Batik Ecoprint Kota Batu Mulai Digemari Peminat Lokal hingga Internasional

May 12, 2021 04:09
Acara pameran barang-barang daur ulang yang diselenggarakan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu di Batos, Selasa (6/4/2021) lalu. (Foto: Mariano Gale/Jatim Times)
Acara pameran barang-barang daur ulang yang diselenggarakan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu di Batos, Selasa (6/4/2021) lalu. (Foto: Mariano Gale/Jatim Times)

BATUTIMES - Batik ecoprint Kota Batu mulai banyak peminat lokal hingga internasional. Misalnya, batik Ecoprint Keday Kado yang berada di Jalan Patimura 5 No 31, Kelurahan Temas, Kota Batu. 

Pemiliki Keday Kado, Sugeng Pribadi atau biasa dipanggil Klemin (49) mulai memperkenalkan teknik batik ecoprint di Kota Batu pada tahun 2016, dan berkembang hingga saat ini.

Ecoprint sendiri merupakan teknik pewarnaan alami dengan cara menempel bentuk asli tumbuhan seperti daun atau bunga ke permukaan kain yang diinginkan.

Usaha memproduksi batik ecoprint itu, bermula saat Klemin membangun tempat workshop pegiat atau komunitas lingkungan serta seniman pada tahun 2012. 

Berangkat dari pemateri, Klemin sering diundang sebagai narasumber pembahasan lingkungan maupun pelatihan teknik membatik.

“Awalnya itu, saya membuat tempat untuk forum ruang publik yang bernama Keday Kado, dan bergerak di bidang daur ulang. Seperti, omplong bekas, koran, logam, kertas, pelastik, organik, dan semua barang bekas kita daur ulang,” ucapnya, Rabu (12/5/2021).

Disinggung pemakaian nama Keday Kado, Klemin menyampaikan, agar orang yang singgah diharapkan pulang membawa kado. 

"Kado dalam bentuk pengetahuan kreatif dan ilmu setelah mengikuti rangkaian kegiatan di Keday Kado," ujarnya.

Dari situlah, tempat Keday Kado-nya semakin banyak pengunjung dari berbagai komunitas hingga ke fashion kain batik. 

Dengan pengetahuan yang dimilikinya, Klemin pun merambah ke batik ecoprint. 

"Awalnya memang saya hanya sebagai pemateri saja yang memiliki tempat ruang publik, dan bukan tempat produksi batik ecoprint. Setelah itu, saya berkeinginan memproduksi ecoprint. Karena, ecoprint ini masih bersinambungan dengan daur ulang. Ya dengan menggunakan bahan-bahan organik. Seperti daun yang telah mengering, bahan pewarna kulit pohon, akar, daun, dan kulit buah," terangnya.

Dari hasil karya batik ecoprint miliknya itu, Klemin memproduksi berbagai busana, tas dari bahan sak semen, dompet, sewek, jilbab, serta aksesoris-aksesoris lainnya. Untuk harga busana kimono ecoprint berbahan kain katun dibanderol Rp 600 ribu. Sedangkan yang berbahan kain sutra Rp 1 juta hingga 2 juta.

Kemudian, sewek ecoprint berbahan kain katun Rp 450 ribu. Sedangkan berbahan kain sutra Rp 1,5 juta. Untuk tas ecoprint berbahan sak semen Rp 75 ribu hingga Rp 350 ribu. Jilbab ecoprint Rp 90 ribu, dan dompet ecoprint Rp 25 ribu hingga 50 ribu.

"Peminat di Batu sudah mulai banyak dan mulai paham batik ecoprint. Dilain sisi, sering ada workshop masyarakat terkait pemahaman ecoprint. Selain peminat di Kota Batu, ada juga peminta dari luar kota hingga mancanegara. Seperti Depok, Jakarta, Kalimantan, NTB, Prancis, Australia, Jerman, hingga Hongkong," ujarnya.

Hasil karyanya pun banyak diminati, hingga penghasilannya perbulan mencapai Rp 5 juta. Namun sayang, diawal tahun 2020, seluruh dunia menghadapi pandemi Covid-19 yang berakibat lumpuhnya perekonomian di berbagai sektor.

"Setelah ada pandemi ini, tentu pendapatan merosot jauh. Dalam sebulan saja mendapat Rp 1 juta bahkan tidak ada sama sekali. Namun, kita harus berjuang untuk mengahadapi pandemi ini," ujarnya.

Klemin juga berharap kepada masyarakat khususnya di Kota Batu, agar lebih memahami teknik batik ecoprint. Sebab, teknik batik ecoprint sangat ramah dan peduli lingkungan.

"Saya berharap agar orang lebih banyak mengenal tentang  proses pembuatan ecoprint. Dengan itu, kita bisa menghargai karya-karya ecoprint," harapnya.

Topik
batik ecoprintkeday kadoKleminkarya batik ecoprintpasar internasional batik ecoprintcara pembuatan batik ecoprint

Berita Lainnya

Berita

Terbaru