Skandal Tipu Daya Para 'Syekh' kepada Calon Jamaah Haji di Zaman Kolonial

May 17, 2021 11:33
Jamaah haji di zaman kolonial (Foto: Historia)
Jamaah haji di zaman kolonial (Foto: Historia)

INDONESIATIMES - Penipuan terhadap calon jemaah haji ternyata banyak terjadi di Indonesia sejak dahulu. Ratusan tahun silam, atau di zaman kolonial Belanda banyak beberapa agen haji yang menipu para jamaah. 

Pada zaman saat berangkat ke tanah suci adalah persoalan hidup dan mati, para agen seakan tak peduli dan mereka tetap menipu para calon jamaah haji. Agen zaman dahulu dikenal dengan sebutan "syekh" atau "syekh haji" yang saat ini disebut sebagai agen travel haji.

Mereka bekerja memandu dan mengurus seluruh perjalanan dan tempat tinggal para jamaah haji. Para syekh pun tersebar di Indonesia dan Singapura. Dalam catatan Jacob Vredenbregt yang dihimpun di buku Indonesia dan Haji (1997), sejak dulu Singapura menjadi titik penting dalam rute Indonesia-Arab, dan menjadi pelabuhan embarkasi bagi jamaah haji dari sejumlah daerah. 

Vredenbregt juga menerangkan, jika di Singapura terdapat syekh dependen dan independen. Syekh dependen bekerja untuk syekh yang ada di Makkah. Mereka dibekali sejumlah uang untuk membayar di muka beberapa premi untuk jamaah haji yang menjadi konsumennya. Sementara syekh independen mengeluarkan uang sendiri untuk menanggung biaya di muka, lalu mereka menyerahkan jamaah haji kepada Syekh di Makkah yang menawar mereka dengan harga tertinggi.

Di Indonesia sendiri, para syekh itu berada di kota-kota bandar haji seperti Makassar, Surabaya, Jakarta, Palembang, Sabang, dan Teluk Bayur. Untuk menggaet calon jamaah haji yang ada di pedalaman, mereka bekerja sama dengan tokoh-tokoh keagamaan berpengaruh, seperti para kiai, naib, penghulu dan ustaz. 

Para ustaz pun bekerja layaknya calo. Mereka menasihati calon jamaah untuk pergi dengan memanfaatkan jasa syekh tertentu agar mereka bisa mendapatkan uang dari syekh tersebut. 

Dalam Ordonansi Haji tahun 1898 tidak tercantum ketentuan tentang tiket kapal. Artinya, tak ada aturan yang mengharuskan jemaah haji untuk membeli tiket kapal dari para syekh. 

Kondisi itu lantas dimanfaatkan para calo yang berkolusi dengan syekh untuk menipu para jemaah yang mayoritas lugu. Saat kapal-kapal haji singgah di pelabuhan transit untuk mengangkut para jamaah, mereka yang belum mempunyai tiket seolah-olah ditolong para calo yang membelikan tiket.

Namun, dengan alasan banyak permintaan, mereka menaikkan harga tinggi sehingga menguras uang para jamaah. Contoh kasus lain terjadi di Karesidenan Kedu. Para calo datang menjemput bola. Mereka mendatangi para calon jamaah haji menawarkan jasanya untuk membelikan tiket meskipun menurut maskapai pelayaran tidak banyak kursi yang tersedia di kapal yang akan ditumpangi. Harga tiket dinaikkan berkali lipat dari harga normal. 

Haji Singapura dan Kapal Barang

Banyak calon jamaah haji dari Hindia Belanda yang ingin pergi ke tanah suci, namun keuangan mereka belum mencukupi. Kondisi itu juga dimanfaatkan para syekh dengan membujuk mereka untuk tetap pergi ke Makkah.

Namun, pada kenyataannya mereka justru hanya menjadi mangsa. Saat orang-orang berduit pas-pasan itu tiba di Singapura, mereka hanya ditelantarkan. Bila mereka terus diantarkan sampai ke tanah suci, para syekh tentu saja akan merugi dan memang tidak diniatkan demikian.

Menurut Kees van Dijk dalam 'Perjalanan Haji Indonesia' yang dihimpun di buku Indonesia dan Haji, sebagian besar malah diperas terus-menerus dengan dijanjikan akan tetap diberangkatkan ke Makkah. 

Namun, janji hanya tinggal janji. Uang mereka habis dan tak bisa melanjutkan perjalanan. 

Agar tak malu saat pulang ke kampung, para calon jamaah yang masih memiliki uang akhirnya membeli surat keterangan di Singapura yang isinya menyatakan bahwa mereka telah melaksanakan ibadah haji di Makkah. Mereka kemudian dijuluki “Haji Singapura”. 

Sementara para calon jamaah haji lainnya yang kehabisan bekal dan terdampar di sejumlah pelabuhan seperti Palembang, Padang, dan Aceh melanjutkan perjalanan dengan usaha mereka sendiri. Mereka bekerja mengumpulkan uang selama 1 sampai 2 tahun atau lebih untuk melanjutkan perjalanan haji. 

Dien Majid dalam Berhaji di Masa Kolonial (2008) memberi contoh untuk kasus ini yakni rombongan calon jamaah asal Jawa dan Madura yang disebut “Haji Jawa”. Setelah berhasil mengumpulkan uang, mereka menumpang kapal barang yang menuju ke Singapura atau Penang selanjutnya ke Eropa, dan negeri Arab hanya pelabuhan transit bongkar-muat barang. 

Kapal itu tentu saja tidak layak bagi perjalanan haji. Demi niat suci, mereka mencoba bertahan di kapal barang meski menderita.

“Kamar tidur tidak tersedia, toilet tidak memadai, bahkan harus memasak sendiri kecuali hanya untuk awak kapal. Ironisnya perlakuan awak kapal kurang bersahabat dengan para jamaah atau penumpang. Bahkan tidak jarang awak kapal melakukan penipuan dengan berbagai cara untuk mendapatkan uang atau barang penumpang itu,” tulis Majid. 

Majid menambahkan, para calon jamaah haji kala itu tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah menerima keadaan. Tak ada tempat mengadu bagi mereka.

“Ketidaktahuan para calon jamaah haji atas bekal apa yang harus dibawa, antara lain masalah jumlah nilai uang yang dibutuhkan, keselamatan di perjalanan, membuat perjalanan haji itu menjadi suatu perjuangan antara hidup dan mati,” tulisnya. 

Saat mereka berjuang di atas kapal barang dengan segala penderitaannya demi mencapai tanah suci, jemaah haji lain yang hanya sampai ke Singapura justru telah menyandang gelar haji yakni “Haji Singapura”.

Topik
Jamaah Haji IndonesiaIbadah Haji Indonesiapemuda terseret ombak

Berita Lainnya

Berita

Terbaru