BMKG Karangkates Lakukan Pemantauan Hilal 2 Kali, Ini Perbedaan Metode Hisab dan Rukyat

May 12, 2021 18:49
Ilustrasi Pengamatan Hilal (ANTARA)
Ilustrasi Pengamatan Hilal (ANTARA)

MALANGTIMES – Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia menggelar sidang isbat penentuan awal 1 syawal 1442 Hijriyah atau jatuhnya Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriyah.

Sidang isbat penentuan 1 Syawal 1442 H hari ini disiarkan langsung oleh TVRI dan live streaming media sosial Kemenag. Perlu diketahui penentuan awal 1 Syawal, selain menggunakan metode rukyat hilal, juga bisa dilakukan dengan metode hisab (perhitungan).

Kedua cara ini ada pada Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 2 Tahun 2004 dan UU Nomor 3 Pasal 25 A. Dan untuk mengetahui lebih jelas perbedaan antara kedua metode tersebut, berikut ini penjelasannya.

Rukyatul Hilal

Rukyatul hilal diartikan sebagai aktivitas pengamatan keterlihatan hilal atau bulan sabit muda pada saat matahari terbenam sebagai tanda awal pergantian bulan pada kalender Hijriah.

Metode ini juga memiliki kriteria tersendiri, di mana jika tinggi hilal berada di bawah 2 atau 4 derajat, maka kemungkinan obyek yang dilihat bukan hilal, melainkan bintang, lampu kapal, atau obyek lainnya.

Lebih tepatnya jika hilal yang dilihat memiliki ketinggian di atas 2 derajat, jarak sudut matahari-bulan 3 derajat, dan umur minimal 8 jam saat ijtimak.

Metode Hisab

Metode hisab merupakan perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan sebagai tanda dimulainya awal bulan pada kalender Hijriah.

Metode hisab yang sudah berkembang di Indonesia memiliki beberapa referensi rujukan atau kitab dan sudah menggunakan metode kontemporer.

Dalam penentuan awal bulan Ramadan atau bulan Syawal dalam kalender Hijriah, Kemenag menggunakan data ephemeris antara hisab dan rukyat.

Keduanya merupakan metode atau sebuah cara dalam menentukan awal bulan yang tidak bisa dinafikkan karena saling mendukung satu sama lain.

Seperti yang telah diberitakan MalangTIMES, untuk pemantauan hilal, BMKG Stasiun Geofisika Karangkates Malang melakukan dua kali pengamatan hilal.

Pengamatan dilakukan Selasa (11/5/2021) kemarin, dan Rabu (12/5/2021) hari ini seperti yang sudah dijelaskan Kepala BMKG Karangkates Malang Ma’muri.

“Setelah dilihat data hisabnya, tanggal 11 itu tinggi hilal masih minus 4 artinya di bawah ufuk, sehingga bulan Ramadan digenapkan menjadi 30 hari. Nah, untuk tanggal 12 nya 30 Ramadan (hari ini), BMKG melakukan pengamatan sesuai tugas dan fungsinya yaitu pengecekan hilal apakah hasil hisab dan pengamatan sesuai," ungkap Ma’muri.

Topik
BMKG KarangkatesRukyatul HilalLarasitha HanivaKemenagsidang isbat

Berita Lainnya

Berita

Terbaru