SP2HP atas perkara Ibu S," ujarnya. 

Setelah itu akan dilakukan pemeriksaan saksi-saksi serta alat bukti untuk mendukung penyelidikan kasus teror debt collector terkait hutang pinjol yang dilakulan oleh S. "Lalu ada pemeriksaan saksi beberapa dan ada alat bukti yang lainnya untuk selanjutnya apabila kasus ini memenuhi unsur pidana," terangnya. 

Dengan lantang dan tegas, Slamet mengatakan bahwa kasus teror ancaman pembunuhan hingga teror kata-kata tak pantas lainnya oleh debt collector yang menyasar S karena telah meminjam uang melalui pinjol hingga terlilit utang puluhan juta tersebut telah memenuhi unsur pidana. 

"Sangat jelas terkait dengan UU ITE katakanlah pencemaran nama baik kemudian akses daya secata ilegal dan ancaman bahkan ancaman menyangkut nyawa dan teror. Segala macam itu semua ada di UU ITE dan ada di KUHP juga," jelasnya. 

Lebih lanjut Slamet menuturkan, dengan adanya aduan yang telah disampaikan oleh pihaknya, harapannya jajaran penyidik Polresta Malang Kota dapat bertindak secara maksimal untuk mengentaskan kasus ini sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku 

"Kami yakin kepolisian dengan alatnya yang canggih dan niatnya yang tulus untuk kemanusiaan, kami harapkan Polresta Malang Kota benar-benar bisa mengangkat dan meningkatkan perkara ini menjadi penyidikan dan ditetapkan tersangkanya," tandasnya.

Sementara itu, seperti yang telah diberitakan sebelumnya, Guru TK S ini awalnya meminjam uang di lima perusahaan pinjol legal dengan total sebesar Rp 2,5 juta pada tahun 2020. Utang tersebut digunakan oleh S untuk membayar uang kuliah dirinya pada program S1 (Strata-1).

Menurut pengakuan S, dirinya menempuh kuliah S1 dikarenakan tuntutan dari lembaga TK di mana ia mengajar. Akhirnya pinjaman Rp 2,5 juta telah didapat untuk membayar kuliah, namun masa tenggat peminjaman uang di perusahaan pinjol tersebut hanya satu minggu dan bunganya mencapai 100 persen. 

Akhirnya S menggunakan metode gali lubang tutup lubang untuk membayar utangnya di perusahaan pinjol melalui 19 perusahaan pinjol lainnya. Total perusahaam pinjol sebanyak 24 perusahaan yang di mana menurut pengakuan S bahwa utangnya mencapai Rp 40 juta. 

Dengan hutang yang mencapai puluhan juta tersebut, S mengaku depresi dan sempat untuk berniat bunuh diri. Akhirnya S menceritakan permasalahannya ini ke keluarga dan lembaga pendidikan di mana ia mengajar. 

Ternyata, nahas S malah dipecat dari lembaga di mana ia mengajar sebelumnya. Diungkapkan S lembaga pendidikan tersebut merasa malu atas permasalahan yanh menimpa S. Untungnya dari pihak Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang telah bersiap memberikan alternatif S untuk dapat mengajar kembali.

Topik
slamet yuonopinjol ilegalKota MalangPolres Malang Kota
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru