Mencengangkan, Ini Perbedaan Otak Orang Beriman dan yang Tak Beriman

May 11, 2021 12:12
Ilustrasi otak manusia (bolmora)
Ilustrasi otak manusia (bolmora)

MALANGTIMES - Otak merupakan bagian di kepala yang merupakan pengendali semua fungsi tubuh manusia. Otak mengendalikan seluruh pergerakan hingga pemikiran. Dan ternyata aktivitas seseorang mempunyai hubungan kuat dengan keimanan seseorang.

Lantas, adakah perbedaan otak orang beriman dengan otak orang yang ateis?. Penasaran bukan?. Mari kita simak ulasannya berikut ini dilansir dari Islam Populer, Islampos dan juga gridid.

Kepercayaan terhadap Tuhan bukan hanya permainan pikiran akan hal yang gaib. Seorang peneliti bernama Andrew Newberg, dari Thomas Jefferson University Hospital dan Medical College, mengemukakan perbedaan antara otak yang memiliki kepercayaan dengan Tuhan dan otak seseorang yang ateis. 

Penelitian menemukan perbedaan aktivitas otak dalam individu sebelum dan setelah berdoa serta termasuk juga perbedaan aktivitas otak orang ateis sebelum dan sesudah bermeditasi.

Perbedaan yang mencolok adalah pada bagian terpenting otak yakni Lobus Frontal. Lobus Frontal mewakili 1/3 dari seluruh otak. Dia adalah wilayah terakhir otak yang berkembang dan yang pertama mengalami penurunan aktivitas seiring bertambahnya usia.

Penelitian melakukan pemindahan otak imam Muslim dan otak orang atheis. Dalam pemindaian penelitian menggunakan Single Photon Emission Computed Tomograph (SPECT). Dengan SPECT memungkinkan untuk mengukur aliran darah.  Semakin banyak aliran darah yang dimiliki otak, semakin aktif juga area tersebut.

Dalam penantian juga didasarkan tes pencitraan nuklir. Proses tersebut mengunakan zat radioaktif dan kamera khusus untuk mengamati bagaimana organ tersebut bekerja serta membuat gambar 3 dimensi.

Hasilnya, seseorang yang baru saja melakukan doa hasil lobus frontal otak orang yang beriman menunjukan aktivitas yang meningkat peningkatan ini terjadi ketika seseorang berdoa yang merupakan bentuk percakapan dengan Tuhan yang mana menyerupai percakapan fisik.

Berbeda dengan otak orang ateis yang melakukan meditasi, dari hasil penelitian menunjukkan jika tingkat aktivitas pada otak orang ateis sama saja dan tidak terdapat peningkatan baik sesudah maupun sebelum bermeditasi. Penelitian tersebut menunjukkan, jika tidak percaya kepada Tuhan akan membuat meditasi tidak memberikan perbedaan pada otak baik sebelum dan sesudah. 

Allah SWT berfirman, "kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhan menjadi saksi atas segala sesuatu,"(QS  Fussilat :53).

Otak orang beriman dapat mencegah depresi? 

Banyak berdoa memang mempengaruhi suasana hati. Hal ini sejalan dengan penelitian yang membuktikan jika ada perbedaan otak orang beriman dengan otak orang yang tak beriman.

Dilansir dari gridid, seorang profesor psychiatry bernama Dr Myrna Weissman dari Columbia University mengemukakan, jika keyakinan dan suasana hati tercermin dalam otak melalui sebuah teknik baru. Dalam jurnal Jama Psychiatry Weissman mengemukakan bahwa studi baru menunjukkan ketebalan otak dan spiritualitas seseorang. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa agama dapat meningkatkan ketahanan otak terhadap depresi.

Dalam proses penelitian,  peneliti meminta 103 orang dewasa usia 18 hingga 54 tahun untuk mengungkapkan seberapa penting agama baginya. Mereka juga ditanya seberapa sering pergi rumah ibadah untuk berdoa selama 5 tahun terakhir. Selain itu otak para peserta tersebut juga di scan, hasilnya juga menunjukkan bahwa keyakinan terhadap agama juga berpengaruh terhadap ketebalan korteks. Hal tersebutlah yang dapat mencegah depresi seseorang.

 

Topik
andrew newbergateispetani kota batu ke jepang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru