Kakak Beradik Pengusaha Sukses Malang Raya

Berawal dari Lorong Sempit Sekolah, Kini Rajai Bisnis Percetakan

Nov 24, 2015 13:05
Rachmad Santoso (Kiri), Muhammad Natsir atau Anton Jade (Kanan), Kakak beradik pemilik sekaligus pendiri CV. Jade Indopratama, perusahaan percetakan terbesar di Malang Raya. (Foto : Hafiz Agassi/ Malangtimes)
Rachmad Santoso (Kiri), Muhammad Natsir atau Anton Jade (Kanan), Kakak beradik pemilik sekaligus pendiri CV. Jade Indopratama, perusahaan percetakan terbesar di Malang Raya. (Foto : Hafiz Agassi/ Malangtimes)

MALANGTIMES – Tak banyak yang mengetahui kisah hidup kaka beradik, Rachmad Santoso (45) dan Muhammad Natsir (43), pemilik sekaligus pendiri CV. Jade Indopratama, perusahaan percetakan terbesar di Malang Raya. Berawal dari seorang sales kertas dan membuka usaha sablon kaos skala rumahan, Rachmad dan Anton berhasil menjadi pengusaha sukses di bidang percetakan, advertising dan event organizer.

Rachmad Santoso, Direktur CV. Jadeindopratama menceritakan di awal karirnya ia sempat menjadi seorang sales kertas di salah satu pabrik di Kota Malang. Saat itu tahun 1989 dan ia masih duduk di bangku SMAN 1 Malang.

Baca Juga : Mengenal Jenderal Mayor Imam Soedjai, Tokoh Perjuangan Malang-Lumajang yang Belum Banyak Dikenal

Karena tingginya permintaan dari konsumen, pabrik pun mulai kewalahan. Hal ini membuat Rachmad harus ikut campur tangan menangani bagian sablon.

“Kondisi saat itu mengharuskan saya untuk ikut menangani sablon. Orderan paling banyak saat itu untuk kalender tahunan. Dari situ juga saya mulai belajar teknik sablon juga memperoleh banyak relasi,” ungkap arek Malang kelahiran 28 April 1970 ini saat ditemu MALANGTIMES, Selasa (23/11/2015)

Tak berselang lama, di tahun 1989, juga bersamaan dengan masuk ke perguruan tinggi. Ia bersama sang adik punya ide untuk membuat usaha percetakan sendiri. Ketika itu, usaha percetakan melayani pembuatan kalender dan kaos sablon.

Karena belum memiliki alat sendiri, ia lantas mempercayakan proses penyablonan kepada tukang sablon langganan yang berada di dekat rumahnya.

“Tempatnya masih di lorong sekolah, kira-kira ukuran 3x8 meter.Kebetulan rumah kami saat itu satu komplek dengan sekolah Yayasan Pendidikan Islam. Waktu itu pasar yang kami bidik yakni kalangan mahasiswa. Ya, melayanai pembuatan kalender, juga garmen (sablon kaos),” lanjut lulusan Teknik Elektro Universitas Brawijaya ini.

Natsir atau yang biasa disapa Anton Jade menambahkan, seiring dengan semakin tingginya permintaan dari konsumen, di tahun 1991, mereka memutuskan untuk lebih serius berbisnis. Maka diboyonglah tukang sablon langganannya (untuk dipekerjakan) dan lantas mendirikan percetakan dengan bendera Jade Indopratama.

Rumah dinas orangtuanya yang satu komplek dengan gedung sekolah Yayasan Pendidikan Islam (YPI) di Jalan Raden Tumenggung Suryo, kemudian disulap menjadi tempat usaha.

“Tahun 1991, membuat tempat sablon sendiri, Tukang sablon langganan kita kami pekerjakan di tempat kami. Karyawan pertama kami ya dua orang tersebut,” kata anton

Lebih lanjut Rachmad menjelaskan, empat tahun berselang, yakni tahun 1995, beberapa ruang di gedung sekolah tersebut ia sewa sebagai perluasan tempat usaha. Tak berselang lama, masuk era millennium 2000, jika sebelumnya masih menggunakan tenaga manual, kini ia mampu membeli mesin cetak baru bahkan sebagian gedung sekolah tersebut ia beli untuk dijadikan kantor dari usahanya.

“Sebagian gedung sekolah tersebut tahun 1995 kami sewa. Awal tahun 2000an Alhamdulillah bisa kami beli untuk dan dijadikan kantor Jade Indopratama, bersamaan juga dengan pembelian mesin cetak baru,” terangnya.

Baca Juga : Berawal dari Iseng Bagikan Susu hingga Menjadi Tempat Belajar Anak Jalanan

Persaingan ketat dunia percetakan di era tersebut, membuat Rachmad dan Anton harus melakukan inovasi dan menambah sumberdaya alat yang baru. Dua bersaudara ini. Tepat di tahun 2004, Jade Indopratama merambah dunia digital printing dan bisnis papan reklame iklan dengan bendera Lintang Khatulistiwa.

“Seiring berjalannya waktu kami mulai merambah dunia digital printing dan reklame iklan. Kami memakai Nama Lintang Khatulistiwa saat itu,“ kata pria dua orang anak ini.

Anton menambahkan, Hingga saat ini kurang lebih ada 100 titik papan reklame di seluruh Malang Raya yang menjadi hak Jade Indopratama. Di sisi lain, Jade indopratama juga melayani cetak outset dan outdour placement.

Seiring berjalannya waktu, tahun 2008 membentuk anak perusahaan bernama indigo yang bergerak dibidang digital printing. Dan terakhir di tahun 2014, ia merambah dunia showbiz dan entertainment dengan membentuk anak perusahaan baru bernama J-entertainment.

“Saat itu Jade Indopratama punya dua divisi untuk cetak outset dan outdoor placement. Karena tidak selamanya semua tender di bebankan pada divisi tersebut, maka kami putuskan untuk membentuk anak perusahaan bernama Indigo yang khusus melayani bidang digital printing tahun 2008. Terakhir kami juga membuat anak perusahaan baru di tahun 2014, Event Organizer khusus untuk dunia showbiz dan entertainment dengan bendera J- Entertainment,” tutur Anton yang merupakan lulusan D3 Akutansi Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya ini.
 
Kini, mereka membawahi 90 orang karyawan di seluruh anak perusahaannya,dari hanya 2 orang karyawan di tahun 1989. Kedepan tahun 2016, mereka rencana membuka cabang baru di dalam maupun luar Malang Raya.

Terakhir, Rachmad Santoso berharap ada lebih banyak lagi jiwa-jiwa pemuda kreatif dan handal yang mengikuti jejaknya, untuk menjadi wirausahawan. Karena baginya dunia wiraswasta penuh dengan tantangan dan peluang yang menjanjikan.

"Wirausahawan itu mampu menciptakan lapangan usaha baru dan tidak bergantung pada orang lain," tutupnya.. (*)

Topik
CV Jade IndopratamaRachmad SantosoMuhammad Natsir

Berita Lainnya

Berita

Terbaru