Penentang Islam yang Akhirnya Jadi Pahlawan Islam (7)

Teman Akrab yang Paling Memusuhi Nabi, Dijuluki Ketua Pemuda Surga

May 11, 2021 15:55
Ilustrasi (kisahmuslim)
Ilustrasi (kisahmuslim)

INDONESIATIMES - Abu Sufyan bin al-Harits bin Abdul Muthalib merupakan putra dari paman Nabi Muhammad SAW, Harits bin Abdul Muthalib. Muhammad dan Abu Sufyan bahkan nyaris lahir bersamaan. Keduanya sebaya dan dibesarkan dalam keluarga yang sama.

Hubungan kekerabatan itu kian dekat setelah keduanya disusui oleh Halimah as-Sa’diyah. Keduanya teman bermain sejak kecil.

Karena hubungan yang demikian erat tersebut, banyak orang menyangka Abu Sufyanlah yang akan paling dahulu menyambut seruan Rasulullah SAW ketika pertama menyiarkan agama Islam.

 Namun kenyataannya tidak. Bahkan sebaliknya, justru ketika Rasulullah mulai menyampaikan dakwah di kalangan kerabatnya secara sembunyi-sembunyi, api kebencian menyala di hati Abu Sufyan. Kepercayaan dan kesetiaannya selama ini berubah menjadi permusuhan. Hubungan kasih sayang sebagai satu keluarga, satu saudara, sebaya dan sepermainan, pupus dan berubah jadi pertentangan.

Abu Sufyan adalah penunggang kuda yang terkenal. Dia seorang ahli strategi oerang. Dia juga penyair berimajinasi tinggi. Dengan keistimewaannya itu, ia tampil memusuhi dan memerangi Rasulullah yang saat itu mulai berdakwah secara terang-terangan.

Bila kaum Quraisy menyalakan api permusuhan melawan Rasulullah dan kaum Muslimin, maka Abu Sufyan pasti tampil di antara mereka. Lidahnya yang selalu menyemburkan syair terus menyerang Rasulullah dengan kata-kata kotor dan menyakitkan hati. Keadaan itu terus berlangsung selama dua puluh tahun.

Akhirnya, Allah melapangkan dada Abu Sufyan untuk menerima Islam sebagai agamanya. Lalu bersama putranya, Ja'far, ia berangkat menemui Rasulullah di Madinah.

Ketika bertemu Rasulullah, Abu Sufyan menjatuhkan diri di hadapan beliau. Namun Rasulullah memalingkan wajahnya, tidak mau menerima Abu Sufyan. Ia pun mendatangi Rasulullah dari arah lain. Tetapi Rasulullah tetap menghindar. Hal itu terjadi beberapa kali.

Setelah berlangsung beberapa lama, akhirnya Rasulullah menerima keislaman Abu Sufyan. Beliau bersabda, "Tiada dendam dan tiada penyesalan, wahai Abu Sufyan."

"Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepada saudara sepupumu ini cara berwudu dan salat," pinta Abu Sufyan.

Demikianlah, akhirnya Abu Sufyan memeluk agama Islam dan menjadi salah satu pelindung utama Rasulullah SAW.

Sejak keislamannya, Abu Sufyan menghabiskan waktunya dengan beribadah dan berjihad untuk menghapus bekas-bekas masa lalu dan mengejar ketertinggalannya.

Dalam peperangan-peperangan yang terjadi setelah Fathu Makkah (Penaklukan Makkah), ia selalu  ikut bersama Rasulullah. Ketika berlangsung Perang Hunain, Abu Sufyan tak mau ketinggalan dalam membela panji-panji Islam.

Kala itu Abu Sufyan tengah memegang erat kendali kuda Rasulullah. Ia ingin berjuang di jalan Allah dan syahid di hadapan beliau. Maka sambil memegang erat tali kekang dengan tangan kirinya, tangan kanannya memegang pedang seraya menebas tiap musuh yang mencoba mendekati dan menyerang Rasulullah SAW. Akhirnya kaum Muslimin meraih kemenangan dalam perang itu.

Ketika suasana agak tenang, Rasulullah memandang ke arah sekitarnya. Didapatinya seorang mukmin tengah memegang erat-erat tali kekang kudanya. Rupanya, sejak pertempuran berkecamuk, orang itu tetap berada di tempatnya dan tidak pernah meninggalkannya. Ia tetap berdiri melindungi Rasulullah.

Rasulullah menatapnya lekat-lekat, lalu berkata, "Siapakah ini? Oh, saudaraku Abu Sufyan bin Harits! Aku telah meridaimu dan Allah telah mengampuni dosa-dosamu."

Mendengar ucapan Rasulullah SAW itu, hati Abu Sufyan berbunga-bunga. Semangatnya kembali muncul. Ia pun kembali bergabung dalam barisan kaum Muslimin yang mengejar sisa-sisa pasukan musuh.

Sejak Perang Hunain itu, Abu Sufyan benar-benar merasakan nikmat Allah dan keridaan-Nya. Dia merasa mulia dan bahagia menjadi sahabat Rasulullah. Hari-harinya dipenuhi dengan ibadah, men-tadabburi Al-Quran dan mengamalkannya. Dia berpaling dari kemewahan dunia dan menghadap Allah dengan seluruh jiwa raganya.

Suatu ketika, Rasulullah melihatnya di dalam masjid. Beliau berkata kepada istrinya, Aisyah, "Wahai Aisyah, tahukah kamu siapakah orang itu?"

"Tidak, ya Rasulullah," jawab Aisyah.

"Dia anak pamanku, Abu Sufyan bin Harits. Perhatikanlah, dialah yang paling pertama masuk masjid dan paling terakhir keluar. Pandangannya tidak pernah beranjak dan tetap menunduk ke tempat sujud. Dialah ketua pemuda di surga."

Pada masa pemerintahan Umar bin Al-Khathab, Abu Sufyan merasa ajalnya sudah dekat. Lalu digalinya kuburan untuk dirinya sendiri. Dan tidak lebih dari tiga hari setelah itu, maut pun datang menjemputnya, seolah memang telah berjanji sebelumnya.

Sebelum ruhnya meninggalkan jasad, ia berpesan kepada keluarganya: "Sekali-kali janganlah kalian menangisiku. Demi Allah, aku tidak melakukan dosa sedikit pun sejak masuk Islam."

Khalifah Umar menjadi imam salat jenazahnya. Amirul Mukminin berjuluk Al-Faruq itu meneteskan air mata duka atas kepergian salah seorang sahabatnya tersebut.

Kehidupan Keluarga Abu Sufyan

Abu Sufyan memiliki beberapa istri. Ia menikah dengan Jumanah binti Abu Thalib. Dari Jumanah, Abu Sufyan memiliki dua orang putra yang bernama Abdullah dan Ja’far.  Ja’far inilah yang bersamanya saat ia memeluk Islam.

Abu Sufyan juga punya dua orang putri: Jumanah dan Hafshah. Hafshah ini dikenal juga dengan Hamidah (Ibnu Hajar: al-Ishabah, 8/63).

Abu Sufyan juga menikah dengan Ummu Amr binti al-Muqawwim bin Abdul Muthalib. Ummu Amr merupakan seorang wanita dari kalangan kerabatnya, Bani Hasyim. 

Dari Ummu Amr, Abu Sufyan dikaruniai seorang putri yang bernama Atikah. Atikah lalu menikah dengan Mas’ud bin Mut’ib ats-Tsaqafi. Dari pasangan ini, lahirlah seorang sahabat mulia yang bernama Abdullah bin Mas’ud RA. 

Kemudian Abu Sufyan juga menikahi beberapa orang budak wanita seperti Umayyah, Ummu Abu al-Hayyaj, dan Ummu Kultsum.

Topik
kisah islamiPuluhan pasangan menikahsejarah islam

Berita Lainnya

Berita

Terbaru