Begini Penanganan Anjal dan Gepeng oleh Dinsos-P3AP2KB Kota Malang

May 12, 2021 18:00
Kepala Bidang Rehabilitasi Perlindungan Jaminan Sosial Dinsos P3AP2KB Kota Malang Titik Kristiani. (Foto: Tubagus Achmad/MalangTIMES) 
Kepala Bidang Rehabilitasi Perlindungan Jaminan Sosial Dinsos P3AP2KB Kota Malang Titik Kristiani. (Foto: Tubagus Achmad/MalangTIMES) 

MALANGTIMES - Keberadaan anak jalanan (anjal), gelandangan dan pengemis (gepeng) semakin meresahkan masyarakat Kota Malang. Untuk menangani keberadaan anjal dan gepeng, Dinas Sosial, Perlindungan Perempuan dan Anak, Pemberdayaan Perempuan, Keluarga Berencana (Dinsos-P3AP2KB) Kota Malang memiliki beberapa cara yang sudah diatur sesuai aturan yang berlaku. 

"Kalau Dinsos-P3AP2KB kewenangannya memfasilitasi mereka untuk kita rujuk ke UPT-nya Dinas Sosial Provinsi. Atau ke Balai Besar Kemensos. Jadi itu sudah disediakan. Jadi kita hanya memfasilitasi, menjangkau dia kemudian kita kirim ke sana untuk mendapatkan pelatihan selama enam bulan," ungkap Kepala Bidang Rehabilitasi Perlindungan Jaminan Sosial Dinsos-P3AP2KB Kota Malang Titik Kristiani kepada MalangTIMES.com. 

Perempuan yang akrab disapa Titik ini melanjutkan, dalam rangka menangani dan memperbaiki mindset para anjal dan gepeng yang akan ditempatkan di UPT (unit pelaksana teknis) milik Provinsi Jawa Timur atau Balai Besar Kementerian Sosial RI di Temanggung, Jawa Tengah untuk diberikan pelatihan keterampilan. 

"Mereka itu akan dilatih dan pulangnya diberikan peralatan gratis semua dan uang saku. Hanya saja seringkali orang tuanya tidak mau melepaskan anak-anaknya. Perbandingannya dari 1 sampai 10 mungkin hanya satu yang mau berangkat. Banyak kesempatan yang ditawarkan oleh UPT dan balai besar itu, tetapi kita kesulitan untuk mendapatkan yang mau berangkat," jelasnya. 

Lanjut Titik, para anjal dan gepeng inginnya dilatih di Kota Malang. Sedangkan untuk pelatihan keterampilam juga membutuhkan tempat, peralatan dan anggaran yang mumpuni. "Sedangkan kalau di UPT itu kan total mereka. Enam bulan. Mulai dari sikap dan lain-lain. Paketnya komplit lah dan harus menginap di UPT itu tadi, di Balai Besar juga begitu," imbuhnya. 

Lebih lanjut, Titik menyebutkan bahwa beberapa waktu lalu juga telah dilakukan proses assessment dari UPT Tuna Daksa Pasuruan. "Jadi UPT Tuna Daksa Pasuruan keliling di beberapa tempat, nanti mereka yang lolos seleksi akan dibawa ke UPT Daksa yang ada di Pasuruan itu. Tapi belum tentu juga yang lolos seleksi itu mau berangkat," ujarnya. 

Lalu juga ada seleksi yang dilakukan oleh Balai Besar Kementerian Sosial RI yang terletak di Temanggung, Jawa Tengah yang dikhususkan untuk tuna grahita. Namun lagi-lagi terganjal oleh izin orang tua para anjal dan gepeng tersebut. 

"Kapan itu juga ada seleksi dari Balai Besar Kartini di Temanggung itu untuk Tuna Grahita. Mereka butuh 50 orang sudah lolos 7. Ternyata mengundurkan diri tinggal 3. Karena orang tuanya tidak mengizinkan. Sampai dilakukan seleksi lagi. Ini hasilnya belum. Jadi sulit cari orang yang mengizinkan anaknya untuk mengikuti pelatihan," tandasnya. 

Sementara itu, berdasarkan data yang dimiliki oleh Dinsos-P3AP2KB Kota Malang, anjal dan gepeng yang ada di jalanan Kota Malang berasa dari dalam Kota Malang dan luar Kota Malang. 

"Banyak juga dari Kota Malang. Tapi juga sebagian dari luar Kota Malang. Karena kan di kota itu lebih mudah mencari uang dari pada di Kabupaten seperti itu. Kalau anjal masih banyak dari dalam Kota Malang. Tapi kalau gepeng banyak yang dari luar Kota Malang," terangnya. 

Berdasarkan data yang dihimpun oleh MalangTIMES.com, pada tahun 2020 terdapat sebanyak 319 PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) di Kota Malang. 

Titik pun merinci data PMKS tersebut yakni ABH (Anak Berhadapan dengan Hukum) satu orang, anak jalanan 63 orang, anak jalanan/punk 20 orang, anak terlantar 2 orang, balita terlantar 1 orang, disabilitas 2 orang, gelandangan 8 orang, gelandangan ODGJ 2 orang, dan lansia terlantar 6 orang. 

Kemudian ODGJ (Orang Dalam Gangguan Jiwa) 60 orang, ODGJ terlantar 1 orang, orang terlantar 10 orang, pemulung 14 orang, pengamen 70 orang, pengemis 49 orang dan WTS (Wanita Tuna Susila) 10 orang. 

"Untuk anjal itu kita juga punya kegiatan pelatihan musik. Karena mereka lebih senangnya ke arah musik. Itu sudah setiap tahun sudah kita lakukan. Jadi pesertanya berganti-ganti," pungkasnya.

Topik
Dinsos P3AP2KB Kota MalangAnak Jalananpenanganan anjal dan gepengdata anjal dan gepeng kota malangirwasum

Berita Lainnya

Berita

Terbaru