Larangan Mudik Lebaran, Ini yang Dirasakan Pengelola Hotel di Kota Malang

May 11, 2021 05:08
Ilustrasi el Hotel Kartika Wijaya Kota Batu. (Foto: Ima/MalangTIMES) 
Ilustrasi el Hotel Kartika Wijaya Kota Batu. (Foto: Ima/MalangTIMES) 

MALANGTIMES - Larangan mudik bagi masyarakat pada tanggal 6 sampai 17 Mei 2021 membuat para pengelola hotel yang tergabung dalam PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) resah dan cemas. Terlebih lagi, para pengelola hotel sudah bersiap-siap menyambut libur lebaran. 

"Kalau kesiapan kami sudah siap, khususnya hotel-hotel yang masuk dalam PHRI siap untuk menyambut mudik lebaran. Tetapi dengan adanya kebijakan ini (larangan mudik, Red) kita jadi harus prihatin, berharap-harap tapi cemas," ungkap Ketua PHRI Kota Malang Agoes Basoeki kepada MalangTIMES beberapa waktu lalu. 

Pria yang akrab disapa Agoes ini menuturkan bahwa dengan adanya kebijakam larangan mudik, artinya banyak masyarakat yang sebelumnya telah berencana mudik atau pun berlibur ke Kota Malang harus berpikir dua kali. 

Karena di beberapa wilayah juga terdapat pos-pos penyekatan yang akan memperketat kendaraan atau pun masyarakat yang masuk ke wilayah Malang Raya khususnya di Kota Malang. 

"Karena yang jelas sudah banyak (wisatawan luar kota, red) yang membatalkan tinggal dihotel. Tapi hampir rata-rata kalau di Malang masih tanya, apakah boleh tidak, karena dengan adanya informasi larangan mudik itu menjadi referensi mereka, sehingga tidak jadi ke Malang," terangnya. 

Tampak kolam renang yang ada di el Hotel Kartika Wijaya Kota Batu.

Namun dikatakan Agoes bahwa berdasarkan laporan informasi dan jejak pendapat dengan para pengelola hotel di Kota Malang, untuk sementara waktu masih belum ada kasus wisatawan atau pun pemudik yang telah reservasi kamar kemudian membatalkan. 

"Tapi rata-rata laporan dari teman-teman sementara ini masih tanya saja, belum ada yang reservasi terus dibatalkan belum ada," ujar pria yang juga pengelola The Shalimar Boutiqe Hotel Malang. 

Lalu untuk penerapan protokol kesehatan, Agoes menyampaikan bahwa pihak pengelola hotel yang tergabung dalam PHRI sudah bersepakat dengan Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang. 

"Jadi kalau mekanismenya itu wewenangnya kepolisian, dishub, dan pemerintah kota ya. Kalau dari kami, kemarin sudah minta bersama dengan Disporapar Kota Malang telah melakukan pengecekan protokol kesehatan. Seperti cek suhu, kita cek pakai masker atau tidak, kalau nggak pakai kami siapkan, desinfektan juga kita siapkan di area hotel," jelasnya. 

Lanjut Agoes bahwa sebelum Lebaran 2021, tingkat okupansi pengunjung di hotel dan restoran paling banyak di Bulan April 2021. "Rata-rata sebelum lebaran ini, Bulan April merupakan bulan paling tinggi okupansinya. Rata-rata sekitar 20 sampai 30 persen kalau dibandingkan dengan Bulan Februari atau Bulan Maret. Tapi dengan adanya kebijakan mudik dilarang ini turun berkisar 10 sampai 15 persen," tandasnya. 

Sementara itu, pihaknya juga terus menjalin komunikasi dengan Wali Kota Malang Sutiaji terkait kebijakan larangan mudik yang membuat turunnya okupansi pengunjung di hotel maupun restoran. 

"Komunikasi tetap kita jalin. Pak wali juga sempat berpesan mulai kemarin beberapa hari ada peningkatan Covid-19. Dari situ beliau menginstruksikan kepada hotel-hotel untuk memperketat prokes. Akhirnya asosiasi PHRI turun mendampingi Disporapar ke hotel-hotel untuk melihat apakah prokes sudah betul atau belum," pungkasnya.

Topik
PHRI Kota MalangBerita Malanglarangan mudikmochamad budiono

Berita Lainnya

Berita

Terbaru